Di tengah kehancuran akibat agresi Israel di Jalur Gaza, sekelompok relawan berupaya menyelamatkan dan memulihkan Masjid Agung Al-Omari beserta perpustakaan bersejarahnya. Masjid Al-Omari merupakan salah satu warisan budaya dan religius terpenting di Palestina.
Bekerja di antara puing dan debu di kawasan Kota Tua, tim ini menjalankan misi yang kompleks. Mereka memperbaiki struktur masjid yang rusak parah sekaligus melindungi manuskrip kuno dan elemen arsitektur yang tersisa. Masjid yang terletak di kawasan Al-Daraj ini merupakan salah satu yang terbesar di Gaza, dengan kapasitas lebih dari 3.000 jemaah.
Masjid Al-Omari merupakan masjid terbesar ketiga di Palestina setelah Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ahmad Pasha al-Jazzar. Secara arsitektural, bangunan ini mencerminkan kekayaan warisan Islam. Bangunan masjid ini terdiri dari pilar marmer, lengkungan melingkar, kubah tinggi, serta halaman luas berbahan batu pasir Karak. Menaranya bergaya Mamluk dengan bentuk bertingkat yang khas.
Mengambil nama dari Umar ibn al-Khattab, situs ini memiliki sejarah panjang. Awalnya merupakan kuil pagan, kemudian berubah menjadi gereja Bizantium pada abad ke-5, sebelum menjadi masjid setelah penaklukan Islam pada abad ke-7. Sepanjang era Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Mamluk, hingga Utsmani, bangunan ini terus dipugar dan diperluas–menjadikannya bagian penting dari identitas sejarah Gaza.
Kini, para relawan memperingatkan bahwa ancaman tidak hanya pada kerusakan fisik, tetapi juga pada potensi hilangnya warisan budaya, terutama koleksi perpustakaan bersejarah. Upaya restorasi ini tidak sekadar membangun kembali bangunan, tetapi juga menjaga memori kolektif dan identitas Gaza di tengah kehancuran yang terus berlangsung.
Sumber: MEMO








