Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina mengumumkan pada Senin (02/03) bahwa akan ada penangguhan kelas tatap muka di semua sekolah dan universitas di Tepi Barat, baik negeri maupun swasta. Penangguhan ini berlaku untuk semua, termasuk sekolah dan taman kanak-kanak di bawah pengelolaan UNRWA. Keputusan tersebut diambil di tengah eskalasi militer yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat di satu sisi dan Iran di sisi lain.
Kementerian mengklarifikasi bahwa penangguhan kehadiran tatap muka awalnya hanya berlaku untuk Ahad dan Senin. Namun, kini akan ada perpanjangan hingga akhir pekan. Selama periode ini, pendidikan akan berlanjut secara daring untuk memastikan keselamatan siswa dan staf sekaligus menjaga kesinambungan proses pendidikan dan akademik.
Hal ini terjadi ketika otoritas Israel memberlakukan penutupan menyeluruh di seluruh Tepi Barat sejak awal eskalasi. Tindakan ini semakin membatasi pergerakan warga Palestina.
Pada Januari lalu, UNRWA melaporkan bahwa lebih dari 12.000 anak-anak Palestina di Tepi Barat telah mengungsi secara paksa. Mereka terpaksa mengungsi akibat operasi militer Israel yang berkelanjutan di wilayah utara selama hampir setahun.
Sejak Sabtu lalu, pesawat tempur Israel dan AS telah melakukan serangan militer terhadap Iran. Serangan tersebut mengakibatkan ratusan kematian, sebagian besar warga sipil. Di samping itu, serangan telah menyebabkan kerusakan material yang signifikan.
Akibat konfrontasi militer antara Israel dan Iran yang meningkat, Israel memberlakukan pembatasan besar-besaran di seluruh Tepi Barat. Pasukan pendudukan Israel sejak Ahad (01/03) terus memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan warga Palestina di sejumlah Kegubernuran Tepi Barat untuk hari kedua berturut-turut. Israel melakukan penutupan terhadap pos pemeriksaan militer dan pintu masuk ke kota-kota.
Sumber: Palinfo








