Warga Palestina di berbagai wilayah memperingati Hari Tawanan Palestina pada 17 April melalui aksi solidaritas, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kondisi para tawanan di penjara Israel.
Di Bethlehem, warga, keluarga tawanan, pelajar, dan perwakilan faksi berkumpul di Manger Square, mengangkat foto tawanan dan spanduk yang mengecam pelanggaran di dalam penjara. Aksi serupa berlangsung di Tubas, Nablus, Ramallah, dan Qalqilya dengan partisipasi luas dari masyarakat sipil dan organisasi nasional.
Di Ramallah, aksi massa berlangsung dari Al-Manara Square menyusuri jalan utama kota. Peserta menuntut pembatalan undang-undang hukuman mati bagi tawanan Palestina yang parlemen Israel sahkan pada 30 Maret. Di Tubas, kegiatan yang berlangsung berupa pertunjukan teater yang menggambarkan kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi di penjara.
Selain di Tepi Barat, solidaritas juga terlihat di Gaza. Puluhan warga menggelar aksi di kamp al-Nuseirat. Berbagai faksi, keluarga tawanan, dan mantan tawanan mengikuti aksi ini, dengan tuntutan penghentian penyiksaan, pengabaian medis, serta pembatalan undang-undang eksekusi. Koordinator aksi, Nahed al-Qirnawi, menyebut kegiatan ini bertujuan menyoroti penderitaan tawanan di tengah eskalasi pelanggaran.
Di sisi lain, juru bicara pejuang Palestina, Hazem Qassem, menyebut para tawanan menghadapi “fase paling berbahaya”, dengan meningkatnya penyiksaan, kelaparan, dan kekerasan di dalam penjara.
Israel kini menahan lebih dari 9.600 warga Palestina, termasuk sekitar 350 anak-anak dan 73 perempuan. Oleh sebab itu, aksi-aksi ini mencerminkan solidaritas yang meluas sekaligus seruan mendesak bagi tekanan internasional untuk menghentikan pelanggaran.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)