Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa “serangan yang sedang berlangsung di Jalur Gaza telah menjadi bagian yang mengerikan dari realitas keseharian anak-anak”. Laporan tersebut mengacu pada genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina selama 23 bulan terakhir.
Dalam pernyataan pers pada Selasa (26/08), Direktur Regional Advokasi dan Komunikasi UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara menyatakan bahwa selain mengakibatkan kematian dan cedera, pengeboman Israel yang sedang berlangsung di Gaza juga menyebabkan sekitar 1,1 juta anak mengalami trauma psikologis dan emosional yang tak tertahankan, yang berdampak parah pada perkembangan mereka.
“Selama periode ini, pelanggaran berat telah merajalela. Anak-anak kehilangan akses terhadap bantuan, menderita kelaparan, terpaksa mengungsi, ditambah kehancuran tempat tinggal, rumah sakit, sekolah, dan jaringan saluran air. Pelanggaran ini telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi anak-anak,” ujarnya.
“Apa yang kita saksikan di Gaza bukan sekadar genosida terhadap anak-anak, melainkan penghancuran kehidupan itu sendiri,” lanjutnya. Ia menjelaskan bahwa lebih dari setengah juta orang di Gaza terjebak dalam cengkeraman kelaparan dan kematian yang sebenarnya bisa dihindari.
Pejabat UNICEF tersebut menanggapi gambar-gambar yang memperlihatkan anak-anak dan bayi yang meninggal karena kelaparan dan penyakit akibat blokade sistematis Israel. Ia menyatakan bahwa peristiwa ini sebenarnya dapat dicegah namun sama sekali tidak ada tindakan tegas yang diambil untuk mengatasinya.
Ia menekankan bahwa malnutrisi di kalangan anak-anak meningkat dengan laju yang sangat tinggi. “Pada Juli saja, lebih dari 12.000 anak terdokumentasi menderita malnutrisi akut. Sementara itu, satu dari empat anak menderita malnutrisi akut berat–bentuk paling mematikan dan menimbulkan dampak menghancurkan, baik jangka pendek maupun panjang.”
Menurutnya, UNICEF berupaya mempercepat kegiatannya di wilayah tersebut, tetapi pengiriman makanan, kebutuhan pokok, dan bantuan medis terhambat oleh blokade Israel.
Sumber: Palinfo







