• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Solidaritas Tak Terlupakan: Dukungan Indonesia untuk Palestina dalam Konferensi Asia Afrika 1955

by Adara Relief International
Mei 23, 2023
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Solidaritas Tak Terlupakan: Dukungan Indonesia untuk Palestina dalam Konferensi Asia Afrika 1955
291
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, konstelasi antar kekuatan dunia seakan tidak pernah berakhir. Pasca-Perang Dunia Kedua, muncul dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dua negara adidaya ini sama-sama ingin menyebarkan pahamnya yaitu kapitalis-liberalis yang dianut oleh Amerika Serikat dan sosialis-komunis yang dianut oleh Uni Soviet. Menyadari hal ini, beberapa negara di Asia-Afrika yang notabene merupakan bekas negara-negara terjajah, mengkhawatirkan dampak dari persaingan kedua paham tersebut.

Sebagian dari negara-negara di Asia dan Afrika adalah negara yang baru saja merdeka, seperti Indonesia, Filipina, Myanmar, Pakistan, India, Sri Lanka, dan Tiongkok. Namun, ada beberapa negara di Asia dan Afrika yang memang belum merdeka dan masih harus berjuang melawan penjajahan atas tanah air mereka. Salah satunya ialah Palestina. Dalam sidang Dewan Perwakilan Rakyat Sementara pada 23 Agustus 1953, Ali Sastroamidjojo mengusulkan pentingnya kerja sama antara negara-negara Asia dan Afrika dalam menciptakan perdamaian dunia. Dalam hal ini masalah Palestina juga dibicarakan pada Konferensi Asia Afrika serta dalam Konferensi Kolombo dan Konferensi Bogor yang diadakan sebelumnya.

Didahului dengan pertemuan di Kolombo pada tahun 1954 para perwakilan dari negara di Asia-Afrika menghasilkan gagasan untuk diadakannya Konferensi Bangsa-bangsa Asia Afrika. Selain menghasilkan gagasan untuk diadakannya KAA, pada konferensi ini, terdapat dua negara, yakni Indonesia dan Pakistan, yang mengangkat isu Palestina karena masalah tersebut memiliki keterkaitan dengan kolonialisme yang menjadi perhatian negara-negara Asia-Afrika yang berkumpul di Kolombo saat itu. Kedua negara tersebut menunjukkan sikap yang tegas terhadap agresi yang dilakukan oleh Israel di wilayah Palestina.

Hal lain yang diperoleh dari konferensi Kolombo yaitu terbentuknya satu rasa simpati terhadap penderitaan rakyat Palestina yang kemudian diikuti dengan upaya mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turut serta dalam penyelesaian konflik dan mengirim kembali para pengungsi Palestina.

Pertemuan kemudian berlanjut di Bogor pada Desember 1954. Dalam pertemuan ini para delegasi memutuskan bahwa pertemuan akan diadakan di Indonesia pada bulan April 1955. Pertemuan tersebut, yang kini dikenal sebagai Konferensi Asia Afrika (KAA), disponsori oleh lima negara: Burma (Myanmar), India, Indonesia, Pakistan, dan Ceylon (Sri Lanka). Pertemuan ini melibatkan 24 negara lainnya dari Asia dan Afrika yang berlangsung selama sepekan (18–24 April 1955).

Setelah membentuk sekretariat bersama di Bogor, pemerintah Indonesia membentuk panitia interdepartemental di Bandung. Dibentuk pula panitia lokal pada 3 Januari 1955 yang diketuai oleh Sanusi Hardjadinata, Gubernur Jawa Barat. Panitia lokal bertugas mempersiapkan dan melayani hal-hal yang berkaitan dengan akomodasi, logistik, transportasi, kesehatan, komunikasi, keamanan, hiburan, protokol, penerangan, dan lain-lain. Pada 16 April 1955, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo bersama Menteri Luar Negeri Indonesia, Sunario Sastrowardoyo, menyambut kedatangan para delegasi, antara lain PM Republik Rakyat Tiongkok, Chou En Lai, PM Mesir Gamal Abdul Nasser, PM India Pandit Jawaharlal Nehru, PM Birma, U Nu, dan PM Sri Lanka, Sir John Kotelawala.

Sementara itu, meski Palestina tidak memiliki perwakilan resmi, wakil Palestina tetap hadir sebagai peninjau. Ia adalah Grand Mufti Al-Quds Sayyid Amin al-Husaini, yang sosoknya sudah dikenal oleh kebanyakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Status sebagai peninjau ini diberikan kepada negara-negara yang belum merdeka, termasuk Maroko dan Tunisia.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Delegasi Peninjau dari Palestina, Mufti Amin al-Husaini berdiskusi dengan Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Chou En Lai pada KAA di Gedung Merdeka, Bandung, 19 April 1955 (ANRI)

Pada Senin, 18 April 1955 sekitar pukul 08.30 Waktu Indonesia Barat para delegasi dari berbagai negara berjalan meninggalkan Hotel Homann dan Hotel Priangan secara berkelompok menuju Gedung Merdeka untuk menghadiri pembukaan Konferensi Asia Afrika. Perjalanan para delegasi dari Hotel Homann dan Hotel Priangan ini kemudian dikenal dengan nama langkah bersejarah “Historical Walk”. Presiden Soekarno selanjutnya membuka penyelenggaraan KAA di Gedung Merdeka, Bandung. Dalam pembukaan sidang KAA, Presiden Soekarno berpidato dan mengajak para delegasi untuk membangun Asia dan Afrika baru yang bebas, damai, merdeka, dan tidak terikat pada blok mana pun.

Presiden Soekarno juga menyoroti prinsip-prinsip yang menjadi dasar solidaritas negara-negara Asia-Afrika. Ia mengingatkan bahwa Asia-Afrika bersatu dalam penolakan terhadap kolonialisme, rasisme, dan tekad untuk membangun perdamaian dunia. Soekarno juga menegaskan bahwa solidaritas Asia-Afrika terwujud karena adanya “garis kehidupan imperialisme,” yang membentang dari Selat Gibraltar, Laut Mediterania, Terusan Suez, hingga Samudra Hindia.

Presiden Soekarno (kiri) didampingi Wapres Mohammad Hatta, memberikan hormat saat tiba di Jalan Asia Afrika yang menjadi Historical Walk dalam penyelenggaraan KAA, Bandung, 1955. (Dok. Museum KAA)

Pidatonya tersebut yang berjudul “Let a New Asia Africa be Born” Soekarno mengimbau segenap negara di Asia-Afrika jangan terpedaya oleh lantunan kalimat “kolonialisme sudah mati.” Dalam realitanya, kolonialisme hanya berubah bentuknya. Neokolonialisme itu nyatanya masih hadir di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, Tunisia, dan Maroko. Isu Palestina sebagai perjuangan anti-kolonialisme juga memiliki kesamaan dengan perjuangan kemerdekaan Aljazair, Maroko, dan Tunisia. Pada saat itu, negara-negara Arab secara tegas mengutuk zionisme internasional. Mereka mengungkapkan keluhan terkait ketidakpatuhan Israel terhadap resolusi PBB mengenai masalah Palestina. Negara-negara Arab juga menyatakan bahwa zionisme adalah bentuk imperialisme yang kejam.

Pada 19 April 1955, para delegasi KAA kembali bersidang dengan agenda melanjutkan pembacaan pidato para ketua delegasi. Delegasi Yordania mengingatkan para peserta konferensi untuk menjaga perdamaian dunia, khususnya Palestina, delegasi Pakistan berbicara tentang peningkatan hubungan ekonomi, politik, dan budaya, delegasi Filipina berbicara tentang kebebasan berpolitik, delegasi Syiria berbicara tentang meningkatkan perdamaian dan ketegangan dunia akibat Perang Dingin, dan Delegasi Republik Rakyat Tiongkok tentang keinginannya untuk melaksanakan prinsip-prinsip Peaceful Co-Existence dalam hubungan internasional.

Selanjutnya dalam sidang pleno terbentuklah Komite Politik yang diketuai oleh PM Ali Sastroamidjojo, Komite Ekonomi diketuai oleh Prof. Ir. Rosseno, Komite Kebudayaan diketuai oleh Mohammad Yamin. Isu Palestina termasuk ke dalam pembahasan Komite Politik.

Para delegasi mengadakan Rapat Paripurna Bagian Perekonomian pada KAA di Gedung Merdeka, Bandung, 20 April 1955. (ANRI)

Setelah menyelesaikan sidang komisi selama satu minggu, diadakan Sidang Umum KAA yang terakhir pada 24 April 1955, yang ditutup dengan pembacaan rumusan pernyataan dari tiap-tiap komite oleh Roeslan Abdulgani selaku Sekretaris Jenderal Konferensi Asia Afrika. Rumusan tersebut dituangkan dalam satu komunike akhir yaitu cara-cara bagaimana negara-negara Asia Afrika dapat bekerja sama lebih erat di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Hasil Konferensi Asia Afrika yang paling monumental adalah Declaration on the Promotion of World Peace and Cooperation atau yang dikenal dengan sebutan Dasasila Bandung.

Dalam Dasasila Bandung terdapat poin dukungan terhadap isu Palestina. Bahwasanya penjajahan Israel atas Palestina merupakan salah satu ancaman dari ketegangan dunia dan mendesak agar para pengungsi Arab segera dikembalikan ke tanah mereka di Palestina. Dalam hal ini KAA menyatakan dukungannya atas hak bangsa-bangsa Arab di Palestina dan menyerukan dilaksanakannya segala resolusi PBB tentang Palestina dan dicapainya penyelesaian secara damai untuk persoalan Palestina.

Hingga sekarang, setiap tanggal 18 April tiap tahunnya Indonesia selalu memperingati KAA dengan melakukan Historical Walk oleh para pejabat negara. Semangat Bandung yang dituangkan dalam KAA 1955 dalam menjaga solidaritas perjuangan Palestina juga tetap terjaga hingga kini. Lima tahun lalu, tepatnya pada 13 Oktober 2018, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama dengan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad Al-Maliki, serta Walikota Bandung Oded M. Danial meresmikan Palestine Walk: Road to Freedom, yaitu taman sepanjang 100 meter di Jalan Alun Timur Bandung

Pada peresmian acara ini Retno Marsudi berpesan, “Palestine Walk menggambarkan dukungan dan komitmen masyarakat Indonesia. khususnya Kota Bandung terhadap perjuangan rakyat Palestina dan sebagai pengingat agar semangat perjuangan tersebut tetap beresonansi di hati kita. Dukungan bangsa Indonesia tidak akan pernah luntur hingga rakyat Palestina memperoleh kemerdekaannya. Palestina selalu ada dalam napas diplomasi Indonesia”.

Rangkaian acara Solidarity Week for Palestine (dari Indonesia untuk Palestina) kemudian diadakan di Jakarta pada hari berikutnya (14/10/2018) berupa walk for peace and humanity bersamaan dengan car free day di Wisma Mandiri Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Menteri Maliki juga memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia, Salemba. Pembuatan Palestine Walk di Bandung memiliki keterkaitan peran Indonesia dalam kemerdekaan Palestina di Konferensi Asia Afrika (KAA).

 

Yunda Kania Alfiani

Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan.

Referensi

Abdulgani, Roeslan. (1987). Indonesia Menatap Masa Depan. Jakarta : Merdeka Saran

Usaha.

Kusmayadi, Yadi. (2018). Pengaruh Konferensi Asia Afrika (KAA) Tahun 1955 Terhadap Kemerdekaan Negara-Negara di Benua Afrika”. Jurnal Agastya, 8(1): 19.

Poesponegoro, Marwati Djoened. Nugroho Notosusanto, dkk. (2008). Sejarah Nasional Jilid VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik. Jakarta: Balai Pustaka.

Ricklefs, M. C. (2005). Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004. Penerbit Serambi.

65 Tahun Konferensi Asia Afrika: Semangat Solidaritas Asia Afrika

Sejarah Konferensi Asia-Afrika yang Lahirkan Solidaritas Global
Penutupan KAA di Bandung.
Sejarah Konferensi Asia Afrika
Sukarno dan Palestina
Sikap KAA pada Konflik Israel – Palestina
Asia Afrika Day

Opening address given by Sukarno (Bandung, 18 April 1955)
Palestine Walk di Bandung

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelIndonesia
ShareTweetSendShare
Previous Post

Lukman Harun, Tokoh Muhammadiyah, Sang Pejuang Kemerdekaan Palestina

Next Post

Bangga! Indonesia Jadi Negara Asia Tenggara Pertama yang Isi Tahun Kebudayaan di Qatar

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
21

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
16
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
19
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Bangga! Indonesia Jadi Negara Asia Tenggara Pertama yang Isi Tahun Kebudayaan di Qatar

Bangga! Indonesia Jadi Negara Asia Tenggara Pertama yang Isi Tahun Kebudayaan di Qatar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630