• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Jumat, Mei 8, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Yang Terlewatkan dari Palestina

by Adara Relief International
Oktober 7, 2021
in Artikel, Seni Budaya
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
75 Tahun Peringatan Peristiwa Nakbah, Sudah Sampai Mana Perjuangan Kita?
78
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Satu dari sekian negara yang paling sering disebut akhir-akhir ini yaitu Palestina. Konflik Palestina-Zionis Israel yang berkepanjangan menambah deret penyebutan Palestina dalam berbagai pembicaraan. Perang, teror, pengeboman, dan perebutan wilayah menjadi semacam kata kunci ketika menyebut Palestina. Seolah-olah tidak ada sisi lain yang bisa disorot dan disajikan oleh media. Pun demikian, sajian media turut mendukung persepsi publik bahwa Palestina ya hanya itu-itu saja. Tanpa pernah disadari, kebudayaan Palestina jarang mendapat tempat dan porsi. Padahal, Palestina mempunyai kebudayaan yang kaya dan beragam.

Menurut van Peursen (1976:10-11) dalam jurnal (Nurdien, 2017) menganggap kebudayaan sebagai sebuah strategi. Salah satu strateginya yaitu kebudayaan dianggap sebagai “kata kerja” bukan sebagai “kata benda.” Kebudayaan tidak lagi sekadar koleksi karya seni, buku-buku, alat-alat, museum, dan sebagainya, melainkan kebudayaan dihubungkan dengan kegiatan manusia yang bekerja, merasakan, memikirkan, memprakarsai serta menciptakan. Singkatnya, kebudayaan diartikan sebagai suatu aktivitas yang menghasilkan. Lebih lanjut, Koentjaraningrat mengemukakan pendapatnya mengenai unsur-unsur kebudayaan, salah satu dari tujuh unsur kebudayaan tersebut yaitu kesenian. Kesenian acapkali terlewat begitu saja atau bahkan takkan terlintas sedikitpun ketika membicarakan tentang Palestina. Kondisi sosial-politik yang tidak stabil turut mempengaruhi minimnya kesenian masyarakat Palestina diketahui publik.

Seni menurut Oxford Languages diartikan sebagai suatu ekspresi atau penerapan imajinasi dan keterampilan manusia, biasanya berbentuk visual, menghasilkan karya untuk dihargai terutama karena keindahan atau kekuatan emosionalnya. Masih dari sisi pengertian, laman Britannica.com menyebutkan seni sebagai suatu pengalaman yang secara sadar diciptakan melalui ekspresi atau imajinasi.  Melihat pengertian di atas, kesenian Palestina bisa diterjemahkan sebagai suatu bentuk pengungkapan ekspresi, imajinasi, dan keterampilan yang bersumber dari pengalaman masyarakat Palestina yang dituangkan dalam bentuk karya. Kesenian tersebut meliputi seni sastra, seni lukis, seni musik, dan lain sebagainya.

Baca Juga

Sejarah Palestina pada Masa Kekhalifahan (Part 5): Menelusuri Dua Setengah Abad Kesultanan Mamluk di Palestina

Habis Gelap, Terbitlah Terang: Menelusuri Kembali Pemikiran Kartini dalam Menentang Penjajahan Terhadap Perempuan

Seni sastra menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti seni karang-mengarang berbentuk prosa dan puisi. Sastra sendiri telah lama ada di Palestina meskipun pada mulanya perkembangannya masih alot. Baru setelah tahun 1990 setelah platform daring mengambil alih platform media,perkembangan sastra kian melesat. Hal ini dikarenakan adanya transisi pola pikir masyarakat Palestina dalam memaknai sastra itu sendiri. Jika pada mulanya sastra hanya dianggap sebagai sajian berita di media, kini sastra menjadi bahan diskusi sehari-hari. Jika dulu sastra difungsikan sebagai sarana menghibur diri, kini pemanfaatannya lebih meluas. Semakin banyak yang mempelajari sastra sehingga makin banyak gagasan-gagasan baru yang muncul sebut saja Mahmod Darwish, sang pencetus aliran sastra perlawanan atau adabul qawāmah.

Syair Arab merupakan salah satu sastra yang berkembang pesat dan cukup digemari. Sastra menjadi “tempat curhat” masyarakat Palestina kepada dunia di tengah konflik yang terus terjadi. Sosok penyair masyhur dari Palestina yaitu Mahmod Darwish. Tidak hanya ratusan syair–penyebutan untuk puisi bahasa Arab yang berhasil dikarang, tetapi keberanian dan konsistensinya dalam melakukan perlawanan terhadap otoritas yang berkuasa melalui puisi-puisinya membuat dirinya semakin dikenal luas. Di antara judul puisinya yang menyoroti Palestina yaitu Yaumul Ahad. Dalam puisi tersebut, Darwish menceritakan kehidupan para penguasa dan harapan kedamaian serta lepas dari segala belenggu penjajahan. Beberapa nama sastrawan Palestina yang lain yaitu Ghassan Kanafaniy (novelis muda), Mourid Al-Barghouti, dan Harun Hasyim Rasyid. Secara umum, puisi karya penyair Palestina bertujuan untuk melawan kependudukan penguasa asing serta membangkitkan semangat juang rakyat. Adapun dari prosa, perkembangannya dapat terlihat dari pesatnya pertumbuhan penulis Palestina.

Satu dari jenis seni pertunjukan yaitu seni musik. Musik di Palestina mulai menunjukkan eksistensinya pasca 1948 ditandai dengan munculnya tema-tema khas Palestina yang berkisah seputar mimpi kemerdekaan dan sentimen nasionalisme. Gelombang Intifada 1 dan Periode Oslo pascaperang 1967 turut memengaruhi dinamika permusikan Palestina. Kedua peristiwa tersebut mendorong para musikus bersatu dan bersama-sama menyuarakan perdamaian. Sejalan dengan hal itu, bermunculan para kelompok seniman baru. Kemudian para seniman itu melakukan lawatan ke berbagai penjuru dunia untuk mengenalkan Palestina seperti yang dilakukan oleh Asayel Folklore Troup.

Di lain sisi, muncul para penyanyi yang mengubah syair-syair karangan penyair Palestina menjadi nyanyian-nyanyian, seperti puisi karangan Mahmod Darwish dan Ahmad Dahbour. Nyanyian menjadi media untuk meluapkan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada, tangisan, ratapan, dan dambaan harapan. Selain itu, banyak bermunculan lagu-lagu yang menggambarkan keadaan Palestina, seperti yang berjudul Sayyidi Ra’is. Meski minat masyarakat Palestina terhadap musik masih terhitung rendah, tapi kian hari antusiasme masyarakat semakin bertambah hal ini terlihat dengan adanya para musisi menggelar konser di tengah rerobohan puing bangunan. Konser tersebut dilaksanakan setelah genjatan senjata dan dihadiri oleh banyak masyarakat.

Beralih ke seni rupa dalam hal ini yang dimaksud yaitu seni lukis. Seni lukis di Palestina pernah mengalami masa suram, yaitu pada era 1980. Para seniman yang sedang menggelar pameran di Galeri 79 ditutup paksa oleh tentara Zionis, seperti yang diceritakan oleh Sliman Mansour, Nabil Anani, dan Issam Badr. Tidak hanya itu, bahkan terjadi pelarangan melukis atau menggambar sesuatu yang merujuk pada bendera Palestina. Seorang pemuda di Gaza ditangkap aparat Zionis Israel lantaran membawa semangka yang mencirikan warna bendera Palestina yaitu merah, hitam, dan hijau. Namun geliat seniman Palestina kini sudah tumbuh kembali, dibuktikan dengan pagelaran kesenian yang menampilkan sekitar 100 karya seni ciptaan 70 seniman pada 29 Juni lalu.

Tanpa disadari, masyarakat dunia merupakan penikmat kesenian Palestina. Hal ini tercermin dengan tingginya masyarakat untuk menonton pertunjukan para seniman Palestina melakukan lawatan baik pameran lukisan, konser musik, maupun festival pembacaan puisi di berbagai negara. Apa yang ditampilkan para seniman tersebut juga mempengaruhi gagasan dan pemikiran publik sehingga kemudian bermunculan karya seni baru. Palestina dan kehidupan masyarakatnya menjadi sumber inspirasi bagi para seniman dunia, misalnya dalam seni musik, mengilhami penciptaan berbagai lagu baru oleh banyak musisi di berbagai negara. Beberapa judul lagu yang terinspirasi dari kehidupan di Palestina yaitu Freedom for Palestine oleh Oneworld, Maher Zain dengan lagunya Palestine  Will be Free dan Michael Heart dengan lagunya yang sangat terkenal, We Will Not Go Down.

Di Indonesia banyak penyair dan musisi yang terpengaruhi oleh kesenian Palestina, terutama dalam pemilihan tema. Seperti penyair kondang tanah air Taufik Ismail, Asep Sambodja, Helvy Tiana hingga Mustofa Bisri. Musisi seperti Pasha juga turut terinspirasi dan berempati dengn menciptakan lagu. Pemilihan tema seputar dukungan kekuatan, harapan, hingga kecaman terhadap para penguasa yang ingin menguasai Palestina. Meskipun kesenian di Palestina belum banyak diketahui, tapi pada faktnya justru kesenian Palestinalah yang telah menyatukan masyarakat dunia. Berempati, bergerak bersama, dan memberikan dukungan penuh kepada Palestina melalui seni yang indah, puisi yang menggugah dan nyanyian yang menggetarkan.

Penulis: Diah Utami

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

ShareTweetSendShare
Previous Post

Kafiyeh: Simbol Perlawanan Palestina Yang Menembus Batas

Next Post

Sulaman Tangan Saksi Perjuangan

Adara Relief International

Related Posts

kurban
Artikel

Berkurban Sebagai Bentuk Syukur

by Adara Relief International
Mei 5, 2026
0
28

Bicara tentang kurban berarti bicara tentang Surat Al-Kautsar. Di dalam surat terpendek ini, Allah SWT menegaskan betapa nikmat-Nya telah tercurah...

Read moreDetails
71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?

71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?

April 27, 2026
56
Sejarah Palestina pada Masa Kekhalifahan (Part 5):  Menelusuri Dua Setengah Abad Kesultanan Mamluk di Palestina

Sejarah Palestina pada Masa Kekhalifahan (Part 5): Menelusuri Dua Setengah Abad Kesultanan Mamluk di Palestina

April 27, 2026
41
Habis Gelap, Terbitlah Terang: Menelusuri Kembali Pemikiran Kartini dalam Menentang Penjajahan Terhadap Perempuan

Habis Gelap, Terbitlah Terang: Menelusuri Kembali Pemikiran Kartini dalam Menentang Penjajahan Terhadap Perempuan

April 21, 2026
41
Sejarah Palestina di Masa Kekhalifahan (Part 4):  Penaklukan Baitul Maqdis dari Pasukan Salib pada Masa Kekhalifahan Ayyubiyah

Sejarah Palestina di Masa Kekhalifahan (Part 4): Penaklukan Baitul Maqdis dari Pasukan Salib pada Masa Kekhalifahan Ayyubiyah

April 21, 2026
32
Tiga warga Palestina yang dieksekusi di penjara Akka – Fouad Hijazi, Atta al-Zeer, dan Mohammed Khalil Jamjoum. (Samidoun)

Dari Tiang Gantungan Inggris 1930 hingga Meja Legislasi Israel Hari Ini, Eksekusi Tidak Membungkam Palestina

April 13, 2026
84
Next Post
Sulaman Tangan Saksi Perjuangan

Sulaman Tangan Saksi Perjuangan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]

    Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Palestina dalam Kebutaan Dunia: Di Tengah Eskalasi Regional, Tepi Barat dan Gaza Menghadapi Teror Tanpa Akhir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 2.250 Tenaga Medis dan Pasien di RS Asy Syifa, Gaza Terima Makanan Berbuka Puasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahan Pokok Ramadan untuk 160 Keluarga di Tulkarem Tepi Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630