Tragedi Pembantaian Beit Hanoun, Menewaskan 18 Anggota Keluarga

Tragedi Pembantaian Beit Hanoun, Menewaskan 18 Anggota Keluarga – “Pada 8 November 2006, saya bangun lebih awal, kemudian saya mendengar ledakan yang sangat keras di dekat saya dan bergegas pergi ke rumah saudara laki-laki saya. Ketika rudal Israel mendarat, saya terkejut menyaksikan tubuh anak-anak dan tetangga dari saudara laki-laki saya terkoyak. Ambulans kemudian bergegas mendatangi tempat kejadian.”

Kesaksian tersebut disampaikan oleh Dr.Ashraf al-Atamna, seorang warga yang kehilangan 18 orang anggota keluarganya dalam tragedi Beit Hanoun, 15 tahun lalu. Pada 8 November 2006, serangan terjadi sekitar pukul 05.30 pagi dan berlangsung selama lebih dari 30 menit. Israel melakukan pengeboman ke 12 rumah milik penduduk sipil, di antaranya yaitu rumah keluarga al-Atamna. Dalam sekejap, al-Atamna kehilangan 18 orang anggota keluarganya, termasuk 7 anak-anak dan 6 perempuan. Mereka meninggal dalam tidurnya, sebagian besar jenazah yang dibawa ke rumah sakit berada dalam kondisi masih mengenakan piyama.

Selain keluarga al-Atamna, 55 warga sipil dilaporkan menderita luka-luka akibat serangan ini. Rahwi Ahmad (75) mengatakan, “Saya melihat orang-orang keluar dari rumah dalam keadaan berdarah-darah dan menjerit. Saya menggendong seorang gadis yang berlumuran darah. Di dalam rumah, kami mengevakuasi tubuh yang sudah terpisah-pisah. Kami melihat kaki, tangan, bagian kepala menempel di dinding. Semuanya sangat menjijikkan. Ini adalah adegan berdarah terburuk yang pernah saya lihat.”

Sadisnya pembantaian Beit Hanoun juga diungkapkan oleh Muhammad al-Nirab, seorang ahli medis yang ditugaskan di lokasi pembantaian. Ia menjelaskan bahwa pihak medis mendapatkan info adanya penyerangan sekitar pukul 05.45 pagi kemudian mereka segera bertolak menuju ke lokasi. Ketika sampai di gerbang desa, asap sudah membumbung tinggi menutupi pandangan akibat tembakan rudal pertama. “Waktu itu betul-betul menjadi detik-detik yang mengerikan sekali. Kepanikan, histeris, dan ketakutan menguasai warga kampung. Para perempuan mendekap anak-anak mereka, berlarian tak tahu arah sambil berteriak dan menangis histeris. Sementara sebagian yang lainnya berkumpul mengerubungi anak-anak mereka yang terluka bergelimpangan di tanah dekat rumah yang menjadi target serangan.”

Ketika al-Nirab dan tim medis mulai bergerak untuk membantu korban yang terluka, rudal kedua menghantam wilayah tersebut. Tim medis pun berlindung di salah satu rumah di dekat lokasi serangan. Tiga hingga empat rudal kembali menghantam rumah-rumah di dekat lokasi mereka berlindung. Kematian terasa sudah dekat sekali tatkala mereka menyaksikan bagian-bagian rumah di sekitar mereka hancur menjadi puing-puing akibat ledakan.

“Tak pernah suatu hari pun aku membayangkan ikut mengevakuasi korban pembantaian sedahsyat dan sebiadab pembantaian di Beit Hanoun.” Ia melanjutkan, “Bagian-bagian tubuh yang berserakan dan jasad-jasad yang tercabik-cabik ada di sepanjang jalan. Hal itu membuatku bingung, harus memulai dari siapa. Namun aku mendapati diriku tidak memiliki daya untuk mengevakuasi jasad para syuhada’ yang tertutupi oleh debu bangunan ke mobil ambulans. Aku tidak tahu bagaimana aku mulai mengumpulkan anggota-anggota tubuh para syuhada’ yang berceceran memenuhi tempat. Semua aku kumpulkan dan aku letakan di bangku dekat tempat duduk sopir kemudian kami bertolak ke rumah sakit.”

Sementara itu, Israel mengatakan bahwa serangan yang merenggut nyawa puluhan warga sipil tersebut “tidak dilakukan dengan sengaja”. Mereka berdalih bahwa rudal yang ditembakkan ke rumah-rumah penduduk sipil adalah akibat dari “kesalahan teknis”. Mengenai tragedi ini, Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni mengatakan, “Sayangnya, dalam pertempuran, insiden yang disesalkan seperti yang terjadi pagi ini memang terjadi.” Sebuah pernyataan tanpa penyesalan, seakan nyawa penduduk Palestina hanyalah angka yang tidak berharga.

Penyerangan ini menyebabkan pemadaman listrik di seluruh kota akibat rusaknya jaringan tiang listrik di berbagai lokasi. Dengan demikian, Rumah Sakit Beit Hanoun amat bergantung pada generator dan bahan bakar yang dipasok dari ICRC untuk dapat beroperasi. Padahal saat itu rumah sakit sedang dalam kondisi darurat karena banyaknya korban yang memerlukan penanganan segera.

Rusaknya jaringan listrik juga berpengaruh terhadap ketersediaan air bersih. Terganggunya pasokan listrik membuat empat dari lima sumur utama tidak dapat dioperasikan. Akibatnya, penduduk menjadi bergantung pada bantuan dari lembaga-lembaga kemanusiaan hanya untuk dapat mendapatkan air bersih untuk diminum. Jaringan listrik baru dipulihkan sehari setelahnya, pada 9 November 2006.

Serangan ini juga mengakibatkan ditutupnya layanan pendidikan selama satu minggu. Sekolah UNRWA yang menjadi tempat belajar bagi 10.500 siswa ditutup akibat tragedi ini. Fasilitas sekolah hancur, tenaga pendidikan dan anak-anak juga mengalami trauma akibat kehilangan keluarga dan sahabat mereka.

Dampak negatif dari penyerangan ini juga dirasakan oleh kaum perempuan. ICRC melaporkan bahwa perempuan yang selamat dari penyerangan ini mengatakan bahwa kehidupan mereka hancur. Serangan Israel mengakibatkan tingkat pengangguran menjadi sangat tinggi di kalangan perempuan sehingga mereka menderita kemiskinan. Selain itu, kondisi kondisi fisik dan mental mereka menjadi tidak stabil. Beban mereka juga bertambah sebab anak-anak mengalami trauma dan harus ditangani sementara layanan medis dan konseling jumlahnya sangat terbatas.

Tragedi Beit Hanun merupakan penghancuran kehidupan penduduk Palestina. Setelah menyerang sebuah desa, membunuh 18 warga sipil dan melukai 55 lainnya, merusak berbagai fasilitas, dan menghancurkan kehidupan penduduk Beit Hanoun, Israel dengan kesadaran penuh mengatakan bahwa peristiwa ini hanyalah hasil dari “ketidaksengajaan”.

 

Penulis: Salsabila Safitri

Sumber :

United Nations. 2008. Report of the High-Level Fact-Finding Mission to Beit Hanoun.
https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/opt-sis-report-140-palestinians-killed-israeli-forces-beit
https://www.theguardian.com/world/2006/nov/08/israel1
https://www.unrwa.org/resources/emergency-appeals/beit-hanoun-flash-appeal-november-2006
https://www.aljazeera.com/news/2006/11/8/raid-a-massacre-haniya-tells-aljazeera
https://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/detik-detik-pembantaian-di-beit-hanun-sebuah-kesaksian.htm#.YYTE7xwxXIX
https://casebook.icrc.org/case-study/israel-human-rights-committees-report-beit-hanoun

Leave a Reply