Ribuan warga Palestina yang sakit dan terluka di Jalur Gaza terancam kehilangan nyawa akibat pembatasan evakuasi medis oleh Israel. Banyak pasien kritis tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut untuk memperoleh perawatan yang mereka butuhkan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa hanya 209 pasien dan korban luka yang berhasil berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan medis selama Oktober 2026. Evakuasi hanya berlangsung tujuh hari dari 17 hari yang dijadwalkan untuk keberangkatan.
Kementerian memperingatkan bahwa pembatasan Israel menghalangi ribuan pasien kritis mengakses pengobatan. Jumlah pasien yang mendapat izin keluar masih jauh dari kebutuhan medis mendesak di Gaza. Keterlambatan prosedur dan pembukaan perlintasan yang tidak menentu juga membuat evakuasi medis menjadi perlombaan melawan waktu.
Baca juga: PBB Peringatkan Krisis Sampah akibat Pembatasan Israel
Kementerian mendesak masyarakat internasional menekan Israel agar mencabut pembatasan dan membuka perlintasan secara teratur dan permanen. Pasien dan korban luka harus mendapat akses aman dan tepat waktu ke layanan medis di luar Gaza.
Komite Rujukan Medis Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya mengungkapkan bahwa sejak Februari 2026, hanya 3.056 pasien dan korban luka yang berhasil meninggalkan Gaza untuk berobat. Sebanyak 2.614 orang berangkat melalui Perlintasan Rafah di selatan Gaza, sedangkan 442 lainnya melalui Perlintasan Kerem Abu Salem.
Sementara itu, sekitar 21.468 pasien dan korban luka masih masuk daftar tunggu evakuasi medis. Dari jumlah tersebut, 6.430 orang menjadi prioritas karena kondisi kesehatan yang parah dan membutuhkan perawatan khusus.
Israel membuka kembali Perlintasan Rafah secara terbatas pada awal Februari 2026 dengan persyaratan dan persetujuan keamanan yang Israel tetapkan. Pembukaan ini merupakan bagian dari tahap kedua perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025.
Sumber: Palinfo








