Penyiksaan Psikologis Zionis terhadap Anak-Anak Palestina di Jalur Gaza

Pada 12 Mei lalu, Raed Subaih (45) menerima telepon dari agen intelijen Zionis. Mereka memerintahkan Subaih untuk meninggalkan rumahnya yang terletak di kompleks Al-Naser di utara Gaza karena lokasi tersebut akan dihancurkan dengan bom. Subaih beserta enam anak dan orangtuanya tidak memiliki tempat tinggal sejak saat itu dan berusaha keras untuk menyewa tempat tinggal sementara. “Hancurnya rumah kami bukan hanya kerugian materi. Ya, kami kehilangan rumah, dokumen, dan perabotan, tapi semua itu bisa digantikan perlahan meskipun setelah penderitaan yang berat. Tapi kenangan dan masa-masa bahagia tidak dapat tergantikan. Penderitaan dan trauma tidak bisa dihapus.” Ujar Subaih.

Subaih merupakan satu dari 1.500 keluarga yang kehilangan rumah akibat dibom oleh Zionis. Mereka berjuang membayar sewa untuk tempat tinggal sementara, sedangkan penduduk yang tidak mampu membayar terpaksa tinggal di tenda darurat atau menumpang di rumah kerabat. Sebanyak 13.000 keluarga memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka yang telah hancur walaupun belum bisa segera diperbaiki akibat kurangnya pasokan sebagai dampak dari blokade sejak tahun 2006.

Trauma akibat pengeboman rumah dan kehilangan anggota keluarga tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi dirasakan juga oleh anak-anak. Serangan yang berlangsung sejak 11 hingga 21 Mei tersebut merenggut nyawa 253 penduduk Palestina dan lebih dari 1.900 orang terluka, 66 di antaranya adalah anak-anak. Menyaksikan anggota keluarga dan teman mereka tewas tentunya menimbulkan dampak yang signifikan terhadap psikologis anak-anak Palestina.

Baca juga: Serangan Zionis Renggut Senyum Anak-Anak Gaza

Suzy Ishkuntana yang saat itu berusia enam tahun mengalami trauma ekstrem akibat penyerangan tersebut. Ia kehilangan orang tua dan empat saudaranya dan kini enggan berbicara kecuali kepada kakek dan neneknya. Suzy juga menolak untuk makan dan selalu mencari ibunya. Neneknya berkata, “Saya selalu mengatakan bahwa ibu dan saudaramu sudah berada di surga. Namun dia menjawab, ‘Aku ingin mati agar bisa bersama mereka.’” Hal yang serupa dialami juga oleh Maysaa Abu Alouf yang berusia sembilan tahun. Maysaa kehilangan ibu dan dua saudara perempuannya dalam penyerangan tersebut. Kini Maysaa selalu menangis dan mengalami ketakutan terhadap gedung tinggi dan trauma untuk ke luar.

Dr. Samah Jabr, Ketua Unit Kesehatan Mental di Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, “Trauma di Gaza terus berlangsung dan berulang-ulang dalam kumpulan trauma historis. Tidak ada tempat yang aman bagi keluarga dan anak-anak untuk mencari perlindungan di Gaza.”

Serangkaian penelitian yang membahas efek perang terhadap anak-anak Palestina yang tinggal di Jalur Gaza menyimpulkan bahwa anak-anak di Gaza mengalami gejala depresi, kecemasan, dan stres pasca-trauma (PTSD). Anak-anak menjadi kehilangan rasa aman, merasa terisolasi, dan akses mereka untuk mendapatkan pendidikan terputus. Hal ini merupakan dampak dari penyiksaan psikologis yang dilakukan Zionis terhadap anak-anak Palestina.

Trauma anak-anak diperburuk dengan berada bersama orang dewasa yang juga tertekan. Blokade yang dilakukan oleh Zionis sejak 2006 melumpuhkan kegiatan ekonomi sehingga angka pengangguran dan kemiskinan di Palestina meningkat. Para orangtua yang anaknya tewas terbunuh juga seringkali menyalahkan diri mereka, mengalami trauma, dan tekanan mental, sehingga anak-anak tidak memiliki tempat untuk mengadu dan berlindung.

Terlepas dari apa pun tujuannya, membunuh dan menyiksa psikologis anak-anak merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan dan menyalahi hukum internasional. Anak-anak juga merupakan warga negara yang hak mereka seharusnya dilindungi. Anak-anak Palestina tidak dilahirkan untuk menanggung penderitaan seumur hidupnya. Mereka berhak atas pendidikan, perlindungan, dan jaminan atas hidup mereka, bukan penyiksaan psikologis yang mengakibatkan trauma tak berkesudahan.

 

Reporter : Salsabila

Editor : LM

Dari berbagai sumber.

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

 

Leave a Reply