Krisis Listrik, Penduduk Palestina Hidup dalam Kegelapan

Krisis Listrik, Penduduk Palestina Hidup dalam Kegelapan – Basma menjelaskan bahwa pemadaman listrik membuat hidup mereka bagaikan kembali ke zaman primitif.

“Sejak pesawat-pesawat Israel mengebom pembangkit listrik, kami mengalami pemadaman listrik, krisis air, dan terus menderita akibat blokade Israel terhadap kami. Terkadang tidak ada listrik sepanjang hari, atau hanya menyala selama tiga atau empat jam di malam hari. Setiap kali ada penyerangan, kami hampir tidak mendapatkannya. Pasokan air juga tidak teratur dan jika menyala saat listrik padam, kami tidak bisa memompa air ke wadah di atap.[1] Saya merasa seperti air dan listrik adalah dua garis paralel yang tidak pernah bertemu!”

Kalimat tersebut diungkapkan oleh Basma Khalil (61), ibu dari empat anak yang berasal dari Gaza. Sejak Zionis menahan bahan bakar untuk pembangkit listrik pada Agustus 2020, Basma mewakili penduduk Gaza lainnya menyampaikan kesulitannya dalam beraktivitas. Pembangkit listrik yang mati akibat kekurangan bahan bakar berdampak pada berkurangnya pasokan listrik ke rumah-rumah penduduk. Hal ini mengakibatkan listrik hanya menyala sekitar empat jam per harinya di Gaza.

Basma menjelaskan bahwa pemadaman listrik membuat hidup mereka bagaikan kembali ke zaman primitif. Di rumahnya, Basma mengandalkan lilin sebagai sumber penerangan. Akan tetapi, penggunaan lilin terus menerus mengakibatkan bagian-bagian rumahnya sempat beberapa kali terbakar. Selain itu, peralatan rumah tangga yang membutuhkan listrik juga menjadi lebih cepat rusak karena digunakan secara bersamaan ketika listrik sedang menyala. Ketika ada kesempatan untuk menggunakan listrik, dalam satu waktu Basma akan menggunakan alat pembersih, alat pemanggang, kompor dan peralatan memasak, setrika, pompa air, pemanas, dan mengisi daya ponsel milik seluruh anggota keluarga. Tak heran jika peralatan menjadi cepat rusak, namun mereka tidak punya pilihan lain. Jika tidak dikerjakan sekarang, mungkin tidak akan ada kesempatan lagi karena listrik akan segera padam.

Musim panas maupun musim dingin sama buruknya ketika listrik tidak bisa digunakan. Pada musim panas, mereka tidak bisa menyalakan kipas angin sehingga seringkali harus tidur di lantai atau memercikkan air ke badan untuk mengusir hawa panas.[2] Pada musim dingin, pemanas tidak bisa digunakan sehingga mereka menggunakan batu bara untuk menghangatkan diri, meskipun sangat beresiko.[3]

Pemadaman listrik juga berdampak pada pendidikan anak-anaknya. Salah satu anak Basma adalah Ahmad yang duduk di kelas 10. Ia sangat membutuhkan listrik untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya. Tak jarang Ahmad pergi ke sekolah di pagi hari ketika listrik rumahnya sedang mati, dan ketika ia pulang sekolah di siang hari ia mendapati listrik masih belum menyala juga. Ahmad dan anak-anak Basma lainnya seringkali mengatakan, “Kami tidak tahan dengan kondisi seperti ini. Sampai kapan kita akan terus seperti ini?”

Kondisi listrik di Palestina sangat memprihatinkan. Sepanjang tahun 2021, Zionis telah menghancurkan empat saluran listrik di Gaza. Jika dijumlahkan, sejak tahun 2011 hingga sekarang Israel telah menghancurkan lima dari sepuluh saluran listrik yang menyediakan pasokan listrik ke Gaza. Selain itu, Zionis juga melarang masuknya bantuan bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik satu-satunya di Gaza. Kekurangan bahan bakar ini mengakibatkan pembangkit listrik Gaza hanya bisa mengoperasikan dua dari empat turbinnya yang membuat pasokan listrik berkurang sebanyak 45%. Larangan masuknya bantuan kemanusiaan ini merupakan bentuk hukuman kolektif yang diberlakukan Israel yang berdampak pada lebih dari dua juta penduduk Palestina.

Di Gaza, krisis yang memburuk membuat kebutuhan penduduk akan listrik tidak bisa terpenuhi. The Gaza Electricity Distribution Corporation (GEDCO) menginformasikan bahwa larangan masuknya bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik di Gaza pada 2021 mengakibatkan penurunan kapasitas listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik yang kapasitasnya tidak lebih dari 45 MW. Akibatnya, keseluruhan kapasitas listrik yang bisa disediakan oleh Gaza hanya sekitar 116 MW yang merupakan total dari seluruh sumber listrik, sementara kebutuhan listrik di Gaza berkisar antara 425 MW pada pagi hari dan meningkat menjadi 540 MW pada siang hingga malam hari. GEDCO memperkirakan bahwa kesenjangan antara pasokan listrik dengan permintaan sangatlah besar yaitu 75%. Permasalahan ini membuat listrik hanya bisa menyala sekitar empat jam di Gaza, sementara pemadaman listrik bisa mencapai 16 jam, bahkan lebih.

Secara umum, pasokan listrik di Gaza berasal dari dua sumber. Pertama yaitu dari perusahaan listrik Israel yang memasok 120 MW listrik ke Gaza melalui sepuluh jalur. Perusahaan ini memiliki kewenangan untuk mengatur penyediaan dan pemadaman listrik serta mengatur durasinya. Kedua yaitu dari pembangkit listrik Gaza yang tangki bahan bakarnya telah dibom berkali-kali oleh Israel sejak tahun 2006. Selain itu, pembangkit listrik ini kapasitasnya juga terus dikurangi dari yang awalnya 140 MW menjadi 70 MW kemudian kini kapasitasnya sudah tidak lebih dari 45 MW. Krisis listrik ini sangat mempengaruhi kehidupan penduduk Gaza dan mempersulit aktivitas mereka.

Krisis listrik tahun ini dapat dikatakan lebih buruk dibanding tahun lalu. Pada tahun 2020, pasokan listrik di Gaza berkisar antara 180 MW dengan rincian 120 MW berasal dari 10 saluran listrik yang disediakan Israel dan 60 MW dihasilkan dari pembangkit listrik Gaza yang bahan bakarnya dibantu oleh dana dari Qatar. Penduduk biasanya bisa menggunakan listrik selama delapan jam kemudian diikuti pemadaman selama delapan jam atau lebih. Pada musim panas, pemadaman listrik bisa lebih lama yaitu hingga mencapai 12 jam.

Akan tetapi, situasi pada tahun 2020 juga tidak bisa dikatakan cukup baik karena sejak pengeboman pembangkit listrik pada tahun 2006, Israel selalu menolak untuk memperbaiki dan merehabilitasi pembangkit listrik yang rusak tersebut. Tidak hanya menolak untuk memperbaiki, Israel bahkan mengurangi kapasitasnya untuk menghasilkan listrik. Lebih buruknya lagi, Israel juga menahan bahan bakar listrik pada Agustus 2020. Israel menutup akses penyeberangan ke Gaza sehingga bantuan bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik tidak bisa sampai ke Gaza. Hal ini mengakibatkan pembangkit listrik Gaza mati pada pertengahan Agustus akibat kekurangan bahan bakar sehingga penduduk hanya bisa menggunakan listrik sekitar empat jam per harinya.

Aktivitas penduduk menjadi sangat terganggu akibat krisis listrik ini. Segala aktivitas mulai dari menyimpan makanan, memasak, bekerja, belajar, dan komunikasi semuanya menjadi sulit karena peralatan dasar rumah tangga seperti kulkas, kipas angin, mesin cuci, oven, dan lainnya semuanya membutuhkan listrik untuk mengoperasikannya. Krisis listrik juga mempersulit penyandang disabilitas dan pasien-pasien rumah sakit yang membutuhkan perawatan dan penanganan khusus. Kebutuhan akan air juga semakin sulit untuk terpenuhi karena pompa air memerlukan listrik agar bisa menyala.

Namun, sulitnya hidup dalam kegelapan akibat krisis listrik tidak memutuskan harapan penduduk Palestina. Basma mengatakan, “Kami hanya meminta hal-hal dasar dan kehidupan yang normal : pasokan listrik yang teratur, pekerjaan untuk suami dan anak-anak saya, dan tentu saja berhentinya blokade Israel. Berikan sedikit empati! Kami ingin menikmati hidup, melihat hari-hari bahagia, hidup dengan kehormatan dan memiliki hal yang paling sederhana – listrik! Di zaman sekarang, semuanya tergantung pada alirannya. Listrik adalah mesin kehidupan. Tanpa listrik, hidup akan terhenti.”

——————————–

Sumber :

United Nations. 2017. Humanitarian Impact of the Gaza Electricity Crisis.

OCHA. 2021. 2021 Crisis : Power Deficit in Gaza.

Nashashibi, Karim, Yitzhak Gal. 2019. Gaza Electricity Reform&Restoration.

ICRC. 2020. The Impact of the Electricity Crisis on the Humanitarian&Living Conditions in the Gaza Strip – Survey Study.

https://www.btselem.org/gaza_strip/20201029_gaza_electricity_crisis_deepens_summer_2020

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/press-release-energy-crisis-worsens-humanitarian-conditions

https://www.middleeastmonitor.com/20210803-80-of-gaza-population-suffer-power-shortage-icrc-says/

https://www.middleeastmonitor.com/20211005-israel-denies-electricity-to-palestinians-in-the-gaza-strip/

https://interactive.aljazeera.com/aje/palestineremix/gaza-left-in-the-dark.html#/5

 

[1] Selengkapnya di https://adararelief.com/adara-report-agustus-2021/

[2] Selengkapnya di https://adararelief.com/kamp-pengungsi-gaza-di-yordania-terkurung-neraka-musim-panas-tak-bisa-didinginkan-kipas-angin/

[3] Selengkapnya di https://adararelief.com/bantuan-musim-dingin-palestina/

Leave a Reply