Seorang warga Palestina terbunuh setelah ditembak pasukan Israel dalam penggerebekan di Kota Sarta, sebelah barat Salfit, Tepi Barat yang diduduki, Kamis (25/6). Keluarga korban menyatakan bahwa tentara Israel menghalangi ambulans selama hampir dua jam sehingga korban tidak segera mendapat pertolongan.
Menurut saksi mata, pasukan Israel menggerebek sejumlah rumah dan melakukan penangkapan sebelum memasuki kediaman Mustafa Taha Khatib. Tentara kemudian melepaskan tembakan yang melukai Mustafa secara kritis di dalam rumahnya. Setelah akhirnya dievakuasi ke Rumah Sakit Pemerintah Salfit, Mustafa dinyatakan meninggal dunia.
Paman korban, Yassin Khatib, mengatakan bahwa ambulans Palestina telah tiba setelah kantor penghubung Palestina memberi tahu otoritas Israel mengenai adanya korban luka. Namun, tentara Israel menutup akses menuju rumah dan melarang tim medis masuk selama sekitar dua jam.
“Baru setelah tentara pergi, paramedis diizinkan masuk. Saat itulah kami mengetahui Mustafa telah meninggal,” ujar Yassin.
Ia juga menyebut kondisi rumah menunjukkan tanda-tanda penggerebekan dengan kekerasan. Pintu rumah rusak dan isi ruangan berantakan. Menurutnya, tentara mendobrak pintu lalu langsung menembak Mustafa tanpa memberinya kesempatan membuka pintu atau berpakaian.
Yassin menolak tuduhan bahwa keponakannya membawa senjata. Ia menjelaskan bahwa pisau atau kapak yang disebut tentara hanyalah peralatan kerja yang biasa digunakan Mustafa sebagai pekerja konstruksi dan petani.
Mustafa telah tinggal di Sarta selama empat tahun setelah sebelumnya menetap di Yordania bersama keluarganya. Ia memiliki kewarganegaraan Palestina dan Yordania. Hingga kini militer Israel belum memberikan keterangan resmi mengenai insiden tersebut.
Sejak Oktober 2023, eskalasi militer Israel dan serangan para pemukim di Tepi Barat telah membunuh sedikitnya 1.173 warga Palestina, melukai 12.666 orang, menangkap sekitar 23.000 warga, serta menyebabkan 33.000 orang mengungsi, menurut data resmi Palestina.
Sumber: MEMO, Al Jazeera







