Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan Palestina mengeluarkan peringatan tentang kondisi kesehatan dan kehidupan perempuan Palestina di Penjara Damon, Israel. Mereka menghadapi pembatasan makanan, pengabaian medis, kekerasan fisik, serta penyiksaan psikologis.
Dalam pernyataan pada Rabu (4/11), komisi mengungkap kesaksian dua tawanan perempuan. Salah satunya adalah Hanaa Mohammed Hassan al-Baydaq, yang Israel tahan sejak 7 September 2025.
Sebelum pasukan Israel menangkapnya, Hanaa menderita hipotiroidisme dan membutuhkan pemeriksaan rutin untuk menentukan dosis obatnya. Namun, selama ditawan, ia tidak pernah mendapat pemeriksaan dokter spesialis endokrinologi.
Pada Juli 2026, ia juga terkena kudis, penyakit kulit menular yang menyebabkan gatal dan iritasi. Hingga kini, ia belum menerima pengobatan yang ia perlukan. Berat badannya turun drastis akibat kekurangan makanan dan buruknya kualitas gizi makanan penjara.
Baca juga: Tembakan Israel Teror Keluarga Pengungsi Gaza: Anak 8 Tahun Terbunuh di Deir al-Balah
Komisi juga melaporkan kekerasan terhadap perempuan tawanan pada 8 Oktober 2026. Petugas unit Yamaz dari Dinas Penjara Israel mengikat tangan para tawanan ke belakang, menutup mata mereka, dan melakukan pemukulan. Mereka juga menyemprotkan gas ke dalam sel serta melontarkan hinaan.
Tawanan lainnya, Saja Daraghmeh, yang ditahan sejak 22 Januari 2026, mengalami migrain, gangguan penglihatan, dan kudis tanpa memperoleh pengobatan yang ia perlukan.
Menurut organisasi pembela hak tawanan Palestina, hingga akhir Oktober 2026 terdapat sekitar 9.350–9.400 warga Palestina yang berada di penjara Israel. Jumlah tersebut mencakup sekitar 88 perempuan, lebih dari 350 anak-anak, dan 3.100 tawanan administratif tanpa dakwaan maupun persidangan.
Kantor Media Tawanan Palestina mencatat terdapat 92 tawanan meninggal dalam penjara Israel sejak Oktober 2023, termasuk 53 warga Gaza. Komisi memperingatkan bahwa pengabaian medis dan pembatasan kebutuhan dasar terus mengancam keselamatan perempuan tawanan.
Sumber: Palinfo








