Israel menyetujui rencana besar untuk menyita lahan Palestina di Tepi Barat dengan dalih arkeologi dan warisan sejarah. langkah Israel ini memicu kekhawatiran baru terkait perluasan aneksasi wilayah Palestina.
Pemerintah Israel mengalokasikan 250 juta shekel untuk proyek tersebut. Dana itu akan digunakan untuk mengembangkan situs arkeologi di Tepi Barat, Lembah Yordan, dan gurun al-Khalil.
Selain itu, Israel berencana membangun pusat wisata dan infrastruktur baru di kawasan tersebut. Israel juga ingin menjadikan lokasi itu sebagai tujuan wisata utama.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut proyek itu memiliki “nilai nasional dan sejarah yang besar.” Menurut Netanyahu, wilayah Tepi Barat menyimpan sejarah Yahudi selama ribuan tahun.
Namun, warga Palestina menilai Israel memakai isu arkeologi untuk memperluas kontrol atas tanah Palestina. Karena itu, banyak pihak melihat upaya Israel tersebut sebagai langkah memperkuat aneksasi Tepi Barat.
Selain menyita lahan, Israel juga ingin memperluas kehadiran sipil dan wisatawan di wilayah pendudukan dengan dalih untuk melindungi situs sejarah dari kerusakan dan pencurian.
Di sisi lain, warga Palestina memperingatkan bahwa hal itu justru dapat mempercepat pembangunan permukiman ilegal dan menghambat kemungkinan penarikan Israel dari wilayah pendudukan pada masa depan.
Selama beberapa tahun terakhir, Israel semakin sering menggunakan klaim sejarah dan arkeologi untuk mengubah kondisi di lapangan. Akibatnya, banyak lahan Palestina berubah status menjadi kawasan wisata atau situs warisan yang berada di bawah kendali Israel.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)