Pasukan Israel memperluas kendali militernya atas sisa wilayah permukiman ash-Shuja’iya, sebelah timur Kota Gaza, pada Ahad (11/10). Akibatnya, perluasan ini memaksa ratusan warga Palestina meninggalkan rumah mereka.
Menurut sumber media setempat, pasukan Israel memindahkan blok beton kuning puluhan meter ke arah barat. Langkah tersebut membuat seluruh kawasan ash-Shuja’iya berada di bawah kendali militer Israel.
Ratusan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka masuk ke dalam batas baru yang ditandai sebagai Garis Kuning (Yellow Line). Sejak Jumat, layanan Pertahanan Sipil Gaza mencatat ratusan warga telah meninggalkan kawasan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, wilayah pinggiran ash-Shuja’iya juga mengalami serangan artileri dan penghancuran bangunan.
Baca juga: A Generation Under Attack: 21.745 Anak Gaza Terbunuh Sejak 2023
Ben-Gvir Serukan Aneksasi Seluruh Tepi Barat dan Bubarkan Otoritas Palestina
Perluasan kendali ini terjadi setahun setelah kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 mulai berlaku. Namun, pelanggaran Israel terus berlangsung dan harapan warga terhadap perbaikan kondisi kehidupan di Gaza semakin menipis.
Pembatasan Israel terhadap masuknya bantuan dan kebutuhan pokok turut memperburuk krisis kemanusiaan. Banyak keluarga Palestina kesulitan memperoleh makanan di tengah meningkatnya kemiskinan dan pengungsian.
Di Khan Younis, Nihaya al-Masri, ibu berusia 35 tahun dengan delapan anak, menggambarkan beratnya kehidupan warga Gaza. Ia menopang kebutuhan keluarganya bersama suaminya yang mengalami cedera kaki.
Setiap hari, Nihaya menghabiskan sekitar enam jam mengantre di dapur umum untuk memperoleh nasi, lentil, dan sedikit ayam. Makanan tersebut menjadi satu-satunya santapan bagi keluarganya pada hari itu.
Ia mengatakan dapur umum merupakan satu-satunya sumber makanan keluarganya. Tanpa bantuan tersebut, ia dan anak-anaknya tidak akan memiliki makanan untuk dikonsumsi.
Sumber: Palinfo








