Dampak perang AS-Israel melawan Iran telah warga Gaza rasakan sejak hari pertama. Begitu perang AS-Israel dengan Iran pecah pada Sabtu (28/02), warga Gaza segera menyatakan kekhawatiran akan potensi penutupan perbatasan dan pembatasan masuknya pasokan. Mereka memperkirakan bahwa eskalasi kemungkinan akan berlanjut selama berminggu-minggu. Kekhawatiran mereka tersebut segera terwujud.
Israel hampir seketika menutup semua penyeberangan ke Gaza, termasuk yang bertujuan untuk bantuan kemanusiaan. Warga Palestina telah bergegas ke pasar pagi itu, mengantisipasi penutupan serta berharap dapat menyimpan makanan dan persediaan penting lainnya. Mereka yang biasanya membeli satu kilogram tepung setiap dua atau tiga hari mulai membeli satu karung penuh, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan.
Di tengah perhatian dunia yang terfokus pada eskalasi Israel yang terus berlanjut di Iran — dan sekarang di Lebanon — warga Gaza khawatir bahwa perang Israel lainnya akan luput dari perhatian: mulainya kembali perang kelaparan di Gaza.
Selama lebih dari dua tahun genosida di Gaza, Israel menerapkan kelaparan sistematis sejak beberapa bulan pertama. Namun pada Maret 2025, Israel sepenuhnya memutus semua pasokan makanan ke Gaza selama tiga bulan. Kemudian, Israel kembali mengizinkan aliran bantuan yang sangat sedikit ke Jalur Gaza di bawah tekanan internasional yang luar biasa. Israel menerapkan “rekayasa kekacauan” yang bertujuan untuk mencegah warga Palestina mencapai lokasi bantuan atau menghambat pengiriman bantuan yang aman kepada mereka yang membutuhkan. Pada Agustus tahun itu, badan pemantau kelaparan terbesar di dunia secara resmi menyatakan terjadinya kelaparan di Gaza.
Baca juga : “Imbas Perang Israel-Iran, Gaza Kembali Terblokade“
Pada Sabtu pagi, harga gula, daging, keju, dan komoditas pangan pokok lainnya telah naik dua kali lipat. Badan COGAT Israel, yang bertanggung jawab untuk mengelola wilayah Palestina yang dijajah, mengumumkan bahwa semua perbatasan akan mereka tutup. Sementara itu, bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza akan mendapat penangguhan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah tersebut digambarkan COGAT sebagai hasil dari “penyesuaian keamanan yang diperlukan.”
Namun pernyataan tersebut mengklaim bahwa penutupan itu “tidak akan berdampak pada situasi kemanusiaan” di Gaza. Mereka mengklaim “sejumlah besar makanan” konon telah masuk sejak gencatan senjata pada Oktober 2025, bahkan “mencapai empat kali lipat kebutuhan gizi penduduk.”
Pernyataan COGAT secara konsisten bertentangan dengan laporan dari badan-badan bantuan internasional. Mereka menegaskan bahwa Israel secara sistematis gagal memenuhi jumlah truk bantuan dalam kesepakatan gencatan senjata (sekitar 600 truk per hari, sedangkan hanya sekitar 200 yang tercatat dalam manifes penyeberangan perbatasan).
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sepanjang Januari, “jatah makanan mencakup 100 persen dari kebutuhan kalori harian minimum,” suatu angka yang menurun pada bulan berikutnya menjadi 75 persen. Lebih jauh lagi, truk yang benar-benar mendapat izin untuk menurunkan bantuan secara konsisten kurang dari jumlah yang terdaftar di penyeberangan perbatasan, menurut laporan situasi mingguan OCHA selama beberapa bulan terakhir.
Ramadan tahun lalu, warga Palestina di Gaza berpuasa di tengah kelaparan. Setelah gencatan senjata, mereka tidak menyangka harus mengalami kondisi serupa untuk tahun kedua berturut-turut tahun ini.
Sumber: Mondoweiss








