Kementerian Kesehatan Gaza pada Selasa (09/06) mengatakan bahwa Israel menghalangi keberangkatan lebih dari 17.000 warga Palestina untuk perawatan medis di luar negeri. Mereka memperingatkan bahwa angka kematian dapat meningkat di antara pasien yang menunggu perawatan.
“Jumlah rujukan medis yang tercatat telah mencapai 17.757 per tanggal 20 Mei,” kata Pelaksana Tugas Wakil Menteri Kesehatan, Maher Shamiya. Ia melaporkan dalam konferensi pers di Kompleks Medis Al-Shifa di Kota Gaza.
Dia melaporkan bahwa hanya 3.226 orang yang berhasil meninggalkan wilayah tersebut. Mereka berangkat melalui penyeberangan Rafah dan Karam Abu Salem (Kerem Shalom), termasuk 1.204 pasien.
Baca juga : “Dokter Gaza Hussam Abu Safiya Dipindah ke Sel Isolasi, Pengacara Ungkap Kondisi Memprihatinkan”
Sektor kesehatan Gaza mengalami keruntuhan besar-besaran menyusul genosida Israel selama dua tahun. Serangan telah menyebabkan kerusakan luas pada rumah sakit dan infrastruktur kesehatan, serta kekurangan obat-obatan, bahan bakar, dan perlengkapan medis yang parah.
Penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir telah terbuka kembali sebagian pada bulan Februari. Ini merupakan bagian dari fase pertama perjanjian gencatan senjata yang AS sponsori. Sebelumnya, penyeberangan tertutup selama 20 bulan menyusul pengambilalihan oleh tentara Israel pada Mei 2024.
Israel menutup kembali perlintasan tersebut pada akhir Februari dengan dalih perang dengan Iran, sebelum kemudian membukanya secara terbatas pada Maret dan April.
Penyeberangan tersebut beroperasi secara sangat terbatas hanya untuk pejalan kaki sejak 21 Mei. Setiap harinya, hanya puluhan pasien, orang terluka, dan kasus kemanusiaan yang dapat melewati penyeberangan ini di bawah pengawasan ketat Israel. Sementara itu, ribuan kasus lainnya tetap terperangkap di dalam Gaza menunggu giliran perjalanan untuk perawatan medis.
Shamiya mengatakan bahwa kesenjangan yang lebar antara jumlah pasien yang membutuhkan perawatan dan mereka yang mendapat izin pulang mencerminkan “kesenjangan kemanusiaan yang berbahaya”. Kesenjangan ini memperburuk penderitaan pasien dan meningkatkan angka kematian harian di antara mereka.
“Israel bertanggung jawab atas krisis ini,” kata Shamiya. Ia menunjuk pada prosedur pemeriksaan keamanan yang panjang dan berkurangnya hari perjalanan melalui perbatasan sebagai penyebab penurunan tajam jumlah keberangkatan.
Perjalanan melalui perbatasan darat Rafah dengan Mesir kini terbatas, paling banyak, hanya tiga hari dalam sepekan. Sementara itu, hanya satu hari yang dialokasikan untuk evakuasi medis ke Mesir melalui perbatasan Karem Abu Salem dengan Israel, kata Shamiya.








