Israel Gunakan Kelompok Lintas Agama untuk Normalisasi Apartheid

Israel telah menggunakan aliansi antaragama untuk memecah belah masyarakat dan membentuk kembali persepsi mengenai praktik kolonial dan apartheid Israel. Sebuah seminar di London menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Kamis (16/6).

Acara bertajuk “Faithwashing: Bagaimana Kelompok Lintas Agama Digunakan untuk Menormalkan Apartheid Israel” diselenggarakan di Galeri P21 oleh Forum Palestina di Inggris yang bekerja sama dengan Forum EuroPal. Seminar itu menyoroti bagaimana dialog dan pengorganisasian antaragama bukanlah sesuatu yang negatif. Kerjasama antar agama harus berdasar pada rasa hormat dan prinsip-prinsip humanis. Bukan berdasarkan kepemimpinan pihak yang mendukung atau berkontribusi pada praktik kolonial Israel.”

Menurut Batool Subeiti yang merupakan penyelenggara seminar tersebut, Israel dan kelompok-kelompok yang mendukung mereka telah lama mendorong gagasan bahwa kenyataan yang berlangsung dalam masalah Israel-Palestina adalah isu agama, bukan isu politik. Sehingga, jika Anda tidak mendukung pembersihan etnis, Anda melawan hak beragama. Gagasan ini, menurut Subeiti, membalikkan korban menjadi pelaku dan pelaku menjadi korban.

Berbicara pada acara tersebut, Direktur MEMO Dr. Daud Abdullah menjelaskan bahwa inti dari ‘pencucian iman’ adalah “gagasan bahwa persaingan Yahudi-Muslim adalah sesuatu yang endemik. Itu merupakan hal yang mengakar, tidak dapat kita hapus dan kenyataan yang harus kita jalani.”

Padahal, dia melanjutkan: “Ini tidak benar dan bertentangan dengan fakta sejarah.” Abdullah mengutip pemerintahan Muslim di Eropa sebagai contoh utama tempat komunitas Muslim, Yahudi dan Kristen bisa hidup bersama secara damai.

Menindaklanjuti presentasi Abdullah, Koordinator Umum Kairos Palestina, Rifat Odeh Kassis berbicara tentang topik tersebut dari perspektif Kristen Palestina. Di sini, Kassis mencatat bahwa “jelas perlu adanya kerja sama antaragama untuk meredakan ketegangan, terutama yang terjadi di Palestina sekarang.”

Kassis menambahkan. “Ada perbedaan antara dialog antaragama dan normalisasi. Ada perbedaan besar antara berada di sisi keadilan dan sisi penindasan.” kemudian Ia menambahkan bahwa dialog antaragama harus menerima perlawanan Palestina terhadap praktik kolonial Israel dan bahwa perlawanan semacam itu tidak boleh ada kriminalisasi.

Sumber:

https://www.middleeastmonitor.com/20220620

***

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina dan artikel terkini.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Free Email Updates
We respect your privacy.

Leave a Reply