Menteri sayap kanan Israel Ben Gvir kembali menuai kecaman setelah muncul dalam video yang mengejek perempuan Palestina yang berada di penjara. Video tersebut direkam di Penjara Damon dan ditayangkan Channel 14 Israel pada Ahad, 30 Agustus 2026.
Dalam rekaman tersebut, seorang perempuan tawanan menyampaikan keluhan mengenai kondisi yang sangat buruk. Kondisi tersebut termasuk ketiadaan air untuk mandi selama tiga hari, pakaian yang tidak layak, serta pengabaian kebutuhan medis dasar.
Menanggapi keluhan tersebut, Ben Gvir secara terang-terangan menolak. Ia menyatakan bahwa masa-masa kenyamanan bagi para tawanan telah berakhir. Ia bahkan menyebut rintihan para tawanan tersebut sebagai “rengekan” dalam sebuah unggahan di platform X, serta menegaskan kembali pernyataannya bahwa penjara bukanlah sebuah hotel.
Sejak menjabat pada akhir 2022, Ben Gvir mendorong kebijakan represif yang memperketat kondisi penahanan warga Palestina. Hal ini mencakup pembatasan makanan, pengabaian medis, penyiksaan, dan kurungan isolasi.
Menurut laporan kelompok hak asasi Palestina dan Israel, sekitar 9.500 tawanan Palestina kini berada di penjara Israel. Jumlah tersebut mencakup 94 perempuan dan lebih dari 350 aanak
Masyarakat Sipil Palestina (PPS) menyatakan kecaman terhadap tindakan Ben Gvir dan menyatakan bahwa video tersebut menyerang martabat para perempuan tawanan. Kelompok HAM lainnya turut memperingatkan bahwa penyebaran video semacam ini dapat menormalisasi praktik penghukuman terhadap tawanan Palestina.
Kontroversi ini menambah panjang rekam jejak kebijakan keras Ben Gvir, yang sebelumnya juga mendorong rancangan undang-undang hukuman mati bagi tawanan Palestina di Knesset pada Maret lalu








