Hari kedua London Halal Forum dibuka dengan penyajian sarapan tradisional Palestina untuk memperkenalkan kekayaan kuliner dan warisan budaya Palestina. Acara tahunan ini berlangsung di Queen Elizabeth II Centre, London, dan Halal360 selenggarakan bersama Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) serta Halal Products Development Company (HPDC).
Para peserta menikmati hidangan khas Palestina, seperti hummus, za’atar, labneh, dan falafel. Bilal Erdogan, Wakil Ketua Dewan Pengawas Ibn Haldun University, menyampaikan bahwa kehadiran para peserta yang peduli terhadap Palestina memiliki makna penting. Ia menyoroti kondisi kemanusiaan yang terus memburuk selama tiga tahun terakhir.
Erdogan menyebut bahwa genosida masih berlangsung meski terdapat kesepakatan gencatan senjata. “Setiap hari terjadi serangan. Setiap hari ada pembunuhan, bukan hanya di Gaza, tetapi juga di Tepi Barat,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa situasi di Tepi Barat serta Al-Quds bagian timur kian memprihatinkan, sehingga negara-negara di dunia perlu mengelola sumber daya secara strategis guna memperkuat solidaritas dan dukungan nyata bagi rakyat Palestina.
Erdogan turut menyinggung sanksi sejumlah negara Barat terhadap perdagangan dengan permukiman ilegal Israel. Ia berharap langkah tersebut dapat meluas hingga mencakup produk-produk Israel secara keseluruhan.
Ia menekankan pentingnya pemberdayaan produsen, investor, dan perusahaan rintisan Palestina. Upaya tersebut, menurutnya, perlu berkembang dari sektor pangan menuju teknologi, kedokteran, dan bidang lainnya.
Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, menegaskan bahwa genosida masih berlangsung di Gaza. Ia juga menyebut pembersihan etnis terus terjadi di Tepi Barat, termasuk melalui serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina yang memanen zaitun.
Zomlot menambahkan bahwa Palestina telah menghadapi perang ekonomi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Forum bertema Halal Tayyib for Humanity ini membahas perkembangan ekonomi halal, mulai dari investasi, pariwisata, teknologi, rantai pasok, hingga perdagangan internasional. Acara tersebut juga menayangkan video tentang Museum Palestina yang mendokumentasikan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Palestina.
Sumber: TRT World








