Dua bayi perempuan Palestina meninggal akibat luka bakar setelah kebakaran melanda tenda pengungsian di al-Mawasi, Khan Younis, Gaza selatan, pada Sabtu (31/10). Keduanya adalah Habiba Zannoun (4 bulan) dan Aseel Abu Suhaiban (6 bulan). Kebakaran juga melukai seorang perempuan dan menghanguskan seluruh isi tenda.
Kebakaran terjadi di Kamp Pengungsian al-Nakhil, dekat kawasan Eita. Peristiwa serupa terus mengancam warga Palestina yang tinggal di tenda-tenda darurat tanpa perlindungan dan perlengkapan keselamatan memadai.
Musibah ini terjadi di tengah krisis sistematis kesehatan yang melanda anak-anak di Gaza. Lembaga kemanusiaan Save the Children mengeluarkan peringatan keras bahwa jumlah anak-anak yang berhasil dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis darurat di luar Gaza telah anjlok hingga 75% jika dibandingkan dengan periode tahun pertama agresi.
Sekitar 21.000 warga Palestina yang sakit dan terluka masih menunggu izin untuk meninggalkan Gaza demi mendapatkan perawatan medis. Proporsi pasien anak mencakup seperempat dari total antrean pasien tersebut.
Penundaan dan penolakan izin evakuasi oleh otoritas pendudukan membuat pasien anak-anak yang membutuhkan operasi darurat maupun penanganan luka bakar parah gagal mendapatkan perawatan medis tepat waktu, yang berujung pada tingginya angka kematian yang seharusnya dapat dicegah.
Keluarga Palestina di Mesir Hadapi Kesulitan
Save the Children juga menyoroti kesulitan yang dihadapi keluarga Palestina yang telah meninggalkan Gaza menuju Mesir. Organisasi tersebut mendukung “Little Gaza”, ruang aman ramah anak di Kairo yang menyediakan layanan bagi anak-anak dan keluarga Palestina.
Namun, ancaman pemotongan pendanaan dapat memaksa fasilitas itu tutup tahun depan. Padahal, sekitar 5.000 orang masih menunggu akses terhadap layanannya.
Sejak awal agresi, Save the Children telah membantu sekitar 18.000 warga Palestina di Mesir. Meski demikian, kebutuhan dasar banyak keluarga masih belum terpenuhi. Sebanyak 93% orang yang menghubungi layanan bantuan organisasi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Sementara itu, 75% keluarga tidak memiliki penghasilan dan 90% tidak memiliki tabungan.
Data tersebut menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan terus membayangi anak-anak dan keluarga Palestina, baik di Gaza maupun di luar wilayah tersebut. Di Gaza, mereka menghadapi tempat pengungsian yang tidak aman dan terbatasnya akses terhadap perawatan medis. Di Mesir, keluarga pengungsi masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar akibat tekanan finansial dan berkurangnya dukungan.
Sumber: Palinfo








