Organisasi kemanusiaan medis Doctors Without Borders (MSF) mengeluarkan peringatan bahwa mereka tidak lagi mampu melanjutkan layanan perawatan pasien luka bakar di Jalur Gaza. Pembatasan Israel terhadap masuknya bahan dan perlengkapan medis telah menghentikan produksi masker khusus untuk perawatan luka bakar pada wajah. Kondisi ini meningkatkan risiko kecacatan permanen, terutama bagi pasien anak-anak.
Dalam pernyataan pada Sabtu, (31/10) , MSF menjelaskan bahwa blokade terhadap suplai medis dasar telah melumpuhkan kapasitas klinis mereka dalam menangani pasien dengan luka di bagian wajah. Dokter Feras Swairjo, manajer fisioterapi MSF, mengatakan bahwa organisasi tersebut terakhir kali memproduksi masker hasil cetak tiga dimensi (3D) untuk pasien luka bakar parah di Gaza pada 14 Oktober 2026.
“Kami memiliki keahlian medis dan kapasitas untuk membantu pasien-pasien ini. Namun, kami tidak mendapatkan bahan dasar yang kami butuhkan untuk menjalankan pekerjaan tersebut,” ujar Swairjo.
Menurutnya, MSF setiap hari menyaksikan dampak berat luka bakar terhadap pasien di Gaza. Banyak di antaranya merupakan anak-anak. Sebagian dari mereka mengalami luka bakar berskala luas akibat serangan udara Israel, sementara sebagian lainnya mengalami luka bakar ketika memasak di dalam tenda pengungsian yang penuh sesak atau ketika menggunakan api terbuka.
Tanpa masker khusus tersebut, pasien berisiko mengalami kerusakan bentuk wajah secara permanen. Mereka juga dapat mengalami kecacatan yang memengaruhi kemampuan bergerak, melihat, bahkan bernapas secara normal.
Swairjo mendesak Israel menghentikan pembatasan yang menurutnya menciptakan krisis buatan tersebut. Ia juga meminta agar bahan-bahan medis yang dibutuhkan untuk merawat pasien dapat masuk ke Gaza tanpa hambatan.
Sumber: Palinfo








