Setahun setelah kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza diberlakukan, situasi di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan dan krisis kemanusiaan yang mendalam masih terus berlanjut. Berdasarkan laporan dari Palestinian Center for Human Rights (PCHR), ribuan korban jiwa dan luka-luka tercatat selama periode pemantauan tersebut.
Sepanjang satu tahun gencatan senjata, Israel masih terus meluncurkan serangan yang mengakibatkan setidaknya 1.445 warga Palestina terbunuh dan 5.072 lainnya mengalami luka-luka. Dari total korban yang terbunuh, 312 orang merupakan anak-anak dan 139 lainnya adalah perempuan.
Namun, angka tersebut belum mencakup para korban yang hingga kini masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Di samping itu, PCHR mencatat sekitar 2.500 kasus cedera baru yang memerlukan penanganan rehabilitasi intensif selama masa gencatan senjata.
Baca juga: 5.304 Pelanggaran Gencatan Senjata Gaza dalam Setahun, Guterres Desak Perdamaian Permanen
Akumulasi agresi yang masih berlangsung ini telah menyebabkan total korban dengan cedera yang berpotensi mengubah kehidupan mencapai sekitar 43.000 orang. Para penyintas ini meliputi individu dengan kasus amputasi, cedera tulang belakang, cedera otak, hingga luka bakar tingkat parah.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh kelumpuhan sektor kesehatan dan minimnya pasokan esensial. Sekitar 47 persen obat-obatan penting telah habis, sedangkan lebih dari 20.000 pasien dan korban luka membutuhkan perawatan di luar Gaza.
Di sisi lain, sekitar 94 persen penduduk Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan nonpangan. Sekitar dua pertiga wilayah Gaza juga masih berada di bawah kendali militer Israel.
Arus masuk bantuan kemanusiaan juga masih jauh dari kata memadai untuk mencukupi kebutuhan populasi. Rata-rata hanya 211 truk bantuan yang berhasil memasuki Gaza setiap harinya selama periode tersebut.
Dampak sosial dari agresi berkepanjangan ini meninggalkan luka mendalam bagi masa depan generasi muda. Tercatat sekitar 60.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka, sementara lebih dari 26.000 perempuan menjadi janda.
Sektor pendidikan dan perekonomian turut mengalami kehancuran total, Anak-anak di Gaza harus kehilangan akses terhadap pendidikan formal selama tiga tahun berturut-turut.
Menanggapi situasi ini, PCHR menilai bahwa gencatan senjata yang ada belum mampu membuka jalan yang nyata menuju pemulihan. Meskipun intensitas serangan Israel sempat berkurang, kesepakatan tersebut belum mengakhiri berbagai kondisi yang memperburuk krisis kemanusiaan.
Karena itu, PCHR menilai gencatan senjata Gaza belum membuka jalan menuju pemulihan. Menurut laporan tersebut, gencatan senjata Gaza mengurangi intensitas serangan, tetapi belum mengakhiri kondisi yang memperburuk krisis.
PCHR kemudian menyerukan tindakan internasional untuk melindungi warga Gaza, membuka akses bantuan, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Dengan demikian, gencatan senjata Gaza perlu disertai langkah pemulihan yang nyata.
Sumber: Palinfo








