Program ruang aman perempuan Gaza hadir sebagai tempat perlindungan bagi para penyintas perang untuk memulihkan trauma psikologis mendalam. Melalui sesi dukungan psikososial, diskusi kelompok, dan edukasi, inisiatif ini kian diminati oleh para perempuan yang terdampak langsung oleh agresi di Jalur Gaza.
Program ini merupakan inisiati dari Collective Development Projects di Kamp Al-Amal, Deir al-Balah. Puluhan perempuan rutin mengikuti program ini setiap harinya. Dengan pendampingan psikolog dan fasilitator, para peserta dapat berbagi pengalaman, saling menguatkan, serta mempelajari strategi mengatasi tekanan mental akibat perang dan pengungsian.
Koordinator lapangan, Alaa Daoud, mengatakan program ruang aman perempuan Gaza tercipta agar perempuan dapat berbicara tanpa rasa takut. Selain memberikan pendampingan psikologis, program ini juga membahas pengasuhan anak, tekanan ekonomi, serta kesehatan mental.
Baca juga: “Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan”
Salah satu peserta, Ola Saleh, kehilangan suaminya pada Agustus 2025 dan kini membesarkan lima anak seorang diri. Menurutnya, ruang aman perempuan Gaza memang tidak menghapus kesedihan, tetapi memberinya harapan untuk terus bertahan.
Peserta lain, Suad al-Gharabali, turut berbagi pengalaman setelah kehilangan dua putranya akibat serangan udara. Ia memanfaatkan ruang aman perempuan Gaza untuk mendukung ibu-ibu muda yang menghadapi tantangan membesarkan anak di tengah agresi.
Menurut data UN Women, sekitar 16.000 perempuan di Gaza kehilangan suami sejak Oktober 2023. Akibatnya, satu dari tujuh keluarga kini menjadikan perempuan sebagai kepala keluarga. Program ruang aman perempuan Gaza diharapkan terus berkembang agar semakin banyak penyintas memperoleh dukungan psikologis dan sosial.
Sumber: Al Jazeera








