Serangan militer Israel di Jalur Gaza kembali memakan korban jiwa setelah sedikitnya 11 warga Palestina terbunuh pada Selasa (14/7). Salah satu target utama dalam serangan tersebut adalah Kepala Kantor Polisi Kamp Jabalia, Kolonel Mohammed Marwan Salem. Kepala Polisi tersebut gugur bersama sejumlah anggota kepolisian lainnya. Insiden tragis ini menambah daftar panjang pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi di wilayah tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Gaza melaporkan bahwa serangan drone Israel menghantam pos polisi di Kamp Pengungsi Jabalia, sebuah kawasan padat yang kini menjadi lokasi tenda pengungsi dan pusat evakuasi sementara. Serangan ini merenggut nyawa tujuh orang, termasuk seorang perempuan. Seluruh jenazah korban telah dievakuasi ke Kompleks Medis Al-Shifa dan rumah sakit lapangan Amerika untuk penanganan lebih lanjut.
Baca juga: “Perluasan “Garis Kuning” di Gaza: Upaya Israel Mengubah Kondisi Lapangan dan Ancaman bagi Warga Sipil”
Pada waktu yang sama, serangan mematikan lainnya menyasar tenda pengungsi di barat daya Kota Gaza, membunuh dua warga. Sementara itu, serangan drone di dekat Menara Tayba, Khan Younis, menyebabkan satu orang terbunuh dan tiga lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu dii Rafah, tembakan tentara Israel membunuh seorang anak bernama Moataz Abu Shaar.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, sedikitnya 1.108 warga Palestina telah terbunuh dan 3.578 lainnya terluka. Angka ini memperburuk rekapitulasi total korban sejak perang dimulai pada Oktober 2023, dengan lebih dari 73.000 warga Palestina meninggal dunia dan lebih dari 173.000 lainnya mengalami luka-luka. Selain ancaman kemanusiaan yang masif, serangan terus-menerus ini juga telah melumpuhkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di seluruh Jalur Gaza.








