“Aku bermimpi tentang kehidupan yang aman dan bermartabat yang mengembalikan sedikit stabilitas dan keamanan untukku, saudara-saudaraku, dan ibuku setelah bertahun-tahun mengalami kehilangan dan penderitaan.” – Rahaf Hussein Tawfiq Masoud, yatim Gaza penerima manfaat DYP
Di balik takbir yang menggemakan langit Gaza, ada ribuan anak yatim yang menyambut Iduladha 1447 H dalam sunyi yang menyayat. Tidak ada baju baru, tidak ada meja makan dengan hidangan daging, tidak ada pelukan ayah yang membawa mereka ke lapangan salat Id. Yang ada hanyalah tenda sesak, antrean panjang di dapur umum, dan kenangan tentang sosok yang tak akan pernah kembali.
Inilah realita yang dihadapi 1.937 anak yatim penerima manfaat program Dekap Yatim Palestina (DYP) Adara Relief International, terhitung sejak penyaluran dimulai pada April hingga Mei 2026. Mereka tersebar di sepuluh wilayah Gaza — dari Jabalia di utara hingga Rafah di selatan — dan semuanya hidup dalam tekanan kemanusiaan yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern umat manusia.
Kondisi ini bukan sekadar angka di atas kertas. UNICEF mencatat bahwa hingga pertengahan Juni 2026, sedikitnya 265 anak Palestina terbunuh sejak gencatan senjata Oktober 2025 diumumkan — rata-rata satu anak per hari. Lembaga PBB itu bahkan menyebut gencatan senjata yang berlaku sebagai “ilusi mematikan” karena kekerasan terus berlanjut. Di tengah situasi inilah anak-anak yatim Gaza berusaha bertahan.
Saat Iduladha Menjadi Hari Paling Menyakitkan
Bagi sebagian besar anak yatim di Gaza, momen Iduladha justru mempertebal luka. Perayaan yang secara tradisi identik dengan kebersamaan keluarga, hidangan daging qurban, dan suka cita itu kini hadir sebagai pengingat pahit atas kehilangan yang belum sembuh.
Di Deir Balah, anak-anak yatim hidup berhimpit di tenda-tenda pengungsian tanpa air bersih yang memadai dan sanitasi yang layak. Daging dan makanan bergizi menjadi barang langka yang hanya sesekali tersedia melalui bantuan terbatas. Di Khan Younis, anak-anak menghadapi gelombang pengungsian yang berulang, terpaksa berpindah dari satu titik ke titik lain sambil menanggung trauma kehilangan orang tua.
Rahaf Hussein Tawfiq Masoud adalah salah satunya. Ayahnya gugur sebagai anggota Tim Pertahanan Sipil saat agresi 2014 — saat Rahaf baru berusia tiga tahun. Kini ia tinggal bersama ibu dan dua saudaranya, Yousef dan Saba, di sebuah tenda di Al-Mawasi, Khan Younis, bersama keluarga pamannya. Ibunya menanggung kondisi fisik yang berat: dislokasi tulang pinggul bawaan disertai peradangan parah yang membutuhkan operasi penggantian sendi — namun tidak ada fasilitas kesehatan yang mampu menanganinya.
“Selama perang terakhir, kami kehilangan rumah dan semua yang kami miliki. Kami berpindah tempat berkali-kali hingga akhirnya menetap sementara di Al-Mawasi, Khan Younis, di mana kami kini hidup di tenda bersama keluarga paman dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit, kekurangan air dan kebutuhan dasar,” tutur Rahaf.
1.937 Anak: Sebuah Angka yang Hidup
Program DYP Adara saat ini menjangkau 1.937 anak yatim yang tersebar di sepuluh wilayah Gaza. Setiap angka mewakili seorang anak dengan nama, wajah, dan luka yang nyata.
| Lokasi | Jumlah Anak Yatim | Kondisi |
| Deir Balah | 405 |
|
| Kota Gaza | 388 |
|
| Jabalia | 296 |
|
| Rafah | 220 |
|
| Al-Maghazi | 155 |
|
| Khan Younis | 150 |
|
| Nuseirat | 138 |
|
| Gaza Utara | 130 |
|
| Beit Hanoun | 35 |
|
| Beit Lahia | 20 |
|
Kehidupan Sehari-hari: Bertahan adalah Perjuangan
Aktivitas keseharian anak-anak yatim Gaza tidak lagi berkisar pada belajar dan bermain. Bangun pagi berarti memulai perjuangan: antre berjam-jam di dapur umum demi satu porsi makan, mengumpulkan air dari titik distribusi yang sesak, atau sekadar mencari tempat aman dari terik matahari yang memanggang tenda tipis mereka.
Obaida Musab Al-Sheikh, 10 tahun, kehilangan ayahnya saat masih berusia tiga tahun. Setelah ibunya menikah lagi, ia diasuh oleh bibinya, Maha, yang menerimanya sebagai anak sendiri. Tapi agresi yang terus berlangsung memaksa mereka berpindah-pindah berkali-kali.
“Selama perang terakhir, kami hidup dalam kondisi yang sangat sulit dan berpindah tempat berkali-kali saat melarikan diri dari pemboman dan bahaya. Kami mengalami ketakutan dan ancaman kematian terus-menerus, dan perang sangat memengaruhi kehidupan, pendidikan, dan kesejahteraan psikologis kami,” ungkap Obaida.
Namun di tengah semua itu, harapan tidak padam. “Aku bermimpi untuk hidup aman dan bermartabat, kembali ke sekolah, dan melanjutkan pendidikanku seperti anak-anak lain di seluruh dunia, jauh dari perang dan ketakutan,”lanjutnya.
Secara psikologis, kondisi anak-anak ini mengkhawatirkan. Pengungsian berulang, kehilangan anggota keluarga, dan paparan kekerasan yang terus-menerus telah meninggalkan bekas mendalam. Banyak anak menunjukkan tanda-tanda kecemasan, trauma, dan kelelahan emosional, sementara akses terhadap layanan dukungan psikososial nyaris tidak tersedia.
Di bidang pendidikan, mayoritas anak masih menghadapi gangguan besar. Sekolah hancur, tempat pengungsian penuh sesak, dan sumber daya belajar hampir tidak ada. Meski ada inisiatif pembelajaran darurat di beberapa titik seperti Nuseirat, kapasitasnya jauh dari memadai.
Ketika Adara Hadir di Tengah Mereka
Di tengah keterbatasan akses dan risiko keamanan yang nyata, tim lapangan Adara tetap teguh menjalankan misi kemanusiaan mereka. Ini bukan tugas yang mudah, karena bekerja di wilayah perang aktif menuntut keberanian, ketekunan, dan komitmen yang tidak goyah. Namun justru di sinilah amanah dari Sahabat Adara diemban: memastikan setiap bantuan benar-benar sampai ke tangan anak-anak yatim yang paling membutuhkan.
Tantangan yang dihadapi tidaklah ringan: paparan terus-menerus terhadap pengeboman telah membuat lingkungan kerja tim lapangan menjadi sangat tidak stabil dan penuh risiko. Kerusakan infrastruktur yang meluas serta pergerakan warga yang terus berpindah akibat pengungsian turut menyulitkan akses menuju komunitas terdampak dan pelaksanaan tindak lanjut yang berkesinambungan. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya — baik finansial maupun pasokan penting — menjadi tantangan tersendiri yang berpotensi mempengaruhi jangkauan dan kesinambungan program.
Namun demikian, kepercayaan dan dukungan para Sahabat Adara selaku orang tua asuh menjadi penguat yang sesungguhnya — sebuah amanah yang memberi energi bagi tim lapangan untuk terus melangkah meski medan yang dihadapi penuh rintangan. Justru di sinilah amanah itu diemban: memastikan setiap bantuan benar-benar sampai ke tangan anak-anak yatim yang paling membutuhkan.
Kehadiran program ini bukan sekadar transfer materi. Ia adalah sinyal bahwa di luar Gaza, ada hati-hati yang peduli — bahwa anak-anak yatim ini tidak sendirian menanggung beban yang jauh melampaui usia mereka.
“Aku dengan tulus berterima kasih kepada semua yang telah memberikan bantuan dan dukungan, dan aku berdoa agar Allah membalas mereka dengan berlimpah,” tulis Obaida menutup kesaksiannya.
Terus Bersama Mereka
Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Fasilitas desalinasi berhenti beroperasi karena kehabisan bahan bakar, mengancam pasokan air minum ratusan ribu warga. Angka keguguran melonjak drastis hingga tiga kali lipat rata-rata global. Layanan kesehatan di ujung tanduk. Dan di tengah semua itu, 1.937 anak yatim yang dijangkau program DYP terus berdiri, dengan ketabahan yang melampaui usia mereka.
Setiap kontribusi Sahabat Adara adalah nafas bagi mereka — bukan hanya pemenuhan kebutuhan materi, tapi kepastian bahwa dunia belum berpaling dari Gaza.
Baca laporan DYP bulan sebelumnya: Anak Yatim Gaza: Saat Tangan-Tangan Kecil Memikul Beban Kehidupan di Tanah Kelahiran – Laporan DYP Maret 2026








