JAKARTA — Masyarakat sipil dunia kembali bergerak menembus blokade Israel untuk membuka koridor bantuan kemanusiaan melalui Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Indonesia menjadi salah satu negara yang terlibat aktif dalam gerakan ini melalui Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Pada misi ini, Indonesia tidak hanya mengirimkan delegasi, tetapi juga turut berpartisipasi dalam berbagai tahapan. Mulai dari persiapan serta pengawasan armada, konsolidasi internasional, konvoi laut, dan konvoi darat. Tak hanya itu, GPCI turut mengirim 3 kapal hasil urunan dari warga Indonesia.

Keterlibatan Indonesia dalam misi ini bermula dari Launching Global Sumud Flotilla 2.0 pada (26/2), yang mempertemukan berbagai lembaga kemanusiaan, aktivis, tokoh masyarakat, dan relawan yang ingin mengambil bagian dalam misi solidaritas global untuk Palestina.
Persiapan semakin matang ketika Indonesia turut terlibat dalam jajaran Steering Committee GSF melalui Maimon Herawati yang juga menjadi Koordinator GPCI.
Keterlibatan tersebut turut membuka ruang bagi relawan Indonesia untuk bergabung dalam armada. Juga, memastikan jurnalis Indonesia dapat ikut serta dalam pelayaran, guna mendokumentasikan perjalanan dan menyuarakan kondisi Gaza kepada dunia.
Sebagai alumni GSF 2025, Adara juga terlibat aktif dalam forum GPCI. Maryam Rachmayani (Direktur Utama) sebagai Dewan Pengarah, Latifah Hariawati sebagai anggota, serta tim Marcomm yang juga masuk dalam tim media internal GPCI.
Liberation Lab dan Brussels Declaration
Sebelum armada bergerak menuju Gaza, berbagai tokoh dunia terlebih dahulu menyatukan suara melalui konsolidasi internasional.

Liberation Lab pada 10-11 April di Barcelona menjadi bagian dari Global Sumud Flotilla 2026 Launch yang mengawali rangkaian misi. Forum ini mempertemukan berbagai influencer dunia, dengan Maimon Herawati, Wanda Hamidah, Husein Gaza, Adhin, serta Chiki Fawzi mewakili influencer Indonesia.

Berikutnya, Global Sumud Parliamentary Congress di Brussel, Belgia (22/4). Forum ini mempertemukan ratusan peserta dari 100 negara untuk membahas langkah konkrit untuk Palestina.
Maimon Herawati, Wanda Hamidah, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, Feri Amsari, Arif Rahmadi Haryono, Prof. Heru Susetyo, serta Gustika Yusuf Hatta mewakili Indonesia pada forum ini.
Kongres ini kemudian menghasilkan Brussels Declaration. Deklarasi ini menyerukan perlindungan bagi aktor kemanusiaan, pembukaan akses bantuan, perlindungan terhadap rakyat Palestina, serta akuntabilitas atas berbagai pelanggaran hukum internasional yang terjadi di Palestina.
Tanda tangani dukungan untuk Brussels Declaration di sini.
Sea Convoy
Setelah melalui berbagai tahap persiapan, armada laut Global Sumud Flotilla mulai bergerak dari sejumlah pelabuhan di Eropa. Gelombang pertama sebanyak 20 Kapal Thousand Madleens to Gaza berangkat dari Marseille, Prancis (4/4).
Selanjutnya, 70 armada bergerak dari Barcelona (12/4), dengan Maimon Herawati dan Chiki Fawzi turut berlayar. Selanjutnya, 56 armada bergerak dari Italia (26/4). Pada 29-30 April, Israel membajak puluhan kapal dan menculik aktivis di dekat perairan Crete, Yunani.
Namun, misi tak berhenti sampai di sini. Sebanyak 54 armada kembali berlayar dari Pelabuhan Albatros, Marmaris, Turki (16/5), dengan 9 WNI ikut serta, terdiri dari 5 relawan kemanusiaan dan 4 jurnalis.
Aktivis yang berlayar meliputi: Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu yang berada di Kapal Zapyro; Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef; Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1; Bambang Noroyono di Kapal BoraLize; Thoudy Badai, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk. Sementara itu, Maimon dan Chiki berada di Turki untuk memantau jalannya misi.
Pada 18–19 Mei 2026, seluruh armada GSF diintersep oleh militer Israel di perairan internasional. Sedikitnya 5 kapal mengalami serangan, sementara 68 kapal dibajak dan 428 aktivis dari 40 negara diculik militer Israel.
Para aktivis kemudian dipindahkan ke kapal tahanan lalu dibawa ke Penjara Ketziot. Selama masa penahanan, aktivis mengalami tindakan kekerasan, intimidasi, perlakuan tidak manusiawi, hingga pelecehan seksual.
Sejak awal, Global Sumud Flotilla telah menyiapkan mekanisme koordinasi darurat. Melalui jaringan hukum internasional, sesampainya di Ashdod para aktivis segera mendapatkan pendampingan hukum dari tim Adalah.
Sementara itu, GPCI terus mengawal proses pembebasan para aktivis melalui koordinasi dengan pemerintah Indonesia. Dewan Pengarah melakukan audiensi dengan MUI, MPR, Komisi I DPR RI, DTT Kemlu, serta Menlu. Mereka juga aktif menjadi narasumber berbagai media untuk memastikan kasus penculikan aktivis Global Sumud Flotilla terus mendapat perhatian publik dan mendorong pemerintah mengambil langkah konkret untuk pembebasan.
Setelah aktivis GSF bebas, Pemerintah Turki kemudian membantu proses pemulangan para delegasi dengan menyediakan tiga pesawat menuju Istanbul. Setibanya di Istanbul (21/5), aktivis menjalani pemeriksaan kesehatan, pendampingan hukum, dan proses kepulangan ke negara masing-masing.

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Indonesia membelikan tiket pulang dan turut menyambut kedatangan para aktivis Indonesia di Bandara Soekarno Hatta (24/5).
Land Convoy
Selain armada laut, terdapat pula armada darat yang berkolaborasi dengan Maghreb Sumud Organisation dari Afrika Utara. Armada ini terdiri dari 7 ambulans, 10 truk bantuan kemanusiaan, dan 20 mobile homes. Sebanyak 200 partisipan dari 25+ negara ikut serta dalam konvoi ini, terdiri dari doktor, jurnalis, engineer, humanitarian specialists, volunteer.
Indonesia kembali ambil bagian dari misi ini, dengan mengirim Rikar Tayusani, Hakam Ahmad, Diki Taufik, Zayyin Ahmad, Syukron Nurhadi, Yahya Ayyasy, dan Imam Alfaruq.
Misi ini berangkat dari Libya (16/5) menuju Mesir untuk menembus Gaza melalui Perbatasan Rafah. Namun perjalanan tersebut menghadapi hambatan serius ketika rombongan tertahan di wilayah Sirte, Libya (17/5).
Sebanyak 10 delegasi pun pergi untuk melakukan negosiasi dengan otoritas Libya Timur (24/5). Mereka meminta otoritas setempat untuk mengawal bantuan kemanusiaan dari armada konvoi, serta meminta jaminan keamanan izin melintas dan jaminan keamanan terhadap tenaga medis.
Namun, upaya negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil, bahkan 10 delegasi tersebut diculik dan hingga saat ini masih belum dibebaskan.
Beberapa hari kemudian, aparat keamanan mendatangi kamp, melakukan serangan fisik dan psikis, serta membubarkan paksa kamp konvoi dan memulangkan para peserta.

Dengan dukungan KBRI Tripoli dan Kementerian Luar Negeri RI, para relawan Indonesia akhirnya dapat kembali ke tanah air dengan selamat (29/5).

Perjuangan Belum Selesai
Meskipun telah mengalami berbagai intimidasi dan serangan, relawan GSF selalu menekankan bahwa semua yang mereka alami hanyalah secuil dari apa yang telah dialami rakyat Palestina selama puluhan tahun.
Jika terhadap relawan internasional yang mendapat perlindungan hukum dari negara asalnya saja masih mengalami tindakan kekerasan, maka bagaimana dengan rakyat Palestina yang tidak mendapat kepastian hukum? Blokade masih berlangsung, wilayah Gaza terus menyusut, dan lebih dari 9.600 warga Palestina masih mendekam di Penjara Israel.
Maka, apakah misi ini berhasil? Ya.
Global Sumud Flotilla mungkin belum berhasil mencapai Gaza. Namun misi ini berhasil mendobrak keheningan dunia terhadap blokade, pendudukan, dan berbagai pelanggaran Israel terhadap bangsa Palestina.
Sebagai tindak lanjut, Global Sumud Flotilla telah mengajukan laporan resmi kepada International Criminal Court (ICC) (30/5) yang menggugat para komandan militer Israel dan para pemimpin politik tingkat tinggi telah melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, penyiksaan, serta tindakan yang berkaitan kejahatan genosida.
Tindak pidana dalam gugatan tersebut bermula dari pelanggaran hukum internasional atas intersepsi kapal-kapal Global Sumud Flotilla, yang melibatkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan hukum humaniter pada relawan sipil tak bersenjata oleh IOF.
Perjuangan ini belum selesai. Namun melalui Global Sumud Flotilla, masyarakat sipil dunia telah melihat langsung realitas yang selama ini dialami rakyat Palestina. Misi ini juga menunjukkan bahwa suara solidaritas tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan.














