Pemukim Israel terus meningkatkan tekanan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Selain itu, mereka juga mengintimidasi secara sistematis untuk memaksa warga meninggalkan tanah mereka.
Warga komunitas Badui Al-Mu’arajat, Eid Abu Fazzah al-Kaabneh, mengatakan rumahnya kini seperti “titik pengepungan harian”. Pemukim Israel rutin datang membawa ternak ke lahan pertanian dan kebun zaitun milik warga.
Menurutnya, pemukim Israel juga melakukan penggerebekan pada malam hari, menyita kendaraan, dan memaksa keluarga keluar rumah saat dini hari. Bahkan, anak-anak dibiarkan berada di luar rumah dalam cuaca dingin.
Selain itu, pemukim Israel beberapa kali merusak pagar dan area peternakan warga. Kaabneh menyatakan bahwa mereka tetap memasuki lahan miliknya meski pengadilan Israel melarang mereka mendekati area tersebut.
Baca juga : “Agresi Gaza Ancam Warga Sipil”
Di sisi lain, kolumnis Israel, Nahum Barnea, menilai kekerasan pemukim bukan tindakan acak. Ia menyebut kelompok pemukim sebagai “milisi bersenjata” yang mendapat dukungan pemerintah Israel.
Barnea mengatakan tujuan utama pemukim Israel ialah mengosongkan desa-desa Palestina secara bertahap. Setelah itu, warga Palestina akan dipaksa pindah ke kota hingga kondisi ekonomi dan keamanan runtuh.
Selain itu, ia menilai pemerintah Israel membiarkan serangan pemukim terus terjadi tanpa tindakan hukum serius. Menurutnya, polisi Israel jarang menghentikan atau menyelidiki serangan tersebut.
Data Palestina menunjukkan lebih dari 1.637 serangan pemukim Israel terjadi sepanjang April 2026. Karena itu, warga Palestina khawatir pengusiran massal di Tepi Barat akan terus meluas.
Sumber: MEMO








