Sebanyak 22 menteri dan anggota Knesset Israel mendesak polisi agar mengizinkan serbuan ke Al-Aqsa oleh ekstremis pemukim pada 15 Mei mendatang. Desakan itu muncul untuk memperingati pendudukan Israel atas Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur) pada 1967.
Petisi tersebut meminta polisi mempermudah masuknya pemukim ke kompleks Al-Aqsa. Selain itu, para pejabat Israel juga mengusulkan pembukaan Al-Aqsa pada Kamis malam jika serbuan tidak dapat dilakukan pada Jumat.
Serbuan ini melibatkan sejumlah pejabat penting Israel. Di antaranya, Wakil PM Yariv Levin dan Menteri Pertahanan Israel Katz. Selama ini, kelompok-kelompok pemukim Israel terus mendorong peningkatan kehadiran Yahudi di Al-Aqsa. Mereka juga kerap melakukan ritual Talmudiah dan mengibarkan bendera Israel di kawasan tersebut. Palestina menilai langkah tersebut sebagai eskalasi politik terhadap Al-Aqsa dan memandangnya sebagai upaya mengubah status historis Al-Aqsa.
Sementara itu, Lembaga Internasional Al-Quds menyerukan warga Palestina untuk meningkatkan kehadiran di Al-Aqsa pada Kamis dan Jumat. Seruan itu ditujukan kepada warga Al-Quds (Yerusalem) dan Palestina wilayah 1948.
Menurut lembaga tersebut, kehadiran jemaah Palestina sangat penting untuk melindungi Al-Aqsa dari potensi pelanggaran dan penodaan oleh kelompok pemukim. Selain itu, warga Palestina juga khawatir Israel ingin memaksakan realitas baru di kawasan suci tersebut.
Al-Aqsa merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam. Namun, kelompok ekstremis Israel terus meningkatkan tekanan dan serbuan ke kompleks masjid di bawah perlindungan polisi Israel.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)