Lebih dari 22.000 perempuan di Gaza kini menjadi janda. Kondisi ini memaksa mereka menjadi pencari nafkah utama di tengah dampak perang yang terus berlangsung. Dalam laporan analitis, Palestinian Center for Policy and Survey Research menyebut hilangnya kepala keluarga telah mengubah struktur sosial secara drastis. Puluhan ribu anak juga kehilangan satu atau kedua orang tua.
Perubahan ini terjadi di tengah runtuhnya ekonomi akibat perang. Akibatnya, hal ini turut menyebabkan runtuhnya pasar kerja dan tingkat pengangguran perempuan yang sangat tinggi. Banyak perempuan terpaksa bergantung pada ekonomi informal berbasis bantuan, tanpa akses pada sumber produksi yang stabil.
Baca juga : “Kantor Media Gaza Catat 377 Pelanggaran Gencatan Senjata”
Selain menjadi tulang punggung ekonomi, perempuan juga memikul tanggung jawab pengasuhan, di saat sistem perlindungan sosial hampir tidak ada. Kondisi ini memperparah tekanan ekonomi, psikologis, dan sosial yang mereka hadapi.
Data lapangan menunjukkan skala tragedi yang lebih luas: lebih dari 6.020 keluarga hanya menyisakan satu anggota yang selamat, sering kali perempuan atau anak, sementara 2.700 keluarga telah musnah sepenuhnya. Kementerian Urusan Perempuan Gaza menambahkan bahwa kematian suami dan penahanan ribuan pria telah memaksa puluhan ribu perempuan mengambil peran sebagai pencari nafkah dalam kondisi kemanusiaan yang sangat berat.
Laporan tersebut menekankan bahwa situasi ini bukan sementara, melainkan berpotensi memperpanjang siklus kemiskinan lintas generasi jika tidak diatasi dengan kebijakan pemberdayaan ekonomi jangka panjang.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)