Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa pasukan Israel melakukan 377 pelanggaran gencatan senjata sepanjang April 2026, yang menyebabkan 111 orang terbunuh dan 376 lainnya terluka.
Dalam pernyataannya, pelanggaran tersebut termasuk ke dalam “pelanggaran serius” yang tidak hanya memperburuk kondisi kemanusiaan, tetapi juga mengancam keberlangsungan gencatan senjata dan keselamatan warga sipil.
Baca juga : “Dari Tiang Gantungan Inggris 1930 hingga Meja Legislasi Israel Hari Ini, Eksekusi Tidak Membungkam Palestina“
“Sejarah Palestina pada Masa Kekhalifahan (Part 5): Menelusuri Dua Setengah Abad Kesultanan Mamluk di Palestina“
Akses bantuan kemanusiaan juga tetap sangat terbatas. Selama April, hanya 4.503 truk bantuan yang masuk ke Gaza, jauh di bawah 18.000 truk sesuai kesepakatan (sekitar 25%). Sementara itu, pasokan bahan bakar hanya mencapai 187 truk dari 1.500 yang direncanakan (sekitar 12%), berdampak langsung pada layanan vital seperti kesehatan, air, dan listrik.
Mobilitas warga pun masih terhambat. Tercatat hanya 1.567 orang yang dapat keluar-masuk Gaza, dibandingkan target 6.000 orang (sekitar 26%). Pembatasan ini berdampak pada pasien, pelajar, dan warga dengan kebutuhan mendesak.
Data ini menunjukkan bahwa meski ada kesepakatan gencatan senjata, pembatasan dan pelanggaran di lapangan masih terus berlangsung.
Baca juga : “Habis Gelap, Terbitlah Terang: Menelusuri Kembali Pemikiran Kartini dalam Menentang Penjajahan Terhadap Perempuan”
“71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?”
Sumber: MEMO, The New Arab








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)