Dalam bentang sejarah Palestina, era Kesultanan Mamluk sering kali berada di bawah bayang-bayang kemasyhuran masa Ayyubiyah atau kekuasaan besar Utsmaniyah. Padahal, periode ini merupakan babak penting ketika wilayah Palestina mulai mendapatkan stabilitas politik dan keamanan setelah hampir dua abad terjebak dalam kancah Perang Salib. Melalui ketangguhan militer dan visi pembangunan yang terukur, Mamluk (kelompok budak dari Kipchak-Turkik dan Sirkasia-Kaukasus yang menjadi prajurit) bertransformasi menjadi kelompok penguasa yang perlahan mengubah wajah Palestina menjadi pusat peradaban yang lebih tenang.
Periode pemerintahan Mamluk berawal dari Pertempuran Ain Jalut pada tahun 1260. Di Lembah Ain Jalut yang terletak di Palestina inilah, pasukan Mamluk berhasil mematahkan mitos tak terkalahkan bangsa Mongol, sekaligus mengamankan tanah Palestina dari kehancuran total yang sebelumnya menimpa kota-kota besar Islam seperti Baghdad.
Kemenangan di Ain Jalut tidak hanya menjadi pembuktian militer, tetapi juga menandai transisi kepemimpinan dari Dinasti Ayyubiyah kepada Kesultanan Mamluk sebagai pelindung baru di kawasan tersebut. Dengan berakhirnya ancaman besar dari Timur (Mongol) dan surutnya kekuatan Tentara Salib di pesisir, Mamluk mulai menjalankan peran sebagai pengelola wilayah. Mereka menjadikan Palestina menjadi koridor strategis yang menghubungkan Kairo dan Damaskus, memperkuatnya dengan sistem komunikasi pos yang cepat (barid), serta keamanan jalur perdagangan yang stabil.
Namun demikian, warisan yang ditinggalkan oleh Mamluk lebih dari sekadar urusan militer dan politik. Warisan Mamluk yang masih dapat disaksikan hingga hari ini adalah pengabdian mereka pada arsitektur dan ilmu pengetahuan. Di sudut-sudut Kota Tua Al-Quds (Yerusalem), Gaza, hingga Safad, berdiri bangunan dengan ciri khas lengkungan belang-belang merah dan putih atau krem (ablaq), juga kubah yang megah sebagai bukti sejarah tentang upaya Mamluk dalam membangun Palestina. Selain itu, pemerintahan Mamluk juga memberikan fondasi sosial dan kultural yang kuat, menjadikan Palestina sebagai wilayah yang makmur dan dihormati.
Ain Jalut: Ketika Palestina Menjadi Benteng Terakhir Peradaban

Pada pertengahan abad ke-13, kekhawatiran menyelimuti seluruh kawasan pemerintahan Islam. Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan telah meluluhlantakkan pusat Abbasiyah di Baghdad dan terus bergerak ke arah barat seperti badai yang tak terbendung. Palestina pun mendadak berada di garis depan sejarah dunia; ia bukan lagi sebatas wilayah suci yang diperebutkan, melainkan benteng terakhir yang akan menentukan apakah peradaban Islam akan terus berlanjut atau berakhir di bawah derap kavaleri Mongol.
Hulagu Khan mengirim utusan ke Kairo dengan pesan yang sangat jelas: menyerah atau dimusnahkan. Ketika itu kekuasaan di Mesir baru saja berpindah dari Dinasti Ayyubiyah kepada Kesultanan Mamluk yang dipimpin oleh Sultan Saifuddin Qutuz.
“Dari Khan Agung, Raja segala raja di Timur dan Barat. Kepada Qutuz Mamluk, yang melarikan diri untuk menghindari pedang kami… Kau tidak dapat lolos dari teror pasukan kami. Ke mana kau dapat melarikan diri? Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir. Hati kami sekeras gunung, tentara kami sebanyak pasir. Benteng tidak akan menahan kami, dan pasukanmu tidak akan menghentikan kami. Doa-doamu kepada Tuhan tidak akan berguna melawan kami… Lawan, dan kau akan menderita malapetaka yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid-masjid kalian, membuka tabir kelemahan tuhan kalian, serta membunuh keluarga kalian”
Para penasihat perang Sultan Qutuz pun muram membaca surat tersebut. Banyak di antara bangsawan dan penasihat yang menyarankan Sultan Qutuz untuk menyerah agar tidak menghadapi nasib yang sama seperti Baghdad. Akan tetapi, tekad Sultan Qutuz sekuat baja. Dalam pidato yang penuh amarah dan emosi, ia mengecam sikap pengecut mereka:
“Wahai para bangsawan Muslim! Kalian telah lama hidup dari kas negara, namun kalian meremehkan para penjajah. Aku akan maju. Siapa pun yang memilih jihad, biarlah ia ikut denganku. Siapa pun yang tidak, biarlah ia kembali ke rumahnya… Siapa yang akan membela Islam jika bukan kita?”
Mendengar kata-kata tersebut, para komandan pun menangis dan berjanji setia. Di bawah kepemimpinan Sultan Saifuddin Qutuz dan panglima kepercayaannya, Baybars al-Bunduqdari, pasukan Mamluk mengambil langkah berani dengan mencegat pasukan Mongol di Lembah Ain Jalut. Mamluk menyadari bahwa bertahan di Mesir hanya akan menunda kekalahan, sehingga mereka memilih Palestina sebagai medan laga utama. Strategi ini menunjukkan betapa krusialnya penguasaan medan lokal Palestina bagi militer Mamluk dalam menentukan koordinat kemenangan mereka.
Dalam pertempuran yang pecah pada September 1260, Mamluk memancing kavaleri Mongol untuk merangsek masuk ke dalam lembah, sebelum akhirnya pasukan utama Mamluk yang bersembunyi di perbukitan mengepung mereka dari berbagai sisi. Keunggulan Mongol yang selama ini dianggap sebagai mitos tak terkalahkan akhirnya hancur di tangan militer Mamluk. Kemenangan ini sekaligus mengamankan wilayah Palestina dari nasib serupa yang dialami kota-kota besar Islam di wilayah Timur.
Dampak dari peristiwa Ain Jalut melampaui sekadar urusan militer; ia menciptakan perubahan psikologis yang mendalam bagi penduduk lokal. Rakyat Palestina yang selama bertahun-tahun hidup dalam kecemasan antara sisa-sisa Tentara Salib dan ancaman Mongol, kini melihat Mamluk sebagai kekuatan yang mampu memberikan jaminan keamanan nyata. Stabilitas inilah yang nantinya menjadi modal utama bagi Mamluk untuk memulai proyek-proyek besar mereka di tanah ini.
Pasca-pertempuran, posisi Palestina dalam administrasi Mamluk pun berubah menjadi sangat istimewa. Wilayah ini menjadi garis pertahanan pusat yang semakin diperkuat secara infrastruktur dan ekonomi. Dengan hilangnya ancaman Mongol dan pasukan Salib, Mamluk memiliki ruang untuk mengalihkan fokus mereka dari urusan pedang menuju urusan pembangunan, yang nantinya akan melahirkan identitas visual dan sosial di kota-kota Palestina, seperti Al-Quds (Yerusalem), Gaza, dan Al-Khalil (Hebron).
Simfoni Batu dan Ilmu: Jejak Arsitektur serta Pendidikan di Tanah Palestina

Bagi Mamluk, arsitektur juga merupakan instrumen politik dan spiritual untuk menegaskan legitimasi mereka sebagai pelindung dua kota penting di Palestina, yakni Al-Quds dan Al-Khalil. Di sinilah lahir karakter visual yang sangat khas dan dominan di Palestina hingga hari ini, yaitu gaya ablaq. Ablaq merupakan teknik penyusunan batu belang berwarna merah dan putih (atau hitam dan putih) sehingga menciptakan estetika geometris yang megah. Corak arsitektur ini menghiasi wajah madrasah, masjid, dan istana gubernur yang berdiri kokoh mengiringi zaman.
Gaya ablaq di Al-Quds dapat ditemukan di Madrasah Al-Ashrafiyya. Sejarawan Mujiruddin al-Hanbali menyebut madrasah tersebut sebagai “permata ketiga” di kompleks Masjid Al-Aqsa, bersanding dengan kemegahan Qubbah as-Sakhrah dan Masjid Al-Qibli. Fasadnya menggunakan teknik ablaq merah dan putih yang indah. Pembangunan madrasah ini awalnya dimulai oleh Sultan Zahir Sayfuddin Khashqadam (1461–1467 M), namun beliau wafat sebelum proyek tersebut rampung. Estafet pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Ashraf Saif al-Din Qaitbay.

Selain itu, gaya Ablaq juga diaplikasikan dengan sangat halus pada Madrasah Arghuniyya yang terletak di jalan menuju Bab al-Hadid di Al-Quds. Bangunan yang berfungsi ganda sebagai sekolah Al-Qur’an dan makam (turba) ini didirikan pada 1358 M oleh Amir Arghun al-Kamili, mantan Gubernur Aleppo dan Damaskus. Ia wafat dalam usia yang masih cukup muda (sekitar 30 tahun), setahun sebelum bangunan ini selesai.
Kemegahan bangunan-bangunan Mamluk tidak dibiarkan kosong tanpa jiwa. Di balik dinding-dinding batu yang artistik itu, terdapat pengarusutamaan pendidikan melalui pembangunan Madrasah dan Kuttab. Mamluk memperkenalkan konsep Sabil-Kuttab, sebuah inovasi arsitektur fungsional; lantai bawah berfungsi sebagai pancuran air minum gratis bagi warga, sementara lantai atasnya merupakan ruang belajar bagi anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an dan belajar literasi dasar.
Sistem pendidikan ini dapat berjalan secara berkelanjutan berkat dukungan sistem wakaf yang rapi. Para sultan dan pejabat tinggi mewakafkan lahan-lahan pertanian, kebun zaitun, hingga pasar-pasar untuk membiayai operasional sekolah, gaji pengajar, hingga beasiswa bagi para pelajar. Hal inilah yang membuat Palestina, khususnya Al-Quds (Yerusalem), menjadi magnet bagi para intelektual dari berbagai penjuru dunia Islam. Kota ini tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai mercusuar ilmu pengetahuan tempat diskusi-diskusi fikih, hadis, hingga filsafat menggema di serambi-serambi Masjid Al-Aqsa.

Investasi sosial ini memberikan dampak jangka panjang terhadap identitas masyarakat Palestina. Kehadiran kuttab di hampir setiap sudut permukiman memastikan bahwa angka literasi masyarakat sipil dapat dipantau. Dengan menyatukan keindahan visual arsitektur dan kedalaman nilai pendidikan, Mamluk membuktikan bahwa kekuasaan yang dimulai dari kelas budak-prajurit mampu bertransformasi menjadi penguasa yang mencintai ilmu dan keindahan.
Gambaran Palestina pada masa Mamluk tercatat dalam Rihlah, catatan Ibnu Batutah, ketika ia menempuh perjalanan darat dari Mesir ke Palestina melalui Gaza, yang ia sebut sebagai kota yang luas dan padat penduduk. Dari sana, ia mengunjungi beberapa kota penting. Ibnu Batutah menjelaskan Gaza sebagai berikut:
Wilayahnya luas, gedungnya banyak, dan pasarnya bersih dan bagus. Kota Gaza memiliki banyak masjid yang dikelilingi dengan tembok-tembok. Masjid yang digunakan untuk shalat Jumat dibangun oleh Raja Al-Jawli (Sanjar al-Jawli, Gubernur Gaza pada masa Kesultanan Mamluk-red.). Bangunan masjid itu sangat serasi, dibangun dengan sempurna. Mimbarnya terbuat dari marmer putih.
Dari Gaza, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke Al-Khalil (Hebron), mengunjungi Masjid Ibrahimi dan makam para nabi beserta istri mereka. Ia menuliskan bahwa masjid tersebut dibangun dengan cita rasa tinggi, sempurna, dan kreatif; dengan bahan batu yang diukir. Di salah satu sudutnya, terdapat batu Uhud dengan panjang 37 syibr (jengkal). Dalam catatannya juga dituliskan bahwa tangga dan halaman masjid terbuat dari marmer. Ibnu Batutah kemudian bertemu dengan seorang guru, imam, sekaligus khatib, yang bernama Burhanuddin Al-Ja`bari untuk bertanya tentang keabsahan kabar mengenai makam-makam para nabi di Al-Khalil.
Perjalanan Ibnu Battuta berlanjut menuju Al-Quds (Yerusalem) dengan melewati Kota Betlehem, kota yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Dituliskan dalam Rihlah Ibnu Battuta bahwa di Betlehem berdiri rumah-rumah dalam jumlah banyak dan orang-orang Kristen menjamu para peziarah yang singgah di sana.

Setibanya di Al-Quds, Ibnu Batutah berziarah menuju Al-Aqsa. Ia menggambarkan Al-Aqsa sebagai masjid yang sangat besar, luas, dan megah serta menakjubkan dan sempurna. Secara khusus, Ibnu Batutah mendeskripsikan Qubbah as-Sakhrah (Kubah Batu) yang dibangun pada masa Kekhalifahan Umayyah. Ia menuliskan bahwa bagian terbesar dari bangunan Qubbah as-Sakhrah ini dilapisi dengan emas, sehingga memancarkan cahaya atau mengeluarkan kilat laksana petir. Mata orang akan terpana saat melihatnya dan lidah akan terasa kelu untuk melukiskan keindahannya.
Di Al-Quds, Ibnu Batutah bertemu dengan banyak ulama yang mengajar di sana seperti Syamsuddin Muhammad bin Salim Al-Ghazzi, seorang qadhi yang alim dan tokoh dari Gaza; khatib bernama Imaduddin An-Nablusi; Syihabuddin Ath-Thabari, ahli hadis sekaligus mufti; Abu Abdullah Muhammad bin Mutsbit Al-Gharnathi, pendatang dari Granada, Spanyol yang menjadi guru Madzhab Malikiyah di Al-Quds; Syaikh Abu Ali Hasan, ahli zuhud dan tasawuf. . Hal ini menunjukkan bahwa Mamluk berhasil menghidupkan kembali tradisi intelektual di kota Al-Quds.
Dari sana, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke Asqalan, Ramla, Nablus, Ajloun, dan berbagai kota lainnya di Palestina. Ia menggambarkan keindahan alamnya, keanggunan arsitekturnya, tradisi keilmuan yang hidup, juga masjid dan pasar yang ramai dan rapi. Sepanjang perjalanannya, ia turut berziarah ke makam-makam para nabi, seperti Nabi Syuaib, Nabi Salih, Nabi Sulaiman, dan lainnya, juga berziarah ke makam para sahabat seperti Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Muadz bin Jabal, serta berkunjung ke tempat para ulama, seperti Majduddin an-Nablusi dan Qadhi Kamaluddin al-Asymuni al-Mishri.
Dari Fondasi Hingga Masa Keemasan

Sejarah Mamluk di Palestina tidak bisa dilepaskan dari sosok-sosok sultan tangguh yang membentuk karakter pemerintahan ini. Kepemimpinan mereka bukan didasarkan pada garis keturunan yang kaku, melainkan pada kecakapan militer dan kemampuan menjaga stabilitas di wilayah yang rawan perang.
Meskipun Shajarat al-Durr adalah perempuan sosok kunci pada awal transisi Dinasti Ayyubiyah ke Kesultanan Mamluk di Mesir, dalam konteks Palestina, Sultan Saifuddin Qutuz adalah pemimpin pertama yang mengukuhkan otoritas Mamluk lewat kemenangan di Pertempuran Ain Jalut pada tahun 1260 M. Namun, penguasa yang benar-benar membangun sistem Kesultanan Mamluk adalah Sultan Al-Zahir Baybars. Di bawah pemerintahannya, Sultan Baybars menyatukan Mesir dan kawasan Syam, memastikan sisa-sisa kekuatan Tentara Salib di pesisir Palestina benar-benar terkikis, dan membangun sistem pos (barid).
Masa keemasan Mamluk terjadi pada pemerintahan Sultan al-Nasir Muhammad Qalawun. Ia berkuasa dalam tiga periode berbeda (Desember 1293 hingga Desember 1294; 1299–1309, dan puncaknya pada 1310–1341 M) dan pada masa inilah Palestina menikmati kemakmuran ekonomi dan stabilitas politik terlama. Sebagian besar madrasah megah dan infrastruktur sipil dibangun pada masa ini. Palestina menjadi pusat transit perdagangan dunia yang makmur.
Keberhasilan proyek-proyek besar Sultan al-Nasir Muhammad di Palestina dan Suriah tidak lepas dari peran Emir Sayfuddin Tankiz al-Nasiri, Gubernur Jenderal Syam yang sangat berpengaruh (1312–1340 M). Tankiz adalah “tangan kanan” Sultan yang memastikan visi pembangunan terwujud di lapanga serta memimpin transformasi besar-besaran di Al-Quds dan wilayah sekitarnya.

Pada masa keemasan Mamluk inilah benteng-benteng besar yang sebelumnya hancur kembali dibangun untuk memastikan keamanan kota, seperti di Al-Quds, Safad, dan Gaza. Selain itu, dibangun pula pasar, madrasah, dan hammam (pemandian umum). Proyek pembangunan ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga turut memicu pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan kembali Benteng Al-Quds (Al-Qal’a) oleh Sultan al-Nasir Muhammad pada awal abad ke-14 merupakan fondasi bagi stabilitas sosial-politik yang lebih luas. Dengan menempatkan unit militer yang kuat di benteng tersebut, Mamluk menciptakan zona aman untuk melancarkan pembangunan yang berkelanjutan. Selain itu, benteng yang kokoh memberikan jaminan keamanan bagi para pedagang internasional dan lokal, sehingga dibangunlah Souq (Pasar) al-Qattanin dan Khan al-Sultan sebagai pusat ekonomi baru yang dinamis.
Sebelum revitalisasi kawasan lama di Al-Quds, banyak area yang berada dalam kondisi terbengkalai. Dengan membangun pasar yang bersih dan teratur, Tankiz berhasil menarik penduduk untuk menetap kembali di sekitar kota suci. Sebagian besar dari pendapatan sewa tempat di pasar-pasar tersebut diwakafkan untuk membiayai operasional madrasah dan tempat-tempat ibadah. Dengan cara ini, aktivitas ekonomi yang berputar pada masa Mamluk, secara langsung turut mendanai pendidikan.
Senjakala Ksatria-Budak: Akhir Dua Setengah Abad Kedigdayaan Mamluk

Pada masa pemerintahan Sultan Al-Nasir Muhammad bin Qalawun, Palestina menjadi wilayah yang sangat makmur; lumbung gula di Lembah Yordania dan pajak dari karavan dagang internasional melimpahi kas kesultanan. Namun, sejarah selalu memiliki cara untuk memutar roda nasib. Titik balik mulai tampak pada akhir abad ke-14 pada masa pemerintahan Sultan Barquq (1382–1399 M) ketika stabilitas politik internal mulai goyah akibat persaingan antar-faksi Mamluk sendiri.
Memasuki abad ke-15, Mamluk mulai menghadapi ancaman dari luar dan bencana yang melumpuhkan ekonomi. Serangan dahsyat Timur Lenk ke wilayah Syam sempat menguras energi dan sumber daya militer Mamluk secara besar-besaran. Pada saat yang sama, wabah penyakit black death yang berulang kali melanda wilayah Palestina menyebabkan penurunan populasi petani dan perajin, yang berdampak langsung pada merosotnya produksi pangan dan komoditas ekspor. Fondasi ekonomi yang dulunya kokoh mulai retak, membuat pemeliharaan madrasah dan infrastruktur publik di Palestina tak lagi menjadi prioritas utama. Wabah penyakit ini turut membunuh para prajurit sehingga melemahkan keamanan Mamluk.
Titik kejatuhan yang paling nyata terjadi pada masa Sultan Al-Ashraf Qansuh al-Ghawri (awal abad ke-16). Faktor utama dari runtuhnya Kesultanan Mamluk pada masa Sultan al-Ghawri ini adalah karena Mamluk kehilangan sumber pendapatan dari pajak jalur darat perdagangan. Pada masa itu, Portugis (Vasco da Gama) menemukan jalur perdagangan ke India melalui laut, Akibatnya, ekonomi Mamluk yang sangat bergantung pada pajak jalur darat (termasuk yang melalui Palestina) menjadi anjlok.
Dalam kondisi yang babak belur secara demografi dan finansial, Mamluk harus menghadapi kekuatan baru dari utara, yaitu Dinasti Utsmaniyah yang jauh lebih modern secara persenjataan. Puncak keruntuhan ini terjadi pada 24 Agustus 1516 dalam Pertempuran Marj Dabiq di utara Aleppo, Suriah. Di medan laga ini, kavaleri tradisional Mamluk yang mengandalkan kemahiran memanah dan pedang berkuda harus berhadapan dengan pasukan Janisari Utsmaniyah yang dipersenjatai dengan senapan dan artileri berat.
Sultan Al-Ashraf Qansuh al-Ghawri tewas dalam pertempuran tersebut, yang secara otomatis meruntuhkan seluruh pertahanan Mamluk di wilayah Syam yang telah berlangsung selama 2,5 abad, termasuk Palestina. Pemerintahan baru pun dimulai oleh Kesultanan Utsmaniyah melalui Sultan Selim I.

Meskipun kekuasaan politik mereka runtuh, Mamluk meninggalkan warisan yang tak bisa dihapus begitu saja oleh pergantian pemerintahan. Utsmaniyah banyak mengadopsi dan merawat struktur administrasi serta wakaf yang telah dibangun oleh Mamluk di Palestina. Gaya arsitektur ablaq, susunan batu belang dengan warna merah-putih atau krem, tetap berdiri sebagai monumen hidup dari sebuah era ketika kelas budak-prajurit berhasil menciptakan harmoni antara kekuatan pedang dan kelembutan ilmu pengetahuan.
Hingga hari ini, setiap mata yang memandang dinding batu belang merah-putih di Palestina sebenarnya sedang melihat “surat cinta” dari masa lalu. Warisan Mamluk bertahan bukan karena kekuatan pedang mereka yang pernah mematahkan Mongol dan Pasukan Salib, melainkan karena keindahan arsitektur dan kedalaman visi pendidikan yang mereka tinggalkan. Palestina di bawah Mamluk telah bertransformasi dari kawasan penuh kecamuk menjadi galeri ilmu pengetahuan terbuka, sebuah bukti sejarah bahwa kekuasaan yang abadi adalah kekuasaan yang mampu membangun peradaban dan menjaga martabat kemanusiaan melampaui masanya sendiri. (LMS)
Referensi
Bathutah, Muhammad bin Abdullah. 2009. Rihlah Ibnu Bathutah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Ayalon, Y. (2014). The Black Death and the Rise of the Ottomans. Natural Disasters in the Ottoman Empire, 1(2), 21-60. https://doi.org/10.1017/CBO9781139680943.004
Khaeruddin. (2025). Pertempuran ‘Ain Jalut; Upaya Dinasti Mamluk dalam Melawan Ekspansi Kekaisaran Mongol. Referensi Islamika: Jurnal Studi Islam, 3(1), 61–76. https://doi.org/10.61220/ri.v3i1.006
Frenkel, Y. (2022). The waqf system during the last decades of Mamluk rule. In S. Conermann & G. Şen (Eds.), The Mamluk-Ottoman transition: Continuity and change in Egypt and Bilād al-Shām in the sixteenth century (Vol. 2, pp. 221–272). Vandenhoeck & Ruprecht.
https://www.deremilitari.org/RESOURCES/SOURCES/aynjalut.htm
https://www.palestinianhistorytapestry.org/tapestry/1260-1517-ce/#
https://thisweekinpalestine.com/mamluk-heritage-in-jerusalem/
https://www.palestinechronicle.com/the-return-of-the-mamluks/
https://www.metmuseum.org/essays/the-art-of-the-mamluk-period-1250-1517
https://www.islamiclandmarks.com/palestine-masjid-al-aqsa/madressa-al-ashrafiyah
https://islamicart.museumwnf.org/database_item.php?id=monument;ISL;pa;Mon01;8;en
https://onepathnetwork.com/history/the-muslim-slave-who-saved-the-ummah-from-annihilation/
https://www.archnet.org/sites/3731
https://www.islamicarchitecturalheritage.com/listings/the-cotton-merchants-market-suq-al-qattanin-in-al-masjid-al-aqsa
https://www.wmf.org/monuments/gaza







