• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Minggu, Februari 22, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Maktabah Al-Khalidiyyah, Perpustakaan Tua di Al-Quds yang Dipelihara oleh Keturunan Khalid ibn Walid

by Adara Relief International
Februari 24, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Maktabah Al-Khalidiyyah, Perpustakaan Tua di Al-Quds yang Dipelihara oleh Keturunan Khalid ibn Walid

Para cendekiawan muslim berdiri di luar Maktabah al-Khalidiyyah di Kota Tua Al-Quds pada masa Utsmani (Wikimedia)

175
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Pada masa keemasan Islam, perpustakaan berkembang pesat karena para pemimpin muslim memiliki komitmen kuat terhadap literasi dan ilmu. Lebih dari 12 abad yang lalu, tepatnya pada tahun 859 M seorang muslimah asal Tunisia bernama Fatimah al-Fihri membangun salah satu universitas tertua di dunia, yaitu Universitas al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko. Kampus tersebut juga memiliki sebuah perpustakaan yang memainkan peran penting dalam pertukaran budaya dan pengetahuan antara umat Islam dan Eropa.

Hingga kini, Perpustakaan al-Qarawiyyin masih hidup, dengan lebih dari 4000 koleksi manuskrip tua, termasuk manuskrip Al-Quran dari abad ke-9 yang ditulis di atas kulit unta dengan menggunakan aksara kufi (bentuk aksara Arab tertua yang dimodifikasikan dari aksara Nabataea dan Akkadia kuno). Selain itu, terdapat pula manuskrip hukum Islam yang ditulis oleh Ibnu Rushd atau Averroes.

Selain Perpustakaan al-Qarawiyyin, ada pula Perpustakaan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Bagdad, Irak, yang didirikan oleh Khalifah Abasiyyah Harun al-Rashid (786–809) dan berfungsi sebagai pusat penelitian dan pendidikan. Puncaknya terjadi pada masa pemerintahan putranya, Khalifah Al-Mamun (813–833 M) yang menjadikan Bayt al-Hikmah sebagai lembaga formal dan berkembang dari abad ke-9 hingga ke-13.

Perpustakaan penting lainnya ditemukan di Mesir, yaitu Daar al-Hikmah. Didirikan oleh Dinasti Fatimiyah pada masa pemerintahan Khalifah al-Hakim bi Amrillah. Pada masa kejayaannya, perpustakaan ini menampung hingga 100.000 karya tulisan, dengan 18.000 di antaranya merupakan manuskrip dari peradaban kuno. Di Spanyol terdapat Perpustakaan Cordoba yang menampung 400.000 koleksi naskah. Lubna of Cordoba merupakan seorang perempuan yang bertugas untuk mengelola perpustakaan, sekaligus menulis dan menerjemahkan naskah baru. Dia juga merupakan sekretaris istana Khalifah Abd al-Rahman III dan putranya al-Hakam.

Tradisi membangun perpustakaan ini terus terpelihara pada masa-masa selanjutnya, hingga masa Mamluk dan Utsmani (Ottoman). Di Kota Lama Al-Quds (Yerusalem) terdapat sebuah perpustakaan tua yang bernama Maktabah al-Khalidiyyah. Bangunannya telah berdiri sejak masa Kesultanan Mamluk (1389) dan telah menyaksikan berbagai periode pemerintahan, dimulai dari masa Kesultanan Mamluk, Kekhalifahan Utsmani, Mandat Inggris, dan berdiri saat ini di bawah penjajahan Israel.

Keluarga Khalidi, keturunan Khalid ibn Walid di Al-Quds

Haji Raghib al-Khalidi bersama dengan istri dan anak-anaknya di kebunnya, Tal al-Rish, Jaffa, pada tahun 1922. (Khalidi Library Archive)

Asal usul keluarga Khalidi dikaitkan dengan sahabat Rasulullah saw., yakni Khalid ibn Walid, seorang panglima muslim yang dijuluki “Saifullah al-Maslul” atau “Pedang Allah yang Terhunus” karena kecakapannya dalam mengatur taktik militer dan menaklukkan lawan di medan perang.

Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar ibn Khattab, Amr ibn al-Ash dan Shurahbil ibn Hasana diberi kepemimpinan untuk membebaskan Syam (Levantina). Namun, perjalanan tersebut amat berat, terutama ketika mereka berhadapan dengan pasukan Romawi di Palestina dan di selatan Syam. Mereka kemudian mengirimkan pesan yang meminta Khalifah Umar untuk mengirimkan bantuan. Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid ibn Walid memimpin pasukan tambahan hingga berhasil membuka seluruh wilayah untuk menuju tempat Masjid Suci Al-Aqsa berada yaitu di Baitulmaqdis.

Di Al-Quds (Yerusalem), benteng Bizantium (Romawi Timur) terakhir yang berada Levantina selatan, menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan diri kecuali kepada Khalifah. Maka, Khalifah Umar pun datang bersama dengan seorang pelayannya. Khalifah Umar kemudian menerima kunci Kota Al-Quds dan mengikat perjanjian damai dengan penduduk setempat melalui sebuah dokumen yang dikenal dengan nama Al ‘Uhdah Al ‘Umariyah. Dengan adanya perjanjian tersebut, Khalifah Umar memberikan jaminan keselamatan bagi masyarakat Yahudi dan Kristen di wilayah itu bahwa mereka tidak akan diganggu dan rumah ibadah mereka tidak akan dirusak. Salah satu sahabat yang menjadi saksi adanya perjanjian tersebut adalah Khalid ibn Walid.

Jejak Khalid ibn Walid hingga kini masih dapat disaksikan di Al-Quds, yakni melalui keberadaan keluarga al-Khalidi, penduduk Al-Quds yang jika ditelusuri silsilahnya maka nasabnya tersambung hingga ke Khalid ibn Walid. Keluarga inilah yang mendirikan sekaligus menjaga Maktabah al-Khalidiyyah, sebuah perpustakaan kuno di bilangan Kota Tua Al-Quds, dekat dengan Bab al-Silsilah, salah satu gerbang masuk menuju kompleks Masjid Al-Aqsa.

Pada 1899, Haji Raghib al-Khalidi yang merupakan seorang hakim Palestina, mendirikan Maktabah al-Khalidiyah setelah neneknya, Khadijah al-Khalidi, mewariskan kepemilikan manuskrip dan buku-buku keluarga yang dikumpulkan selama beberapa generasi. Perpustakaan tersebut kemudian dibuka untuk umum dengan tujuan untuk mendorong penyebaran ilmu, menghidupkan kembali minat terhadap pembelajaran Islam klasik dan mata pelajaran modern, serta menjadi aset bagi Palestina, khususnya Al-Quds (Yerusalem).

Saat ini, Perpustakaan Khalidi memiliki 1.200 manuskrip tulisan tangan, sebagian besar dalam bahasa Arab. Di antara koleksinya, banyak yang berusia hampir 1000 tahun, termasuk sekitar 200 teks Islam yang sangat langka, dan dihias secara rumit dengan motif geometris dengan tinta berwarna.

Halaman manuskrip “Kelimpahan Pujian, Kebanggaan, dan Pengaruh Karakteristik Raja Al-Nasser” karya Abd al-Moneim bin Omar bin Hassan al-Ghassani al-Andalusi al-Jiliani Abu al- Fadl, yang ditulis lebih dari 800 tahun lalu. (Khalidi Library Archive)

Maktabah al-Khalidiyyah membantah narasi palsu Zionis

Palestina sebelum tahun 1948 merupakan pusat bagi para intelektual, kritikus sastra, penulis dan musisi. Namun, Nakba mengubah semuanya. Bersamaan dengan penyerangan pasukan paramiliter Zionis yang memaksa sejumlah besar penduduk Palestina untuk mengungsi, kekayaan budaya Palestina pun tercerai berai. Penulis dan cendekiawan terkenal Palestina, seperti Khalil al-Sakakini dan Nasser Eddin Nashashibi, berbicara dengan getir tentang hilangnya buku-buku mereka, benda-benda penting dalam sejarah dan keagamaan yang tidak tergantikan.

“Selamat tinggal, buku-bukuku. Selamat tinggal rumah kebijaksanaan,” tulis al-Sakakini dalam sebuah catatannya. “Berapa banyak minyak yang kubakar bersamamu; membaca dan menulis dalam keheningan malam ketika orang-orang sedang tidur. Selamat tinggal, bukuku!” Khalil al-Sakakini terpaksa meninggalkan rumahnya di Qatamon pada April 1948 setelah Palmach, pasukan paramiliter Zionis, menyerbu desanya. Sejumlah bukunya yang dijarah kini berada di Perpustakaan Nasional dengan namanya yang terlihat jelas, ditulis dengan tinta hitam. Di sebuah buku yang ditemukan tertulis nama putra sulungnya, “Sari Sakakini, Al-Quds 1940.”

Pasukan Palmach menyerbu Qatamon selama Operasi Yevusi, dengan empat tujuan: merebut desa Arab al-Nabi Samwil, lingkungan Sheikh Jarrah dan Qatamon, serta Rumah Sakit Augusta Victoria di sebelah timur Kota Tua Al-Quds. (Wikiwand)

Dalam film dokumenter “The Great Book Robbery”, Sejarawan Israel Ilan Pappé menyatakan bahwa penjarahan buku dan manuskrip Palestina bertujuan untuk mengalahkan narasi Palestina dan menghapus orang Palestina dari sejarah. Pappé mengidentifikasi dua kelompok penjarah buku selama periode Nakba: individu yang bertindak sendiri dan membawa pulang harta benda yang mereka peroleh, dan penjarah kolektif atau formal yang bertindak atas nama negara yang mengambil buku-buku tersebut untuk dibawa ke Perpustakaan Nasional. Sejarah mencatat setidaknya ada 30.000 buku dan masnuskrip yang dijarah oleh Zionis-Israel pada Nakba 1948.

Bagi warga Palestina, perpustakaan adalah bukti hidup yang mendukung klaim historis mereka atas Palestina dan membantah “narasi palsu Zionis” yang mendaku sebagai pemilik Palestina. “Kami memiliki manuskrip yang berbicara tentang status budaya dan sosial masyarakat Al-Quds (Jerusalemites), dan ini merupakan indikasi kehadiran orang Palestina di tanah ini selama berabad-abad,” kata Khader Salameh, pustakawan yang mengelola koleksi Maktabah al-Khalidiyyah.

“Isi perpustakaan ini menggagalkan klaim Zionis yang menyatakan bahwa tanah ini adalah tanah kosong,” tambahnya, mengacu pada pernyataan umum Zionis bahwa Palestina merupakan tanah tidak berpenghuni sebelum berdirinya Israel pada tahun 1948. Padahal ketika itu, untuk menciptakan Israel, Zionis mendorong migrasi besar-besaran Yahudi dari penjuru dunia menuju Palestina sekaligus mengusir lebih dari 750.000 warga Palestina dari rumah dan tanah air mereka dalam tindak kejahatan yang dinamakan Nakba atau Malapetaka.

 

1 of 2
- +

1. Digitalisasi manuskrip dilakukan untuk melestarikan isi dan menjaga agar manuskrip asli tidak sering disentuh. (Maktabah al-Khalidiyyah)

2. Bagian depan Maktabah al-Khalidiyyah saat ini. (AFP)

Pada tahun 1967, properti milik keluarga Khalidi di Kota Tua mulai disita oleh Israel satu per satu. “Ada kekhawatiran serius bahwa kami akan kehilangan perpustakaan ini meskipun telah terdaftar sebagai warisan keluarga yang dilindungi,” kata Raja Khalidi kepada Arab News. Selama dua puluh tahun, keluarga Khalidi berjuang keras di pengadilan Israel untuk mempertahankan perpustakaan tersebut. Mereka akhirnya menang meskipun sebagian dari perpustakaan itu “disita” oleh pemukim kolonial Israel untuk membangun yeshiva (sekolah agama Yahudi).

Sejak adanya upaya penyitaan atau perampasan tersebut, Maktabah al-Khalidiyyah terus melakukan upaya restorasi dan digitalisasi naskah. Shaimaa al-Budeiri, petugas digitalisasi arsip mengatakan bahwa hingga saat ini, ia telah memotret sekitar 2,5 juta halaman manuskrip, surat kabar, buku langka, dan dokumen lainnya dari empat perpustakaan swasta di Al-Quds. Hal ini dilakukan untuk merawat dan menyelamatkan dokumen Palestina dari bayang-bayang penjarahan. (LMS)

 

Referensi

https://www.arabnews.com/node/1800226/middle-east

https://www.al-monitor.com/originals/2023/07/library-restores-palestinian-history-one-manuscript-time

https://www.aljazeera.com/features/2013/1/29/israels-great-book-robbery-unravelled

https://www.baytalfann.com/post/libraries-in-the-islamic-golden-age

https://digitalcommons.unl.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=12594&context=libphilprac#:~:text=The%20Fatimide%20Caliph%20al%2DHakim,copies%20and%20other%20significant%20works.

https://digitalprojects.palestine-studies.org/jps/fulltext/42473

Baca Juga

Nuzulul Qur’an Dua Fase Turunnya Al-Qur`an Bagi yang Mencari Keteguhan Jiwa

Bawa Harapan Akan Masa Depan, Sejumlah Institusi Pendidikan Gaza Kembali Dibuka setelah Dua Tahun

https://www.middleeasteye.net/discover/arab-world-five-most-impressive-libraries

https://www.khalidilibrary.org/en

https://marcellodicintio.com/2012/06/20/the-khalidi-library/

https://www.middleeasteye.net/discover/arab-world-five-most-impressive-libraries

https://www.taawon.org/en/media/stories/al-khaldiya-library-house-rare-books-heart-old-city-jerusalem

https://www.thenationalnews.com/arts-culture/books/2023/07/25/inside-the-khalidi-library-in-east-jerusalem-in-pictures/

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

ShareTweetSendShare
Previous Post

Kelaparan Akut, Gaza Berada di Ujung Tanduk

Next Post

Israel Menghancurkan Kediaman Yasser Arafat di Gaza

Adara Relief International

Related Posts

Anak-anak di Gaza menghafal Al-Qur’an di pengungsian.
Artikel

Nuzulul Qur’an Dua Fase Turunnya Al-Qur`an Bagi yang Mencari Keteguhan Jiwa

by Adara Relief International
Februari 18, 2026
0
24

  Dulu, orang-orang kafir pernah mempertanyakan, “Mengapa tidak Allah turunkan Al-Qur`an dalam jumlatan wahidatan atau secara sekaligus?” dengan nada penghinaan...

Read moreDetails
Anak-anak Gaza kembali bersekolah di sebuah tenda pengungsian (Al Jazeera)

Bawa Harapan Akan Masa Depan, Sejumlah Institusi Pendidikan Gaza Kembali Dibuka setelah Dua Tahun

Februari 10, 2026
39
Ilustrasi pengusiran penduduk Palestina (Decolonize Palestine)

Pembersihan Etnis, Pengusiran Paksa Penduduk Palestina dari Tanah Air

Februari 4, 2026
36
Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Februari 2, 2026
132
Para pemukim memasang bendera Israel di pagar batu Masjid Ibrahimi di Hebron (MEMO)

Masjid Ibrahimi: Proyek Yahudisasi dan Penghapusan Paksa Identitas Islam di Seluruh Bagiannya

Januari 26, 2026
50
Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

Januari 20, 2026
1.2k
Next Post
Israel Menghancurkan Kediaman Yasser Arafat di Gaza

Israel Menghancurkan Kediaman Yasser Arafat di Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Senjata Terlarang Israel “Lenyapkan” Ribuan Warga Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630