Bagian dalam rumah Bassem Tahayneh di kamp pengungsi Jenin tampak seolah-olah diterbangkan tornado. Lemari setinggi langit-langit di dalam kamar tidur putrinya dirobohkan di atas tempat tidur; empat layar TV nya ditarik dari dinding dan dihancurkan; ubin di lantai hancur, dan kabel yang menghubungkan rumah ke jaringan listrik dipotong.
Tahayneh (41), adalah satu dari ribuan warga Palestina di kamp pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah bersama keluarganya selama serangan tentara Israel yang dimulai sejak hari Minggu, hanya untuk kembali beberapa hari kemudian dan menemukan bagian dalam rumah mereka hampir hancur total.
“Tidak ada apa pun di rumah ini yang layak digunakan. Ini bencana,” kata ayah tiga anak itu kepada Al Jazeera pada pagi hari setelah tentara Israel mundur dari kamp, lebih dari dua hari setelah serangan dimulai. “Butuh waktu setidaknya sebulan untuk memperbaiki semuanya agar saya dan keluarga bisa tinggal di sini lagi,” lanjut Tahayneh. “Saya belum bisa membawa istri dan anak saya kembali ke rumah. Saya tidak bisa membiarkan mereka melihat reruntuhan ini.”
Tahayneh terpaksa pergi bersama keluarganya dari lingkungan Hawasheen di kamp pengungsi Jenin pada hari pertama penyerangan. “Tentara berdiri di pintu masuk kamp dan mulai berteriak melalui pengeras suara: ‘Semua orang di lingkungan ini, kalian punya waktu 10 menit untuk meninggalkan rumah kalian. Kami akan menembaki semua rumah,’” ia mengatakan.
Seperti kebanyakan rumah di dalam kamp, rumah Tahayneh tidak hanya rusak; melainkan juga digunakan sebagai pangkalan militer untuk menargetkan pejuang Palestina. Lubang yang cukup besar dibor ke dinding luar sejumlah besar rumah yang digunakan tentara untuk menempatkan penembak jitu mereka, sementara lusinan selongsong peluru kosong berserakan di lantai mereka.
Makanan di dalam rumah juga dimakan dan dilempar ke mana-mana, termasuk ke lantai, sementara peralatan medis dan militer tentara Israel seperti kain kasa dan kabel ditemukan tertinggal. “Ketika kami kembali, kami menemukan bahwa mereka telah meledakkan pintu depan kami dan mereka mengambil alih rumah kami dan menggunakannya sebagai markas. Ada lubang raksasa di dinding kamar tidur saya yang mereka gunakan untuk penembak jitu mereka,” kata Tahayneh, menambahkan bahwa tentara “makan makanan kami dan minum air kami”. Bahkan kotak kue kurma yang dibuat istrinya untuk hari raya Iduladha yang berakhir pekan lalu juga telah dibuka dan dimakan habis.
Serangan terhadap kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat utara adalah yang terbesar dalam dua dekade. Tentara Israel – untuk pertama kalinya sejak 2006 – meluncurkan serangan udara skala besar, menggunakan pesawat tak berawak bermuatan rudal selama kurang lebih 48 jam. Sedikitnya 1.000 tentara dan puluhan kendaraan lapis baja berpartisipasi dalam penyerangan tersebut. Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan bahwa 12 warga Palestina, termasuk lima anak, tewas dalam serangan itu, sementara sedikitnya 120 lainnya terluka, termasuk 30 orang yang masih dalam kondisi kritis. Setidaknya 3.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di Jenin karena takut dibunuh, menurut Bulan Sabit Merah.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








