Maskapai penerbangan Irlandia, Ryanair, meminta maaf pada Jumat (16/6) untuk “kesalahan yang tidak disengaja” oleh seorang anggota kru dalam penerbangan dari Bologna ke Tel Aviv yang mengumumkan tujuan penerbangan mereka dengan sebutan “Palestina yang diduduki”.
“Semua penumpang diminta untuk kembali ke tempat duduk karena pesawat akan mendarat di Tel Aviv di Palestina yang diduduki,” kata pramugari pada penerbangan 10 Juni, menurut saluran berita Israel i24NEWS. Pengumuman yang dibuat dalam bahasa Inggris dan Italia itu kemudian menimbulkan sejumlah keluhan dari penumpang.
Dalam sebuah pernyataan kepada Middle East Eye pada Jumat, Ryanair mengatakan bahwa seorang anggota staf kru junior saat itu sedang membuat pengumuman rutin mengenai pendaratan pesawat dan “secara keliru” mengatakan “Palestina”, bukan “Tel Aviv”. “Ini adalah kesalahan yang tidak disengaja dan segera dikoreksi dan dituntut untuk meminta maaf oleh anggota kru senior di pesawat,” kata pernyataan itu.
Awak kabin tersebut kemudian segera mengeluarkan permintaan maaf selama penerbangan, tetapi penumpang “terus bersikap kasar”, kata kepala eksekutif Ryanair Eddie Wilson. Akibatnya, polisi harus dipanggil untuk datang ke pesawat saat mendarat.
“Bukan kebijakan Ryanair (atau praktik kru kami) untuk menyebut Tel Aviv berada di negara lain selain Israel. Anggota kru yang dimaksud telah diajak bicara dan menerima peringatan untuk memastikan bahwa kesalahan seperti itu tidak akan terulang lagi,” kata Wilson dalam pernyataan lebih lanjut. “Israel adalah mitra penting bagi Ryanair,” tambahnya.
Kepala maskapai juga meminta maaf kepada Simon Wiesenthal Center, sebuah kelompok hak asasi manusia Yahudi, dan duta besar Israel untuk Irlandia. Dalam sepucuk surat kepada Ryanair, Simon Wiesenthal Center mengatakan telah menerima “banyak keluhan” tentang insiden tersebut dan mendesak maskapai untuk menyelidikinya.
“Jika Ryanair menganggap Tel Aviv berada di Palestina maka mungkin mereka hanya boleh berbisnis dengan Otoritas Palestina. Israel dan orang Israel dapat membuat jalan mereka sendiri ke dan/atau dari negara Yahudi,” tulisnya di Twitter.
Ini bukan pertama kalinya maskapai mengalami kesulitan di wilayah tersebut. Pada tahun 2002, pertengkaran pecah antara penumpang dan awak pesawat Air France penerbangan dari Paris ke Tel Aviv setelah seorang pilot mengumumkan tujuan akhir sebagai “Israel-Palestina”.
Setahun kemudian, seorang pilot Alitalia berkata “Selamat datang di Palestina” saat dia mendarat di Tel Aviv, yang menimbulkan reaksi keras di antara penumpang. Maskapai tersebut mengirimkan permintaan maaf kepada Duta Besar Israel untuk Italia, dan mengatakan pilot itu tidak akan lagi terbang ke Israel.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








