• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Pembunuhan Shireen Abu Akleh, Upaya Membungkam Palestina  

by Adara Relief International
Juni 10, 2022
in Artikel
Reading Time: 7 mins read
0 0
0
Pembunuhan Shireen Abu Akleh, Upaya Membungkam Palestina   
17
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

“I choose journalism to be close to people.

It might not be easy to change reality,

but at least I could bring their voice to the world.

I am Shireen Abu Akleh.”

 

Demikian ujaran Shireen Abu Akleh dalam salah satu video rekaman yang dirilis oleh Al-Jazeera untuk mengenang jurnalis terkemuka yang ditembak mati Israel ketika sedang bertugas dalam meliput bentrokan antara Israel dan kelompok pejuang Palestina di Jenin, Tepi Barat yang dijajah. Shireen adalah  jurnalis perempuan Amerika-Palestina  beragama Kristen yang telah bekerja di Al-Jazeera selama lebih dari 20 tahun. Ia ditembak dengan sadis meski menggunakan rompi dan helm yang bertuliskan PRESS. Sebagai jurnalis, seharusnya rompi dan helmnya memberi rasa aman karena Hukum Kemanusiaan Internasional dan Konvensi Jenewa telah menjamin haknya.

Shireen menjadi ikon perempuan jurnalis Arab pertama yang aktif meliput penjajahan Israel atas Palestina. Ia muncul pertama kali di layar kaca ketika intifadah kedua terjadi pada 2000. Kemunculannya di layar kaca yang meliput zona-zona berbahaya di Palestina menjadikannya kebanggaan, inspirasi, idola, guru, sekaligus mentor bagi anak-anak Arab yang kemudian tumbuh menjadi jurnalis pada hari ini. Israel tentunya mengetahui dengan baik sepak terjang perempuan jurnalis ini, sehingga meski ia telah memasuki usia paruh baya, tetap dianggap layak untuk dibunuh.[1]

(Sumber: Al-Jazeera)

Besarnya rasa cinta penduduk Palestina terhadap Shireen dapat dilihat dari ramainya pelayat yang mengusung jenazahnya di empat kota: Al-Quds, Nablus, Ramallah, dan Jenin. Ribuan orang memadati jalan-jalan untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya.[2] Bendera Palestina dikibarkan untuk mengiringi kepergiannya. Pemandangan tersebut tampak menyebalkan di mata Zionis, hingga polisi Israel pun melakukan serangan kepada para penduduk yang mengiringi jenazah Abu Akleh.[3] Sekali lagi, sebelum dikebumikan, keberadaannya kembali menjadi “juru bicara” dan “saksi mata” yang merekam tindak sewenang-wenang Israel yang tidak memandang situasi.

Serangan yang dilakukan oleh polisi Israel ketika para penduduk mengantarkan jenazah Abu Akleh menuju permakaman (Sumber: Aljazeera.com).

Shireen Abu Akleh bukan satu-satunya jurnalis Palestina yang menjadi target militer Israel. Sejak 2000, terhitung lebih dari 50 jurnalis Palestina telah dibunuh. Enam di antaranya dibunuh di wilayah Palestina yang diduduki. Pada 2019 PBB menerbitkan laporan bahwa militer Israel dengan sengaja menembak dua jurnalis, yakni Yaser Murtaja dan Ahmed Abu Hussein pada 2018 saat meliput aksi damai Pawai Kepulangan Akbar.[4]

Pembunuhan terhadap jurnalis ini bukanlah human error. Israel secara sengaja menyasar jurnalis untuk membungkam suara mereka tentang upaya genosida terhadap bangsa Palestina. Tidak cukup hanya dengan menyensor Twitter, Instagram, Facebook, atau platform media sosial lainnya, serta tidak cukup dengan menghancurkan kantor-kantor pers di Gaza dalam berbagai serangan besar yang terjadi setiap tahunnya. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa Israel memiliki tujuan yang sangat jelas terhadap pemberitaan tentang Palestina, yaitu agar para jurnalis tidak dapat menggaungkan penjajahan Israel atas Palestina.

Dengan membungkam suara media dan jurnalis dengan senapan, Israel berpikir dapat semakin leluasa membunuhi warga sipil Palestina secara sistematis, tidak peduli siapa mereka, termasuk anak dan perempuan yang menjadi korban tindakan antikemanusiaan Israel.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina[5] sejak awal 2022 hingga awal Mei ini Israel telah membunuh 50 penduduk Palestina, termasuk 10 anak dan 4 perempuan. Intensitas jumlah pembunuhan ini jika dibandingkan dengan 2021, naik hingga lima kali lipat. Israel mungkin tidak membuka perang terbuka seperti serangan terhadap Gaza 2021 lalu. Namun, Israel meningkatkan intensitas pembunuhan terhadap penduduk Palestina di berbagai wilayah, yang jika dunia membiarkan korban yang terus berjatuhan, mungkin jumlahnya akan sama atau bahkan lebih banyak dari agresi ke Gaza pada tahun lalu.

Fakta-fakta seperti itulah yang berusaha dibungkam oleh Israel dengan dibunuhnya Shireen. Jangan sampai  dunia tahu, bahwa yang ditembaki Israel bukanlah pasukan bersenjata lengkap, tetapi perempuan setengah buta seperti Ghada Sabateen,[6] seorang ibu seperti Rima Khadijah[7] yang ditembak mati di depan anak-anaknya, atau lansia berusia 80 tahun seperti Omar Abdelmajeed As’ad[8] atau Suleiman Hathalin[9]. Israel juga tidak ingin dunia tahu bahwa penerima dana bantuan militer terbesar dari AS ini menggunakan peluru-peluru mereka untuk membunuhi anak-anak kecil di Palestina seperti Quasi Hamamreh (13 tahun), Mohammed Shehadeh (14 tahun), atau Mohammad Salah (14 tahun).

Foto Omar Abdelmajeed As’ad (Sumber: Middle East Eye)

Tidak ada satu pun dari mereka yang terbunuh adalah pasukan militer. Mereka adalah kelompok rentan yang sejatinya masuk dalam perlindungan Konvensi Jenewa ataupun Hukum Kemanusiaan Internasional. Mereka hanyalah anak-anak yang tengah bermain ataupun pergi ke sekolah, ibu-ibu yang hendak berbelanja untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, juga kakek-kakek lansia yang ketika berjalan butuh tongkat untuk menopang tubuhnya yang telah rapuh. Namun, di mata Israel, mereka sama seperti musuh di zona perang, karena mereka adalah Palestina. Mereka menjadi bagian dari bangsa yang bertahan, meski setelah berpuluh-puluh tahun penjajahan, diskriminasi, ancaman genosida dan kekerasan menghantui tiap derap langkah hidup mereka.

Lupakan konvensi Jenewa atau hukum kemanusiaan internasional yang di dalamnya terdapat hak bagi sipil untuk dilindungi meski dalam perang sekalipun sebab pembunuhan ini tidak berlangsung kemarin saja. Pembunuhan ini telah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya bahkan ketika hukum ini telah berdiri tegak dan mengalami ratifikasi berulangkali. Namun, ironisnya, hukum-hukum ini tidak mampu membuat Israel bertekuk lutut dan mendapat hukumannya. Pertanyaannya, apa yang salah?

Di forum-forum PBB, Israel kerap mendapatkan kekebalan hukum (impunitas) melalui veto AS setiap kali berbagai negara mencoba menjatuhkan sanksi terhadapnya. Di saat people power turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakadilan terhadap penduduk Palestina, atau para mahasiswa dan akademisi menyuarakan kejahatan Israel di ruang-ruang kuliah, mereka lantas dicap dan dituduh antisemit. Mereka dimarjinalkan, bahkan ada yang harus kehilangan pekerjaannya sebagai seorang dosen seperti yang dialami oleh profesor Steven Salaita yang dipecat dari Universitas Illinois[10]  atau seperti jurnalis Emily Wilder yang dipecat dari kantornya karena dukungan terhadap Palestina.[11]

Ketika masyarakat membuat gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) sebagai upaya agar Israel tidak lagi mendapatkan kucuran dana dari dunia internasional lewat bisnis yang dijalankannya, beramai-ramai negara pendukung Israel menggunakan kekuasaannya untuk menahan gerakan ini. Dimulai dari AS yang menurunkan sejumlah UU yang melarang gerakan BDS[12], kemudian baru-baru ini pemerintah Inggris juga mengumumkan akan mengeluarkan UU yang melarang gerakan BDS[13]. Setiap tindakan yang mengecam kejahatan Zionis akan dicap sebagai tindakan rasis dan antisemit.

Dukungan masyarakat Inggris terhadap Palestina (sumber: Alaraby.co.uk)

Dari fakta-fakta ini jelas bahwa apa yang terjadi di Palestina saat ini; penjajahan dan penindasan Israel terhadap Palestina, didukung oleh sistem dunia. Namun, di sisi lain sistem tersebut juga tidak mampu membungkam perjuangan penduduk Palestina yang masih bertahan  hingga saat ini. Juga tidak mampu membungkam masyarakat dunia yang masih ikut bergerak bersama penduduk Palestina lewat demonstrasi damai, bantuan kemanusiaan, media sosial, ataupun melalui doa-doa.

Apakah karena penduduk Palestina tidak bermata biru dan berambut pirang, maka nasib mereka berhak diabaikan? Berbeda dengan warga Ukraina yang bermata biru, berambut pirang, serta ras Eropa, lantas hanya mereka yang berhak mendapatkan simpati dunia? Sanksi-sanksi dan marjinalisasi terhadap Rusia langsung digulirkan oleh berbagai negara dunia[14], tapi tidak demikian terhadap Israel. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa apartheid bukan hanya dilakukan Israel terhadap Palestina tetapi juga oleh sistem dunia.

Negara-negara yang memberikan sanksi kepada Rusia (sumber: dailymail.co.uk)

Terlepas dari keberpihakan pihak mana pun, keyakinan haruslah tetap ditegakkan; bahwa meski sistem dunia beramai-ramai hendak membungkam Palestina dan para pendukung kemanusiaan, kekuatan rakyat tidak akan terkalahkan. Suara-suara rakyat Palestina dan para pembelanya harus terus digaungkan, sebagaimana cita-cita Shireen Abu Akleh yang ingin selalu menyuarakan Palestina kepada masyarakat dunia, meski harus berhadapan dengan berbagai kesulitan yang tidak tertahankan.

 

Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.

Penulis merupakan Ketua Departemen Resource Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.

Baca Juga

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

 

[1] https://www.bostonglobe.com/2022/05/13/opinion/everybody-knew-shireen-abu-akleh/

[2] https://www.theguardian.com/world/2022/may/12/shireen-abu-aqleh-thousands-attend-state-memorial-in-west-bank

[3] https://www.aljazeera.com/gallery/2022/5/13/journalist-shireen-abu-akleh

[4] https://www.ohchr.org/sites/default/files/Documents/HRBodies/HRCouncil/CoIOPT/A_HRC_40_74.pdf

[5] https://adararelief.com/kementerian-kesehatan-mendokumentasikan-50-warga-palestina-yang-dibunuh-oleh-israel-sejak-awal-tahun/

[6] https://adararelief.com/anak-anak-palestina-menjadi-yatim-piatu-setelah-tentara-israel-membunuh-ibu-mereka/

[7] https://adararelief.com/seorang-perempuan-muda-ditembak-mati-di-qalansuwa/

[8] https://adararelief.com/penangkapan-dan-penyiksaan-lansia-oleh-zionis-berujung-kematian/

[9] https://adararelief.com/pasukan-israel-membunuh-31-warga-palestina-dalam-waktu-kurang-dari-4-bulan/

[10] https://www.merdeka.com/dunia/bikin-kicauan-pro-palestina-profesor-di-amerika-dipecat.html

[11] https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4563986/sosok-emily-wilder-jurnalis-yang-dipecat-karena-serukan-dukungan-untuk-palestina

[12] https://www.hrw.org/news/2019/04/23/us-states-use-anti-boycott-laws-punish-responsible-businesses

[13] https://english.alaraby.co.uk/news/uk-moves-step-closer-anti-bds-bill-after-queens-speech

[14] https://www.dailymail.co.uk/news/article-10550811/How-Russia-sanctioned-world-Ukraine-invasion.html

 

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Pada Peringatan Nakba, Warga Palestina di Masafer Yatta Dibayangi Nakba Baru

Next Post

Kasih Sayang Rasulullah Saw. kepada Anak Yatim

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
21

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
16
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
19
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Kasih Sayang Rasulullah Saw. kepada Anak Yatim

Kasih Sayang Rasulullah Saw. kepada Anak Yatim

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630