Azzam al-Shaer, seorang anak Palestina, meninggal pada Selasa (25/6) karena kekurangan gizi di Gaza. Hal tersebut menjadikannya sebagai anak kelima yang meninggal karena kelaparan dalam sepekan terakhir akibat serangan Israel di daerah kantong itu.
Al-Shaer meninggal di Rumah Sakit Arab Al-Ahli di Kota Gaza setelah rumah sakit tersebut tidak dapat memperoleh obat untuk merawatnya, menurut Ismail al-Ghoul, koresponden Arab Al Jazeera di Jalur Gaza.
Sebuah video yang diposting di X menunjukkan jenazah Azzam yang kecil dan kurus tergeletak di atas meja. Pipinya cekung dan tulang rusuknya menonjol, serta lengannya mengerut.
“Azzam al-Shaer meninggal karena kekurangan gizi akibat perang kelaparan yang terus dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza,” tulis al-Ghoul di X.
“Anak ini tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya karena pengepungan yang sedang berlangsung dan tidak ada cara untuk menemukan obat karena rumah sakit dan sektor kesehatan telah dilumpuhkan,” katanya.
Kematian Azzam, dan video yang menyertainya, memberikan gambaran nyata atas laporan PBB yang diterbitkan pada Selasa (25/6) yang mengatakan bahwa hampir seluruh penduduk di Jalur Gaza menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang tinggi atau lebih buruk lagi, termasuk setengah juta orang yang menderita kelaparan.
Menurut laporan PBB, yang mengutip Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC): “96 persen populasi – sekitar 2,15 juta orang – menghadapi kerawanan pangan akut pada tingkat ‘krisis’ atau lebih tinggi.”
Middle East Eye melaporkan bahwa pemerintah Israel sangat membatasi pengiriman makanan untuk menyelamatkan nyawa mereka setelah terjadi sedikit peningkatan pasokan selama beberapa bulan sebelumnya, sehingga mengembalikan kondisi ekstrem yang dialami pada bulan Maret. Setidaknya empat anak di Gaza meninggal karena kekurangan gizi pekan lalu.
Selama lebih dari delapan bulan, militer Israel telah melakukan pengepungan ketat di Jalur Gaza. Mereka sangat membatasi aliran makanan yang penting dan barang-barang medis yang dapat menyelamatkan nyawa.
Pengepungan bahkan lebih ketat lagi di Gaza utara, sebuah wilayah yang Israel coba kosongkan dari lebih dari satu juta penduduknya sejak awal agresi atau pada Oktober 2023.
Seiring dengan pengeboman tanpa henti dan penargetan rumah sakit yang disengaja, dan sebagai bagian dari kebijakan yang merupakan hukuman kolektif terhadap warga sipil, militer Israel telah menggunakan kelaparan penduduk sebagai senjata perang, menurut penyelidik independen PBB.
Krisis kelaparan mencapai puncaknya pada bulan Maret, dengan puluhan anak meninggal karena kekurangan gizi dan penduduk terpaksa makan rumput, ketika pasukan Israel berulang kali membunuh orang-orang yang mencari bantuan kemanusiaan.
Di bawah tekanan internasional yang meningkat, Israel “sedikit ” meningkatkan akses pangan di beberapa daerah setelah pasukannya membunuh beberapa pekerja bantuan asing dan sebuah laporan yang didukung PBB memperingatkan bahwa kelaparan akan segera terjadi.
Namun, invasi darat Israel ke Rafah, di Gaza selatan, termasuk perebutan perbatasan Rafah, telah menghambat truk bantuan kemanusiaan untuk menuju wilayah tersebut. Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan pada Selasa (25/6) bahwa tidak ada bantuan yang masuk ke Jalur Gaza dalam 50 hari terakhir.
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)