• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home A

Nakba: Malapetaka yang Ditanggung Bangsa Palestina (Bagian II: The Great Palestinian Revolt 1936—1939)

by Adara Relief International
Mei 13, 2023
in A, Artikel
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Nakba: Malapetaka yang Ditanggung Bangsa Palestina (Bagian II: The Great Palestinian Revolt 1936—1939)
159
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Bagaimana sikap pemimpin Arab pada umumnya dalam menanggapi pemberontakan Palestina dan hukuman kolektif Inggris pada 1936?

Pada 19 April 1936, Palestina melancarkan pemogokan nasional untuk memprotes imigrasi massal Yahudi dan apa yang mereka lihat sebagai aliansi Inggris dengan gerakan zionis. Banyak orang Palestina terluka dan terbunuh selama enam bulan serangan; lebih dari 190 warga Palestina tewas dan lebih dari 800 yang terluka. Khawatir akan pemberontakan rakyat, para pemimpin Arab menyarankan Palestina untuk mengakhiri pemogokan.

Ketika itu, para pemimpin Arab mengatakan bahwa sekutu mereka, Inggris, akan menyelesaikan masalah tersebut. Pimpinan Palestina tunduk pada tekanan pemimpin negara Arab dan setuju untuk bertemu dengan komisi penyelidikan kerajaan Inggris yang dipimpin oleh bangsawan Earl Peel.

Dalam laporannya pada Juli 1937, Komisi Peel merekomendasikan pembagian Palestina; menarik perbatasan negara Yahudi di sepertiga Palestina dan negara Arab di dua pertiga sisanya untuk digabungkan dengan Trans-Yordania. Sementara itu, koridor tanah dari Al-Quds (Yerusalem) ke Yaffa akan tetap berada di bawah Mandat Inggris. Komisi tersebut juga merekomendasikan pemindahan warga Palestina yang diperlukan dari tanah yang dialokasikan untuk negara Yahudi yang baru. Proposal diterbitkan secara luas dan memicu perdebatan sengit.

Pihak zionis sangat senang dengan Peel Commission Report karena menyatakan prinsip pemindahan orang dari satu wilayah ke wilayah lainnya berdasarkan kebangsaan atau agamanya. Bagi Zionis, bagian terbaiknya adalah prinsip pemindahan ini bisa mengarah pada negara Yahudi 100% dengan izin dan pengesahan Mandat.

Baca Juga

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Apa yang kemudian terjadi atas Palestina dan para pemimpinnya?

Tanggapan Inggris terhadap pemberontakan rakyat Palestina kian mengeras. Pada periode 1936 – 1937, Inggris menyatakan darurat militer dan membubarkan organ politik utama Palestina dan Komite Tinggi Arab yang dipimpin oleh Mufti Al-Quds (Yerusalem) Haji Amin al-Husseini dan lima anggotanya diasingkan ke Pulau Seychelles, salah satunya adalah Walikota Al-Quds Hussein al-Khalidi. Pada Oktober 1937, Haji Amin al-Husseini dan para pemimpin Palestina yang menghindari penangkapan, pergi ke Lebanon untuk memimpin dari sana. Hal tersebut menggambarkan bahwa para pemimpin politik Palestina saat itu berada di pengasingan. Namun, pemberontakan terus berlanjut meskipun tidak ada kepemimpinan di Palestina.

Bagaimana pengaruh ketiadaan pemimpin Palestina terhadap rakyat ketika itu?

Reaksi otoritas Inggris sangat keras. Mereka membuat kamp konsentrasi di Palestina dan menempatkan ribuan warga Palestina di kamp konsentrasi tersebut dan membunuh 1000 di antara mereka. Sementara otoritas Inggris melucuti senjata Palestina, mereka mempersenjatai dan melengkapi pasukan khusus Yahudi untuk bertindak sebagai milisi pelindung bagi permukiman Yahudi.

Kamp Konsentrasi Inggris di Palestina (Sumber:electronicintifada.net)

Orang-orang Palestina melihat ini sebagai bukti lebih lanjut dari bias dan ketidakadilan Inggris. Dalam beberapa kasus, perwira Inggris, seperti Kolonel Orde Wingate, secara aktif terlibat dalam pelatihan paramiliter Yahudi yang disebut haganah. Mereka kemudian menjadi inti dari tentara Israel. Banyak orang Yahudi yang memainkan peran utama dalam perang 1948, telah mendapat pelatihan dan bertugas di Angkatan Darat Inggris selama Perang Dunia II. Mereka dilatih untuk menggunakan senjata berat, artileri, angkatan udara, radio, dan semua keahlian yang harus dimiliki tentara profesional.

Pada 1938, sebuah organisasi paramiliter Zionis bawah tanah yang disebut ‘Ergon’ mulai meningkatkan jumlah serangan terhadap sasaran-sasaran Arab. Pada Juli tahun itu, kelompok Ergon melakukan suksesi pengeboman di wilayah sipil di Haifa dan Yerusalem, 68 warga Palestina tewas dan banyak yang terluka.

Apakah Palestina menanggapi kekerasan tersebut mengingat senjata mereka telah dilucuti?

Tekanan yang terus diterima oleh rakyat Palestina menyebabkan Revolusi Palestina mencapai puncaknya pada musim panas 1938. Ada sekitar 65 pemimpin lokal dan 14 pemimpin distrik dengan 60—70% adalah pengikut Izzuddin al-Qassam. Mereka mulai membentuk kelompok-kelompok yang lebih terkoordinasi dan berbasis di desa-desa, dalam melawan pendudukan Inggris dan imigran Yahudi. Panglima tertinggi kaum revolusioner adalah Abdul Rahim al-Hajj.

Abdul Rahim al-Hajj bersama kaum revolusioner, 1938 (sumber: Paljourneys.org)

Namun, perlawanan ini mendapat reaksi lebih keras lagi. Antara 1938 dan 1939, Inggris mengadakan puluhan pengadilan militer. Sebanyak 112 warga Palestina dieksekusi. Di antara mereka adalah Farhan al-Sadi, revolusioner 80 tahun dari Jenin yang dieksekusi pada Ramadan. Ada pula Uskup Akka-Katolik Yunani, Gregorus Hajjar yang terus berkampanye tentang orang-orang Yahudi yang ingin mengambil alih Palestina. Pada tahun 1940 Uskup Hajjar tewas dalam kecelakaan sabotase mobil dalam perjalanan ke Haifa.

Mengapa tanggapan Inggris begitu keras terhadap bangsa Arab-Palestina?

Pembersihan etnis orang Arab dari Palestina telah direncanakan selama beberapa dekade oleh gerakan Zionis. Terdapat komite transfer yang dipimpin oleh Yosef Weitz, yang merupakan tangan kanan Ben-Gurion pada 1930-an. Hal ini menegaskan bahwa para perencana Zionis telah mempertimbangkan perlunya pembersihan sistematis terhadap orang-orang Arab agar dapat mempromosikan gagasan “tanah tanpa orang untuk orang tanpa tanah” yang tidak memiliki dasar sama sekali.

Pada 1940 Yosef Weitz menegaskan bahwa tidak mungkin bagi dua bangsa untuk berbagi ruangan. Artinya, bangsa Arab, seluruhnya, harus “dipindahkan” dari tanah Palestina.

Akibatnya, hukuman kolektif yang diberlakukan oleh Inggris terhadap Palestina terus meningkat. Mereka membakar ladang, mengumpulkan orang-orang, serta memaksa berjalan di atas batu bara dan tanaman kaktus yang terbakar. Makanan pokok seperti minyak dan gula sengaja dicampur agar penduduk kelaparan. Penghancuran rumah dan pengepungan panjang dilakukan sepanjang hari pada musim panas agar orang-orang kehilangan tempat berlindung dan semakin tertekan.  Semua ini menurunkan kapasitas orang-orang Palestina untuk melanjutkan revolusi, terutama setelah dilakukannya eksekusi terhadap sejumlah revolusioner.

Apa akibat signifikan dari peristiwa sepanjang Revolusi 1936—1939 di Palestina?

Pada periode tersebut diperkirakan 5.000 orang Palestina tewas dan 14.000 terluka. Sekitar 100 tentara Inggris dan 400 orang Yahudi juga tewas selama pemberontakan. Eugene Rogan dari Middle East Center di Oxford mengatakan bahwa satu dari sepuluh pemuda Palestina usia pertempuran; antara 18 dan 40, berada di penjara, dibunuh, terluka, atau diusir dari negara itu. Ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari strategi untuk memutus rantai perlawanan, sebab generasi yang bisa dibentuk untuk melawan gerakan Zionis pada tahun 1940-an, hilang begitu saja.

Seorang Syekh berbicara di hadapan para pria Palestina pada masa Revolusi (sumber: Paljourneys.net)

Sejarawan Israel Ilan Pappe menambahkan bahwa tidak ada institusi yang tersisa dalam masyarakat Palestina. Masyarakat Palestina sangat miskin dan tanpa pemimpin, secara militer dan politik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejak 1939 dan seterusnya, tidak ada kepemimpinan Palestina yang sesungguhnya di lapangan.

Selain itu, kelompok Yahudi juga memprakarsai operasi pengumpulan intelijen dengan mengumpulkan materi tentang setiap desa di Palestina yang disebut proyek data desa. Dari proyek tersebut didapat informasi tentang kualitas tanah dan pandangan politik masyarakatnya. Hal-hal tersebut menjadi alasan yang berkontribusi pada apa yang terjadi nanti pada 1948. (SNB, LMS)

Baca juga
Nakba: Malapetaka yang Ditanggung Bangsa Palestina (Bagian III: Dari Resolusi PBB 181 hingga Pawai Kematian)

 

Sumber:

https://www.youtube.com/watch?v=yI2D5Fsd9lg

 

[1] Tulisan ini disarikan dari Film Dokumenter Al-Jazeera: “Al-Nakba, The Palestinian Catastrophe Episode 2”

 

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Nakba: Malapetaka yang Ditanggung Bangsa Palestina (Bagian I: 1799-1936)

Next Post

107 Titik Event Kolaborasi Kebaikan Ramadhan

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

by Adara Relief International
Januari 14, 2026
0
23

Jika aku meninggal, aku ingin kematian yang menggemparkan Aku tidak ingin hanya menjadi berita utama,  atau sekadar angka dalam sebuah...

Read moreDetails
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
72
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Indah Kurniati, Direktur Fundraising Adara Relief International di depan Posko Pengumpulan Bantuan Peduli Bencana dari Kemensos RI (10/12).

Adara Hadiri Temu Filantropi Kemensos: Apresiasi Atas Respon Cepat Tanggap Bencana Sumatera

Desember 11, 2025
72
Next Post
107 Titik Event Kolaborasi Kebaikan Ramadhan

107 Titik Event Kolaborasi Kebaikan Ramadhan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630