• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Februari 9, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Kisah Nyata Para Perempuan Palestina Penyintas Agresi Israel ke Gaza (bagian III): Tak Ada yang Ingin Meninggalkan Gaza, Jika Tidak Terpaksa

by Adara Relief International
Juni 25, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 4 mins read
0 0
0
Kisah Nyata Para Perempuan Palestina Penyintas Agresi Israel ke Gaza (bagian III): Tak Ada yang Ingin Meninggalkan Gaza, Jika Tidak Terpaksa

(Dari kiri ke kanan: Ibu Nurjannah, Ketua KPIPA; Dr. Sevjan; Ibu Maryam Rachmayani, Direktur Utama Adara Relief International)

123
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Dr. Sevjan Shamy adalah perempuan paling tua di antara perempuan Palestina penyintas agresi Israel yang hadir di tengah-tengah kami. Tidak ada satu pun dari kami yang bertanya soal usia, namun raut wajahnya menyiratkan bahwa usia Doktor Sevjan telah melampaui angka 60 tahun.

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala menguji saudara-saudara kita. Ujian yang saya alami tidak sebanding dengan yang dialami oleh Dr. Syaima. Allah membuat perjanjian dengan orang-orang beriman bahwa Allah akan membeli diri, jiwa, dan harta mereka. Semoga Allah menerima semua pengorbanan yang kami persembahkan untuk membela agama Allah ini,” dengan rendah hati ia memulai kisahnya.

Sebagai pembuka, Dr. Sevjan menjelaskan letak tempat tinggalnya. Beliau tinggal di Jalan Mukhabarat, yang terletak di perbatasan antara Kota Gaza dan Jabalia di utara. Di depan rumahnya terdapat kawasan Al-Karama yang terkenal dengan gedung-gedung pencakar langitnya, sementara di sisi yang mengarah ke laut terlihat menara-menara di kawasan Mukhabarat. Dua kawasan penting ini menjadi sasaran pengeboman sabuk api yang dilancarkan oleh Zionis. Seluruh bangunan hancur tak bersisa. Israel dengan sengaja menghancurkannya agar tank-tank mereka dapat merangsek dengan leluasa ke dalam wilayah Gaza.

 

1 of 3
- +

1. (Gedung di wilayah Al-Mubakharat yang menjadi kediaman Dr. Sevjan yang dihancurkan oleh Israel. Sumber: LiveUAMap).

2.

3. Wilayah Al-Karama sebelum dan setelah dihancurkan oleh militer Gaza. (Sumber: Maxar Technologies/BBC)

Menurut Dr. Sevjan, pada pagi hari tanggal 7 Oktober 2023, warga Gaza beraktivitas sebagaimana biasanya. Tak ada aktivitas yang berbeda ataupun yang aneh. Ada yang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, kampus, ke tempat kerja, atau sekadar melakukan aktivitas rutin lainnya. Namun, tiba-tiba pukul 6 tepat terdengar suara rudal diluncurkan, bukan hanya satu, melainkan tidak terhitung. Dr. Sevjan, sebagaimana warga Gaza lainnya berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Namun, tidak ada berita apa pun. Saat itu ia tidak mengetahui apa yang terjadi.

Hingga akhirnya, berita dan gambar di sosial media mulai membahas tentang apa yang terjadi. Semua orang membicarakan tentang peristiwa yang terjadi di wilayah permukiman Yahudi yang terletak di perbatasan Gaza, sehingga mereka menyangka mungkin saatnya untuk merdeka sudah tiba. Semua orang berbahagia. Namun ternyata, waktu yang dinanti belum saatnya tiba.

Setelah tanggal 7 Oktober, serangan rudal menghujani Gaza tanpa henti. Selama empat hari mereka mendengar suara dentuman bom dan rudal yang tidak berhenti siang malam. Dunia bagaikan kiamat. Selama hari-hari tersebut mereka tidak keluar rumah sama sekali. Setiap keluarga berkumpul di tengah rumah, menjauhi jendela untuk menghindari pecahan kaca dari jendela.

Baca Juga

Pembersihan Etnis, Pengusiran Paksa Penduduk Palestina dari Tanah Air

Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Pada hari kelima, wilayah Al-Karama menjadi target serangan sabuk api (lingkaran pertempuran). Zionis terus menyerang tanpa henti, hingga seluruh bangunan di wilayah tersebut hancur.

Rumah Dr. Sevjan hanya berjarak 100 meter dari wilayah Al-Karama. Menghadapi keadaan tersebut, ia dan keluarganya memilih untuk menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an, zikir, dan doa. “Kami menyangka mungkin saatnya wilayah kami juga akan diserang seperti itu,” paparnya.

Tepat pada pukul 12 tengah malam, tiba-tiba saja tembakan rudal berhenti. Ia dan keluarganya memberanikan diri untuk turun ke lantai dasar dan memutuskan untuk mengungsi ke rumah kerabat yang tidak terlalu jauh jaraknya.

Namun, mereka tidak dapat berdiam di satu tempat. Seringkali ada ancaman bahwa bangunan yang mereka tempati atau bangunan terdekatnya akan menjadi sasaran rudal. Akibatnya, mereka terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan mendiami rumah-rumah orang yang telah kosong dan tidak dikenal.

Pada hari ke-7, Zionis menyebarkan selebaran dari pesawat bahwa wilayah Al-Mukhabarat, Al-Karama, dan Makusi harus dikosongkan. Dengan kata lain, mereka harus keluar dari Kota Gaza dan mengungsi ke wilayah di luar Wadi (lembah) Gaza. Penyerangan akan di mulai dari wilayah mereka tinggal, yaitu Al-Mukhabarat.

 

1 of 3
- +

1. Berbagai leaflet yang dijatuhkan Israel melalui pesawat ini berisi peringatan untuk meninggalkan area tersebut sebab akan dihancurkan oleh Israel. (Sumber: Amnesty International, Vanguard, Vionnews)

2.

3.

www.nbcnews.com

Dengan terpaksa, Dr. Sevjan dan keluarganya keluar dari wilayah tempat mereka mengungsi karena menjadi bagian yang akan dibumihanguskan. Mereka akhirnya kembali berpindah, dan kali ini destinasi yang dituju adalah wilayah Gaza Tengah, tempat anak perempuannya tinggal. Meskipun sebenarnya, wilayah tersebut juga tidak dapat dikatakan benar-benar aman sebab suara ledakan rudal dan bom masih kerap kali terdengar. Apalagi rumah tersebut terletak di pesisir pantai, yang sering dijadikan sasaran tembak kapal-kapal perang Zionis.

Namanya Keluar sebagai Warga Turki yang akan Dievakuasi

Dr. Sevjan merupakan warga Palestina yang juga memiliki kewarganegaraan Turki. Ibunya merupakan warga Turki dan tinggal di kawasan Cyprus (Yunan, Turki). Ketika pemerintah Turki memutuskan untuk mengevakuasi warga negaranya, namanya termasuk di antara mereka yang harus dievakuasi. Awalnya Dr. Sevjan menolak, dan ingin tetap bertahan di Gaza. Namun, kondisi di Gaza terus memburuk, serangan rudal yang tidak pernah berhenti, serta kebutuhan dasar menjadi sangat langka–tidak ada gas, air, listrik, internet, dan kebutuhan pokok lainnya. Bahkan untuk memasak mereka harus menggunakan kayu bakar yang diambil dari reruntuhan bangunan, pohon, ataupun pintu kayu rumah mereka. Mereka harus mencuci secara manual dengan menggunakan tangan. Jika hendak mengecas ponsel, mereka harus pergi ke masjid yang ada di dekat rumah mereka, karena masjid tersebut menggunakan panel surya.

 

1 of 2
- +

1. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 1000 orang warga Gaza yang memiliki kewarganegaraan Turki dan kerabatnya telah dievakuasi dari Gaza oleh pemerintah Turki. (Sumber: Anadolu Agency)

2.

Dengan berat hati, ia pun menyetujui untuk dievakuasi pemerintah Turki, sebagai bagian ikhtiar untuk keselamatan keluarganya. Akibat agresi genosida Israel, hampir seluruh keluarga suaminya telah syahid, sedangkan keluarga dari pihaknya sebagian besar berada di Rafah, Deir Balah, dan Gaza Tengah. Namun, ia tidak mendengar kabar saudara laki-lakinya yang tinggal di kota Gaza. Apakah masih hidup, terluka, ataupun syahid. Banyak juga dari keluarganya yang cacat dan terluka. Sungguh, jikalau tidak karena terpaksa, tak mungkin ia akan meninggalkan Gaza.

 

Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.

Penulis merupakan Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelPalestinaPerempuan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Kondisi 33 Tawanan Palestina yang Dibebaskan Israel dalam Kondisi Mengenaskan 

Next Post

Israel Menahan 25 Warga Palestina di Tepi Barat

Adara Relief International

Related Posts

Ilustrasi pengusiran penduduk Palestina (Decolonize Palestine)
Artikel

Pembersihan Etnis, Pengusiran Paksa Penduduk Palestina dari Tanah Air

by Adara Relief International
Februari 4, 2026
0
29

Kami tidak meratapi perpisahan itu Kami tidak punya waktu maupun air mata Kami tidak memahami momen perpisahan itu Mengapa, ini...

Read moreDetails
Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Februari 2, 2026
47
Para pemukim memasang bendera Israel di pagar batu Masjid Ibrahimi di Hebron (MEMO)

Masjid Ibrahimi: Proyek Yahudisasi dan Penghapusan Paksa Identitas Islam di Seluruh Bagiannya

Januari 26, 2026
33
Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

Januari 20, 2026
721
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Januari 19, 2026
37
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
34
Next Post
Israel Menahan 25 Warga Palestina di Tepi Barat

Israel Menahan 25 Warga Palestina di Tepi Barat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630