• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Jumat, Maret 6, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Bawa Harapan Akan Masa Depan, Sejumlah Institusi Pendidikan Gaza Kembali Dibuka setelah Dua Tahun

by Adara Relief International
Februari 10, 2026
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
Anak-anak Gaza kembali bersekolah di sebuah tenda pengungsian (Al Jazeera)

Anak-anak Gaza kembali bersekolah di sebuah tenda pengungsian (Al Jazeera)

43
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Kau boleh menjarah warisanku,

Membakar buku-bukuku, puisi-puisiku,
Memberi makan dagingku kepada anjing-anjing,

Kau mungkin menebarkan jaring teror
di atap-atap desaku 

Wahai Musuh Matahari,

Namun aku tak akan berkompromi,
Dan sampai denyut nadi terakhir di pembuluh darahku,
Aku akan melawan

(Musuh Matahari, Samih al-Qasem)

Sebelum Israel melancarkan genosida di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, Gaza memiliki ratusan bangunan untuk mendukung pendidikan. Sebelum genosida, anak-anak akan membawa ransel berisi buku-buku dan peralatan sekolah setiap pagi, kemudian mengisi ruang-ruang kelas dengan tawa ceria dan semangat untuk belajar. Begitu pula dengan universitas-universitas yang diisi oleh kesibukan dan diskusi dari para mahasiswa dan akademisi Gaza. Sejak dahulu, dunia pendidikan di Gaza adalah simbol dari tekad, ketahanan, dan perlawanan yang kuat dari penduduknya terhadap kerasnya penjajahan.

Namun, genosida yang berlangsung lebih dari dua tahun telah membuat lebih dari 100 gedung universitas di Gaza hancur, serta lebih dari 200 akademisi dan karyawan di universitas telah terbunuh. Sejak awal genosida, 97 persen bangunan sekolah telah hancur, membuat lebih dari 300.000 siswa kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal. Sementara itu, sekolah dan universitas yang masih tersisa, terpaksa berubah menjadi pusat pengungsian bagi warga Gaza yang kehilangan rumah mereka.

Di tengah kehancuran tersebut, secercah harapan muncul pada tahun ajaran ini dari ruang-ruang kelas yang kembali terbuka, meski hanya sebagian. Walaupun kondisi belum sepenuhnya stabil, beberapa sekolah dan universitas bertekad untuk tetap membuka ruang kelas mereka, menolak untuk menyerah dan membiarkan genosida merampas masa depan generasi penerus Gaza.

Universitas Al-Azhar Gaza

Kerusakan di gedung Universitas Al-Azhar akibat serangan pasukan Israel (MEE)
Kerusakan di gedung Universitas Al-Azhar akibat serangan pasukan Israel (MEE)

Universitas Al-Azhar didirikan pada 1991 selama Intifada Pertama. Universitas ini dibangun setelah pemimpin Palestina, Yasser Arafat, mengeluarkan dekrit untuk mendirikan universitas nasional untuk warga Palestina. Pada puncak perkembangannya, universitas ini memiliki 12 fakultas dan 17.000 mahasiswa. 

Pada 6 November 2023, angkatan udara Israel membombardir universitas yang terletak di selatan Kota Gaza tersebut, menghancurkan gedung-gedung yang menjadi saksi lahirnya cendekiawan-cendekiawan dari tanah Gaza. Wakil rektor universitas, Dr. Muhammad Shubeir, mengatakan bahwa kerugian yang dialami universitas akibat serangan Israel sangat besar. Ia memperkirakan total kerusakan bangunan, peralatan, dan aset bergerak mencapai lebih dari 40 juta dolar.

Pasukan pendudukan Israel mengatakan bahwa mereka menghancurkan Universitas Al-Azhar karena menemukan infrastruktur Hamas di sana. Israel menuduh Hamas menggunakan gedung universitas untuk kegiatan militer. Lebih jauh lagi, pada Oktober 2024, Israel menyebutkan bahwa mereka mengidentifikasi teroris bersenjata dan posisi peluncuran rudal anti-tank di area Universitas Al-Azhar, dan mengarahkan jet tempur untuk menyerang. 

Akan tetapi, dua tahun setelahnya, para mahasiswa, akademisi, dan karyawan universitas mengatakan bahwa mereka bertekad untuk tidak membiarkan genosida menghapus masa depan seluruh generasi. Kampus kembali dibuka untuk pembelajaran tatap muka, meski ruang-ruang kelas telah rusak dan para mahasiswa harus menggunakan fasilitas darurat. Kerusakan tersebut menggambarkan krisis yang sangat parah di Gaza, tetapi di saat yang sama juga menyoroti ketahanan para mahasiswa dan tekad kuat mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.

Baca Juga

Ramadan Bersama Anak-Anak Sebagai Penguatan Fitrah Iman Sejak Dini

Sejarah Palestina di Masa Kekhalifahan (Part 1): Pembebasan Palestina pada Masa Khalifah Umar bin Khattab

Doktor Muhammad Shubeir mengatakan bahwa keputusan untuk membuka kembali Universitas Al-Azhar didorong oleh kebutuhan dan rasa tanggung jawab terhadap pendidikan di Gaza. “Selama masa sulit genosida, kami melanjutkan pengajaran secara daring,” kata Shubeir. Dia mengatakan bahwa para staf harus bekerja dari daerah berbahaya hanya untuk mendapatkan akses internet satelit, di tengah pemadaman listrik berulang yang terjadi di Jalur Gaza.

Segera setelah kondisi memungkinkan, pihak administrasi universitas mengatakan mereka bergerak menuju pemulihan pembelajaran tatap muka, meskipun salah satu kampus terbesar Al-Azhar—fasilitas barunya di daerah  Al  Zahra,  yang berubah  menjadi koridor Netzarim  selama genosida—telah rata dengan tanah akibat serangan Israel selama genosida.

Pembukaan kembali lembaga pendidikan tinggi, betapapun terbatasnya, merupakan pengingat bahwa pembangunan kembali Gaza dimulai dengan melindungi masa depan para mahasiswanya, kata Shubeir. Bagi ribuan anak muda yang berjalan melintasi kampus-kampus yang rusak setiap pagi, pendidikan bukan hanya tentang belajar; itu adalah simbol ketahanan dan tekad yang kuat untuk melanjutkan hidup, tambahnya. “Bangunan kami hancur, tetapi tekad kami tidak,” demikian ia mengatakan. 

Universitas Islam Gaza

Gedung Universitas Islam Gaza yang hancur akibat serangan Israel (The Intercept)
Gedung Universitas Islam Gaza yang hancur akibat serangan Israel (The Intercept)

Universitas Islam Gaza adalah institusi pendidikan tertua di Gaza. Universitas Islam Gaza didirikan pada 1978 dan mengadakan kelas pertamanya di tenda-tenda. Pada 2023, universitas ini memiliki lebih dari 17.000 mahasiswa, 62 persen di antaranya perempuan dan banyak mahasiswa yang memiliki disabilitas fisik, penglihatan, atau pendengaran. Hal tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan terbuka bagi semua orang di Gaza, bagaimanapun kondisi mereka.

Universitas Islam Gaza memiliki lebih dari 200 laboratorium sains dan 75 ruang komputer. Universitas ini juga memiliki 20 pusat penelitian dan menawarkan 169 program akademik serta 11 fakultas: kedokteran, teknik, teknologi informasi, ilmu kesehatan, sains, seni, pendidikan, keperawatan, administrasi, syariah dan hukum, serta studi Islam. Sekitar 90.800 mahasiswa telah lulus dari universitas ini sejak pertama kali didirikan.

Dr. Amani Ahmed Al-Mqadma, kepala Kantor Hubungan Internasional Universitas Islam Gaza, mendefinisikan universitas tersebut sebagai “bangunan yang indah, berdiri dengan megah di antara area hijau yang luas.” Namun, setelah genosida, ia menyebutnya sebagai “tempat yang terstruktur dan indah – tempat perlindungan ketertiban di lingkungan yang kacau.” Ini merujuk pada bangunan-bangunan universitas yang terpaksa berubah fungsi menjadi tempat penampungan sementara akibat genosida.

Pasukan Israel menghancurkan Universitas Islam Gaza pada malam hari di tanggal 10 Oktober 2023 setelah menuduh universitas tersebut memproduksi senjata. Meski tidak ada bukti kuat yang Israel tunjukkan untuk mendukung tuduhan tersebut, mereka tetap menghancurkan institusi pendidikan bersejarah tersebut. Ini bukan kali pertama Universitas Islam Gaza menjadi sasaran pasukan Israel. Universitas tersebut sebelumnya sudah pernah mengalami kerusakan akibat serangan udara pada 2008–2009 dan 2014, namun serangan pada genosida Oktober 2023 semakin memperparah kerusakannya.

 

Kondisi salah satu ruangan di Universitas Islam Gaza yang hancur selama genosida (Al Jazeera)
Kondisi salah satu ruangan di Universitas Islam Gaza yang hancur selama genosida (Al Jazeera)

Hari ini, 12 dari 16 bangunan di kampus pusat Universitas Islam di Kota Gaza telah hancur total, dan empat bangunan mengalami kerusakan parah. Kampus kedua, yang menampung Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Universitas Turki, juga telah hancur total. Kampus Khan Yunis di selatan yang memiliki dua bangunan juga mengalami kerusakan parah.

Di tengah kerusakan tersebut, para mahasiswa Universitas Islam Gaza mengikuti pembelajaran tahun ajaran 2025 melalui kelas tatap muka untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Mereka berusaha beradaptasi dengan kampus yang telah hancur dan berubah menjadi lokasi pengungsian massal sebagai akibat dari genosida Israel. Di tengah reruntuhan gedung dan kelas-kelas yang hancur, mereka kembali menata masa depan, berusaha bertahan meski penuh dengan keterbatasan.

Di Universitas Islam Gaza, para profesor juga belajar untuk berimprovisasi dengan sumber daya apa pun yang tersisa di tengah pemadaman listrik, kekurangan peralatan, dan lingkungan belajar yang tidak memadai. Doktor Adel Awadallah, seorang akademisi, menjelaskan bagaimana mereka menutupi dinding yang terbuka dengan lembaran plastik untuk menampung sebanyak mungkin mahasiswa. 

“Kami meminjam motor untuk menghasilkan listrik guna mengoperasikan peralatan universitas,” kata Dr. Awadallah. Dengan hanya empat ruang kelas yang bisa beroperasi, ribuan mahasiswa bergantung pada fasilitas darurat ini untuk melanjutkan pendidikan mereka dan memperjuangkan kembali masa depan mereka yang terenggut akibat genosida.

Sekolah Katolik Gaza

Anak-anak kembali belajar secara tatap muka di sekolah Katolik di Gaza (The National News)
Anak-anak kembali belajar secara tatap muka di sekolah Katolik di Gaza (The National News)

Sekolah yang dikelola oleh Gereja Katolik di Gaza termasuk di antara ribuan lembaga pendidikan yang ditutup selama dua tahun genosida. Akan tetapi, seorang pastor senior mengatakan bahwa sekolah tersebut dibuka kembali pada tahun ajaran 2025 untuk memberikan pembelajaran tatap muka bagi anak-anak Gaza.

Di Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, sekelompok kecil biarawati, guru sukarelawan, dan orang tua telah memastikan bahwa sekitar 150 anak dan remaja bisa terus belajar dan mengikuti ujian setelah dua tahun pengeboman dan serangan tanpa henti.

Sebelumnya, tiga sekolah yang terletak di kompleks gereja di Gaza utara tersebut terpaksa ditutup sejak genosida dimulai pada Oktober 2023. Dulunya, lembaga pendidikan tersebut mendidik lebih dari 1.800 anak di Jalur Gaza. Akan tetapi, setelah genosida, ruang-ruang kelas terpaksa diubah menjadi tempat tinggal sementara bagi ratusan orang, seperti yang terjadi pada gedung-gedung institusi pendidikan lainnya di Gaza.

Gereja Keluarga Kudus telah memberikan perlindungan kepada komunitas Kristen kecil sejak genosida dimulai dan terus melindungi sekitar 450 orang Kristen yang menolak untuk pindah ke selatan meskipun ada perintah pengusiran berulang kali dari Israel.

“Kami sedang berusaha membuka kembali sekolah setempat. Secara informal, kami berhasil terus mengajar untuk membantu anak-anak selama dua tahun terakhir ini,” kata Pastor Carlos Ferrero, seorang pastor di gereja tersebut

Gereja Keluarga Kudus, bangunan-bangunan di sekitarnya, dan sebuah Gereja Ortodoks Yunani di dekatnya telah beberapa kali dihantam oleh serangan artileri Israel, sehingga mengakibatkan banyak kematian dan luka-luka. Akan tetapi, meski terdapat kehancuran, gereja memutuskan untuk tetap membuka kembali sekolah, terutama bagi anak-anak yang akan mengikuti ujian kelulusan.

Di sekolah tersebut, ruang kelas untuk kelompok usia yang berbeda tersebar di antara bangunan-bangunan gereja, tempat tinggal para biarawati, dan bangunan-bangunan prefabrikasi kecil. Para jemaat mengatakan mereka bersyukur karena masih ada tempat yang dapat melindungi anak-anak mereka dari genosida selama beberapa jam setiap hari. 

“Saya menangis ketika memikirkan anak-anak saya belajar sesuatu, apa pun itu, ketika kami sedang diserang,” kata Yousuf, ayah dari tiga anak yang bersekolah di sana. “Saya menangis karena saya senang mereka belajar. Para guru dan biarawati mengajari anak-anak matematika, angka, memastikan mereka bisa membaca. Itu membantu mereka melupakan pengeboman,” ia mengatakan. “Kami berdoa agar perjanjian perdamaian ini stabil dan permanen. Berkali-kali kita dijanjikan perdamaian, lalu kemudian hilang,” demikian Pastor Ferrero menambahkan.

Sekolah UNRWA

Koridor sekolah dan ruang-ruang kelas di sekolah UNRWA yang menjadi kamar pengungsi pada malam hari (Al Jazeera)
Koridor sekolah dan ruang-ruang kelas di sekolah UNRWA yang menjadi kamar pengungsi pada malam hari (Al Jazeera)

Beberapa pekan setelah gencatan senjata disepakati di Jalur Gaza, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) segera melakukan proses untuk membuka kembali sekolah-sekolah di seluruh Gaza. Meski pengeboman Israel masih terus berlanjut dan masih ada pembatasan ketat terhadap aliran bantuan, namun UNRWA berusaha untuk mengembalikan hak anak-anak Gaza atas pendidikan.

Sejak genosida dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 300.000 siswa di Jalur Gaza telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal. Di Jalur Gaza, 97 persen bangunan sekolah telah rusak atau hancur akibat serangan Israel, memutus akses anak-anak Gaza terhadap pendidikan yang aman. Tempat-tempat yang dulunya merupakan pusat pendidikan juga terpaksa digunakan sebagai tempat penampungan oleh ratusan keluarga pengungsi yang telah kehilangan rumah mereka.

Menurut Enas Hamdan, kepala kantor komunikasi UNRWA, lembaga tersebut berharap dapat memperluas layanan pendidikannya di masa depan. “UNRWA berupaya menyediakan pendidikan tatap muka melalui ruang belajar aman sementara untuk lebih dari 62.000 siswa di Gaza,” kata Hamdan. “Kami berupaya memperluas kegiatan ini ke 67 sekolah penampungan di seluruh Jalur Gaza. Selain itu, kami terus menyediakan pembelajaran daring untuk 300.000 siswa di Gaza.”

Di bangunan-bangunan sekolah yang kembali berfungsi, keluarga-keluarga yang menetap di dalamnya perlahan juga beradaptasi. Demi masa depan anak-anak mereka, keluarga-keluarga yang tinggal di gedung sekolah berusaha untuk membuat ruang-ruang kelas kembali berfungsi sebagai tempat belajar pada siang hari, kemudian mengubahnya kembali menjadi kamar pengungsian pada malam harinya.

Um Mahmoud, seorang pengungsi Palestina, menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya mengosongkan kamar yang mereka tempati tiga kali sepekan agar para siswa dapat belajar. “Kami mengosongkan ruang kelas untuk memberi anak-anak kesempatan belajar karena pendidikan sangat penting,” kata Um Mahmoud. “Kami memprioritaskan pembelajaran dan berharap kondisi akan membaik, sehingga memungkinkan kualitas pendidikan yang lebih baik.”

Warga Gaza memasang tenda untuk dijadikan sekolah darurat di Khan Younis (Al Jazeera)
Warga Gaza memasang tenda untuk dijadikan sekolah darurat di Khan Younis (Al Jazeera)

Fatima Skaik adalah seorang mahasiswi arsitektur di Universitas Islam Gaza. Ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang arsitek yang bekerja di Dubai. Akan tetapi, sejak genosida meletus di Gaza, Fatima mengatakan bahwa satu-satunya mimpinya adalah “bertahan hidup, menyelesaikan studi, dan membantu membangun kembali Gaza.” 

Genosida telah membuat perjalanan pendidikannya berliku karena universitasnya hancur, sedangkan pembelajaran daring juga sulit karena kendala akses internet. Akan tetapi, di tengah kehancuran, Fatima memperoleh kekuatan dari keyakinannya pada pendidikan sebagai bentuk perlawanan. “Kita melawan bukan hanya dengan senjata tetapi dengan pengetahuan, ketekunan, dan ketahanan. Pendidikan itu sendiri adalah bentuk perlawanan,” tegasnya.

Hari ini, di Jalur Gaza, ada banyak generasi penerus Gaza yang bernasib sama seperti Fatima. Di tengah kehancuran yang meluas, tekad mereka begitu kokoh, mengalahkan dinding ruang kelas yang rapuh tempat mereka menuntut ilmu. Dengan tekad itu, satu demi satu sekolah kembali dibuka, ruangan-ruangan di universitas juga kembali bernyawa, menandakan bahwa penduduk Palestina masih bertahan dan melanjutkan kehidupan. 

Bagi penduduk Palestina, pendidikan adalah perlawanan. Maka, jika hari ini kita mengirimkan bantuan pendidikan kepada mereka, meski itu hanya sebatang pena atau sebuah buku, bisa jadi belasan tahun lagi, anak-anak yang menerima bantuan itu akan tumbuh menjadi seorang cendekiawan, yang akan membangun kembali Gaza dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Pilihannya kembali kepada kita, apakah akan menjadi bagian dari kekuatan perlawanan, atau tunduk dan menyerah pada penjajahan.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

Sumber:

Al Jazeera

Middle East Eye

The Palestine Chronicle

ABC News

The Intercept

Arab News

Times of Israel

The National News

The Electronic Intifada

 

ShareTweetSendShare
Previous Post

Setelah Penutupan Dua Hari, Perbatasan Rafah Kembali Terbuka

Next Post

Berkah Tak Ternilai, Makanan Siap Saji Jangkau 1.818 Penduduk Khan Younis

Adara Relief International

Related Posts

Anak-anak Palestina di Gaza dan mural Ramadan (CNN)
Artikel

Ramadan Bersama Anak-Anak Sebagai Penguatan Fitrah Iman Sejak Dini

by Adara Relief International
Maret 2, 2026
0
16

Pendidikan Islam untuk anak-anak berkaitan erat dengan fitrah yang telah Allah ciptakan pada diri setiap orang termasuk anak-anak. Pada keadaan...

Read moreDetails
Potret Al-Quds (Yerusalem) dari udara, sekitar tahun 1931 (Times of Israel)

Sejarah Palestina di Masa Kekhalifahan (Part 1): Pembebasan Palestina pada Masa Khalifah Umar bin Khattab

Maret 2, 2026
33
Anak-anak di Gaza menghafal Al-Qur’an di pengungsian.

Nuzulul Qur’an Dua Fase Turunnya Al-Qur`an Bagi yang Mencari Keteguhan Jiwa

Februari 18, 2026
40
Ilustrasi pengusiran penduduk Palestina (Decolonize Palestine)

Pembersihan Etnis, Pengusiran Paksa Penduduk Palestina dari Tanah Air

Februari 4, 2026
39
Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Februari 2, 2026
225
Para pemukim memasang bendera Israel di pagar batu Masjid Ibrahimi di Hebron (MEMO)

Masjid Ibrahimi: Proyek Yahudisasi dan Penghapusan Paksa Identitas Islam di Seluruh Bagiannya

Januari 26, 2026
51
Next Post
Berkah Tak Ternilai, Makanan Siap Saji Jangkau 1.818 Penduduk Khan Younis

Berkah Tak Ternilai, Makanan Siap Saji Jangkau 1.818 Penduduk Khan Younis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630