Kau boleh menjarah warisanku,
Membakar buku-bukuku, puisi-puisiku,
Memberi makan dagingku kepada anjing-anjing,
Kau mungkin menebarkan jaring teror
di atap-atap desaku
Wahai Musuh Matahari,
Namun aku tak akan berkompromi,
Dan sampai denyut nadi terakhir di pembuluh darahku,
Aku akan melawan
(Musuh Matahari, Samih al-Qasem)
Sebelum Israel melancarkan genosida di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, Gaza memiliki ratusan bangunan untuk mendukung pendidikan. Sebelum genosida, anak-anak akan membawa ransel berisi buku-buku dan peralatan sekolah setiap pagi, kemudian mengisi ruang-ruang kelas dengan tawa ceria dan semangat untuk belajar. Begitu pula dengan universitas-universitas yang diisi oleh kesibukan dan diskusi dari para mahasiswa dan akademisi Gaza. Sejak dahulu, dunia pendidikan di Gaza adalah simbol dari tekad, ketahanan, dan perlawanan yang kuat dari penduduknya terhadap kerasnya penjajahan.
Namun, genosida yang berlangsung lebih dari dua tahun telah membuat lebih dari 100 gedung universitas di Gaza hancur, serta lebih dari 200 akademisi dan karyawan di universitas telah terbunuh. Sejak awal genosida, 97 persen bangunan sekolah telah hancur, membuat lebih dari 300.000 siswa kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan formal. Sementara itu, sekolah dan universitas yang masih tersisa, terpaksa berubah menjadi pusat pengungsian bagi warga Gaza yang kehilangan rumah mereka.
Di tengah kehancuran tersebut, secercah harapan muncul pada tahun ajaran ini dari ruang-ruang kelas yang kembali terbuka, meski hanya sebagian. Walaupun kondisi belum sepenuhnya stabil, beberapa sekolah dan universitas bertekad untuk tetap membuka ruang kelas mereka, menolak untuk menyerah dan membiarkan genosida merampas masa depan generasi penerus Gaza.
Universitas Al-Azhar Gaza

Universitas Al-Azhar didirikan pada 1991 selama Intifada Pertama. Universitas ini dibangun setelah pemimpin Palestina, Yasser Arafat, mengeluarkan dekrit untuk mendirikan universitas nasional untuk warga Palestina. Pada puncak perkembangannya, universitas ini memiliki 12 fakultas dan 17.000 mahasiswa.
Pada 6 November 2023, angkatan udara Israel membombardir universitas yang terletak di selatan Kota Gaza tersebut, menghancurkan gedung-gedung yang menjadi saksi lahirnya cendekiawan-cendekiawan dari tanah Gaza. Wakil rektor universitas, Dr. Muhammad Shubeir, mengatakan bahwa kerugian yang dialami universitas akibat serangan Israel sangat besar. Ia memperkirakan total kerusakan bangunan, peralatan, dan aset bergerak mencapai lebih dari 40 juta dolar.
Pasukan pendudukan Israel mengatakan bahwa mereka menghancurkan Universitas Al-Azhar karena menemukan infrastruktur Hamas di sana. Israel menuduh Hamas menggunakan gedung universitas untuk kegiatan militer. Lebih jauh lagi, pada Oktober 2024, Israel menyebutkan bahwa mereka mengidentifikasi teroris bersenjata dan posisi peluncuran rudal anti-tank di area Universitas Al-Azhar, dan mengarahkan jet tempur untuk menyerang.
Akan tetapi, dua tahun setelahnya, para mahasiswa, akademisi, dan karyawan universitas mengatakan bahwa mereka bertekad untuk tidak membiarkan genosida menghapus masa depan seluruh generasi. Kampus kembali dibuka untuk pembelajaran tatap muka, meski ruang-ruang kelas telah rusak dan para mahasiswa harus menggunakan fasilitas darurat. Kerusakan tersebut menggambarkan krisis yang sangat parah di Gaza, tetapi di saat yang sama juga menyoroti ketahanan para mahasiswa dan tekad kuat mereka untuk terus melanjutkan pendidikan.
Doktor Muhammad Shubeir mengatakan bahwa keputusan untuk membuka kembali Universitas Al-Azhar didorong oleh kebutuhan dan rasa tanggung jawab terhadap pendidikan di Gaza. “Selama masa sulit genosida, kami melanjutkan pengajaran secara daring,” kata Shubeir. Dia mengatakan bahwa para staf harus bekerja dari daerah berbahaya hanya untuk mendapatkan akses internet satelit, di tengah pemadaman listrik berulang yang terjadi di Jalur Gaza.
Segera setelah kondisi memungkinkan, pihak administrasi universitas mengatakan mereka bergerak menuju pemulihan pembelajaran tatap muka, meskipun salah satu kampus terbesar Al-Azhar—fasilitas barunya di daerah Al Zahra, yang berubah menjadi koridor Netzarim selama genosida—telah rata dengan tanah akibat serangan Israel selama genosida.
Pembukaan kembali lembaga pendidikan tinggi, betapapun terbatasnya, merupakan pengingat bahwa pembangunan kembali Gaza dimulai dengan melindungi masa depan para mahasiswanya, kata Shubeir. Bagi ribuan anak muda yang berjalan melintasi kampus-kampus yang rusak setiap pagi, pendidikan bukan hanya tentang belajar; itu adalah simbol ketahanan dan tekad yang kuat untuk melanjutkan hidup, tambahnya. “Bangunan kami hancur, tetapi tekad kami tidak,” demikian ia mengatakan.
Universitas Islam Gaza

Universitas Islam Gaza adalah institusi pendidikan tertua di Gaza. Universitas Islam Gaza didirikan pada 1978 dan mengadakan kelas pertamanya di tenda-tenda. Pada 2023, universitas ini memiliki lebih dari 17.000 mahasiswa, 62 persen di antaranya perempuan dan banyak mahasiswa yang memiliki disabilitas fisik, penglihatan, atau pendengaran. Hal tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan terbuka bagi semua orang di Gaza, bagaimanapun kondisi mereka.
Universitas Islam Gaza memiliki lebih dari 200 laboratorium sains dan 75 ruang komputer. Universitas ini juga memiliki 20 pusat penelitian dan menawarkan 169 program akademik serta 11 fakultas: kedokteran, teknik, teknologi informasi, ilmu kesehatan, sains, seni, pendidikan, keperawatan, administrasi, syariah dan hukum, serta studi Islam. Sekitar 90.800 mahasiswa telah lulus dari universitas ini sejak pertama kali didirikan.
Dr. Amani Ahmed Al-Mqadma, kepala Kantor Hubungan Internasional Universitas Islam Gaza, mendefinisikan universitas tersebut sebagai “bangunan yang indah, berdiri dengan megah di antara area hijau yang luas.” Namun, setelah genosida, ia menyebutnya sebagai “tempat yang terstruktur dan indah – tempat perlindungan ketertiban di lingkungan yang kacau.” Ini merujuk pada bangunan-bangunan universitas yang terpaksa berubah fungsi menjadi tempat penampungan sementara akibat genosida.
Pasukan Israel menghancurkan Universitas Islam Gaza pada malam hari di tanggal 10 Oktober 2023 setelah menuduh universitas tersebut memproduksi senjata. Meski tidak ada bukti kuat yang Israel tunjukkan untuk mendukung tuduhan tersebut, mereka tetap menghancurkan institusi pendidikan bersejarah tersebut. Ini bukan kali pertama Universitas Islam Gaza menjadi sasaran pasukan Israel. Universitas tersebut sebelumnya sudah pernah mengalami kerusakan akibat serangan udara pada 2008–2009 dan 2014, namun serangan pada genosida Oktober 2023 semakin memperparah kerusakannya.

Hari ini, 12 dari 16 bangunan di kampus pusat Universitas Islam di Kota Gaza telah hancur total, dan empat bangunan mengalami kerusakan parah. Kampus kedua, yang menampung Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Universitas Turki, juga telah hancur total. Kampus Khan Yunis di selatan yang memiliki dua bangunan juga mengalami kerusakan parah.
Di tengah kerusakan tersebut, para mahasiswa Universitas Islam Gaza mengikuti pembelajaran tahun ajaran 2025 melalui kelas tatap muka untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Mereka berusaha beradaptasi dengan kampus yang telah hancur dan berubah menjadi lokasi pengungsian massal sebagai akibat dari genosida Israel. Di tengah reruntuhan gedung dan kelas-kelas yang hancur, mereka kembali menata masa depan, berusaha bertahan meski penuh dengan keterbatasan.
Di Universitas Islam Gaza, para profesor juga belajar untuk berimprovisasi dengan sumber daya apa pun yang tersisa di tengah pemadaman listrik, kekurangan peralatan, dan lingkungan belajar yang tidak memadai. Doktor Adel Awadallah, seorang akademisi, menjelaskan bagaimana mereka menutupi dinding yang terbuka dengan lembaran plastik untuk menampung sebanyak mungkin mahasiswa.
“Kami meminjam motor untuk menghasilkan listrik guna mengoperasikan peralatan universitas,” kata Dr. Awadallah. Dengan hanya empat ruang kelas yang bisa beroperasi, ribuan mahasiswa bergantung pada fasilitas darurat ini untuk melanjutkan pendidikan mereka dan memperjuangkan kembali masa depan mereka yang terenggut akibat genosida.
Sekolah Katolik Gaza

Sekolah yang dikelola oleh Gereja Katolik di Gaza termasuk di antara ribuan lembaga pendidikan yang ditutup selama dua tahun genosida. Akan tetapi, seorang pastor senior mengatakan bahwa sekolah tersebut dibuka kembali pada tahun ajaran 2025 untuk memberikan pembelajaran tatap muka bagi anak-anak Gaza.
Di Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, sekelompok kecil biarawati, guru sukarelawan, dan orang tua telah memastikan bahwa sekitar 150 anak dan remaja bisa terus belajar dan mengikuti ujian setelah dua tahun pengeboman dan serangan tanpa henti.
Sebelumnya, tiga sekolah yang terletak di kompleks gereja di Gaza utara tersebut terpaksa ditutup sejak genosida dimulai pada Oktober 2023. Dulunya, lembaga pendidikan tersebut mendidik lebih dari 1.800 anak di Jalur Gaza. Akan tetapi, setelah genosida, ruang-ruang kelas terpaksa diubah menjadi tempat tinggal sementara bagi ratusan orang, seperti yang terjadi pada gedung-gedung institusi pendidikan lainnya di Gaza.
Gereja Keluarga Kudus telah memberikan perlindungan kepada komunitas Kristen kecil sejak genosida dimulai dan terus melindungi sekitar 450 orang Kristen yang menolak untuk pindah ke selatan meskipun ada perintah pengusiran berulang kali dari Israel.
“Kami sedang berusaha membuka kembali sekolah setempat. Secara informal, kami berhasil terus mengajar untuk membantu anak-anak selama dua tahun terakhir ini,” kata Pastor Carlos Ferrero, seorang pastor di gereja tersebut
Gereja Keluarga Kudus, bangunan-bangunan di sekitarnya, dan sebuah Gereja Ortodoks Yunani di dekatnya telah beberapa kali dihantam oleh serangan artileri Israel, sehingga mengakibatkan banyak kematian dan luka-luka. Akan tetapi, meski terdapat kehancuran, gereja memutuskan untuk tetap membuka kembali sekolah, terutama bagi anak-anak yang akan mengikuti ujian kelulusan.
Di sekolah tersebut, ruang kelas untuk kelompok usia yang berbeda tersebar di antara bangunan-bangunan gereja, tempat tinggal para biarawati, dan bangunan-bangunan prefabrikasi kecil. Para jemaat mengatakan mereka bersyukur karena masih ada tempat yang dapat melindungi anak-anak mereka dari genosida selama beberapa jam setiap hari.
“Saya menangis ketika memikirkan anak-anak saya belajar sesuatu, apa pun itu, ketika kami sedang diserang,” kata Yousuf, ayah dari tiga anak yang bersekolah di sana. “Saya menangis karena saya senang mereka belajar. Para guru dan biarawati mengajari anak-anak matematika, angka, memastikan mereka bisa membaca. Itu membantu mereka melupakan pengeboman,” ia mengatakan. “Kami berdoa agar perjanjian perdamaian ini stabil dan permanen. Berkali-kali kita dijanjikan perdamaian, lalu kemudian hilang,” demikian Pastor Ferrero menambahkan.
Sekolah UNRWA

Beberapa pekan setelah gencatan senjata disepakati di Jalur Gaza, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) segera melakukan proses untuk membuka kembali sekolah-sekolah di seluruh Gaza. Meski pengeboman Israel masih terus berlanjut dan masih ada pembatasan ketat terhadap aliran bantuan, namun UNRWA berusaha untuk mengembalikan hak anak-anak Gaza atas pendidikan.
Sejak genosida dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 300.000 siswa di Jalur Gaza telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal. Di Jalur Gaza, 97 persen bangunan sekolah telah rusak atau hancur akibat serangan Israel, memutus akses anak-anak Gaza terhadap pendidikan yang aman. Tempat-tempat yang dulunya merupakan pusat pendidikan juga terpaksa digunakan sebagai tempat penampungan oleh ratusan keluarga pengungsi yang telah kehilangan rumah mereka.
Menurut Enas Hamdan, kepala kantor komunikasi UNRWA, lembaga tersebut berharap dapat memperluas layanan pendidikannya di masa depan. “UNRWA berupaya menyediakan pendidikan tatap muka melalui ruang belajar aman sementara untuk lebih dari 62.000 siswa di Gaza,” kata Hamdan. “Kami berupaya memperluas kegiatan ini ke 67 sekolah penampungan di seluruh Jalur Gaza. Selain itu, kami terus menyediakan pembelajaran daring untuk 300.000 siswa di Gaza.”
Di bangunan-bangunan sekolah yang kembali berfungsi, keluarga-keluarga yang menetap di dalamnya perlahan juga beradaptasi. Demi masa depan anak-anak mereka, keluarga-keluarga yang tinggal di gedung sekolah berusaha untuk membuat ruang-ruang kelas kembali berfungsi sebagai tempat belajar pada siang hari, kemudian mengubahnya kembali menjadi kamar pengungsian pada malam harinya.
Um Mahmoud, seorang pengungsi Palestina, menjelaskan bagaimana dia dan keluarganya mengosongkan kamar yang mereka tempati tiga kali sepekan agar para siswa dapat belajar. “Kami mengosongkan ruang kelas untuk memberi anak-anak kesempatan belajar karena pendidikan sangat penting,” kata Um Mahmoud. “Kami memprioritaskan pembelajaran dan berharap kondisi akan membaik, sehingga memungkinkan kualitas pendidikan yang lebih baik.”

Fatima Skaik adalah seorang mahasiswi arsitektur di Universitas Islam Gaza. Ia memiliki mimpi untuk menjadi seorang arsitek yang bekerja di Dubai. Akan tetapi, sejak genosida meletus di Gaza, Fatima mengatakan bahwa satu-satunya mimpinya adalah “bertahan hidup, menyelesaikan studi, dan membantu membangun kembali Gaza.”
Genosida telah membuat perjalanan pendidikannya berliku karena universitasnya hancur, sedangkan pembelajaran daring juga sulit karena kendala akses internet. Akan tetapi, di tengah kehancuran, Fatima memperoleh kekuatan dari keyakinannya pada pendidikan sebagai bentuk perlawanan. “Kita melawan bukan hanya dengan senjata tetapi dengan pengetahuan, ketekunan, dan ketahanan. Pendidikan itu sendiri adalah bentuk perlawanan,” tegasnya.
Hari ini, di Jalur Gaza, ada banyak generasi penerus Gaza yang bernasib sama seperti Fatima. Di tengah kehancuran yang meluas, tekad mereka begitu kokoh, mengalahkan dinding ruang kelas yang rapuh tempat mereka menuntut ilmu. Dengan tekad itu, satu demi satu sekolah kembali dibuka, ruangan-ruangan di universitas juga kembali bernyawa, menandakan bahwa penduduk Palestina masih bertahan dan melanjutkan kehidupan.
Bagi penduduk Palestina, pendidikan adalah perlawanan. Maka, jika hari ini kita mengirimkan bantuan pendidikan kepada mereka, meski itu hanya sebatang pena atau sebuah buku, bisa jadi belasan tahun lagi, anak-anak yang menerima bantuan itu akan tumbuh menjadi seorang cendekiawan, yang akan membangun kembali Gaza dengan kekuatan ilmu pengetahuan. Pilihannya kembali kepada kita, apakah akan menjadi bagian dari kekuatan perlawanan, atau tunduk dan menyerah pada penjajahan.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Al Jazeera
Middle East Eye
The Palestine Chronicle
ABC News
The Intercept
Arab News
Times of Israel
The National News
The Electronic Intifada








