Jurnalis Palestina Mujahid Bani Mufleh masih menjalani perawatan intensif selama enam bulan setelah dibebaskan dari penjara Israel. Jurnalis Palestina itu mengaku kehilangan hampir 20 kilogram akibat kelaparan dan pengabaian medis. Beberapa hari setelah bebas, ia mengalami pendarahan otak parah hingga koma. Kini, kondisi Mujahid menjadi sorotan atas dugaan perlakuan buruk di penjara Israel.
Mujahid Bani Mufleh mendapat perawatan di Rumah Sakit Khusus Ibnu Sina, Jenin, Tepi Barat. Dokter telah melakukan beberapa operasi, termasuk mengangkat sebagian tulang tengkoraknya. Saat ini, ia membutuhkan bantuan untuk berjalan, berbicara, dan menelan.
Baca juga: “3.465 Pelanggaran Gencatan Senjata Gaza: Israel Bunuh 1.045 Sipil dan Blokir 64% Bantuan”
Mujahid mengatakan bahwa berat badannya turun dari 72 kilogram menjadi sekitar 50 kilogram selama penahanan. Ia mengaku sering tidur dalam keadaan lapar karena makanan tidak mencukupi. Selain itu, ia tidak menerima pengobatan yang layak meski mengidap diabetes. Selama penahanan, ia juga tidak pernah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Israel menangkap Mujahid di Beita, selatan Nablus, pada Juni 2025 dan membebaskannya pada Januari 2026. Namun, beberapa jam setelah keluar dari penjara, kesehatannya terus memburuk. Saat menceritakan pengalamannya dalam sebuah wawancara, ia tiba-tiba pingsan. Dokter kemudian mendiagnosis pendarahan otak yang membuatnya harus menjalani operasi berulang.
Kini, Mujahid mengaku tidak mampu lagi menjalani aktivitas sederhana maupun mengurus ketiga anaknya seperti dulu. Ia juga membagikan foto kondisi pascaoperasi di media sosial untuk menunjukkan dampak yang ia alami setelah mendekam di penjara.
Menurut Palestinian Prisoner’s Society, kasus Mujahid mencerminkan kondisi ribuan tawanan Palestina yang mengalami kelaparan, pengabaian medis, dan berbagai pelanggaran di penjara Israel. Organisasi tersebut juga mencatat lebih dari 245 jurnalis Palestina telah Israel tangkap sejak agresi di Gaza dimulai pada Oktober 2023.







