Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Israel akan mempertahankan kehadiran militernya tanpa batas waktu di Lebanon selatan, Suriah, dan Jalur Gaza. Selain itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memastikan Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah-wilayah tersebut meski menghadapi tekanan internasional.
Netanyahu mengatakan pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan Lebanon selatan selama masih mereka anggap perlu. Sementara itu, Katz menegaskan militer Israel juga akan terus menguasai wilayah yang didudukinya di Suriah dan Gaza tanpa batas waktu. Ia bahkan memperingatkan Iran akan menghadapi serangan besar jika kembali menyerang Israel.
Pernyataan itu sejalan dengan pembangunan pangkalan militer baru Israel di Lebanon selatan dan Suriah. Pada saat yang sama, militer Israel terus melancarkan operasi di Lebanon. Pasukan menghancurkan rumah-rumah di Markaba, sementara serangan udara membunuh dua warga di Mayfadoun dan melukai seorang lainnya. Di sisi lain, bentrokan di Beit Yahun menyebabkan empat tentara Israel terluka.
Sementara itu, Israel masih menduduki kawasan strategis Gunung Hermon di Suriah sejak Desember 2024. Otoritas Suriah mencatat lebih dari 1.000 serangan udara dan 400 operasi darat telah Israel lakukan sejak pendudukan tersebut.
Di Gaza, pejabat keamanan Israel juga membahas rencana untuk mendorong emigrasi warga Palestina. Namun, laporan menyebut belum ada negara yang bersedia menerima pengungsi dari Gaza. Sebelumnya, Netanyahu memerintahkan militer menguasai 70 persen wilayah Gaza, meningkat dari sekitar 53 persen saat gencatan senjata dimulai. Jika target itu tercapai, sekitar 2,2 juta warga Palestina hanya akan menempati 109 kilometer persegi wilayah Gaza.








