Otoritas Perminyakan Umum di Jalur Gaza pada Rabu memperingatkan konsekuensi serius dan berpotensi bencana menyusul penangguhan pasokan gas untuk memasak yang terus berlanjut ke wilayah tersebut. Mereka mengatakan bahwa langkah tersebut akan memiliki dampak kemanusiaan, ekonomi, dan sosial pada lebih dari dua juta penduduk.
Otoritas menyatakan bahwa dengan dihentikannya pasokan gas untuk memasak sepenuhnya, Gaza menghadapi bencana yang akan segera terjadi. Kondisi ini mengancam keamanan pangan dan kesehatan serta mengganggu banyak layanan kemanusiaan, terutama selama bulan suci Ramadan.
Baca juga : “Energi sebagai Instrumen Kolonialisme Israel dalam Penjarahan Gas Palestina dan Diplomasi Global“
Otoritas mengatakan mencegah masuknya gas merupakan pelanggaran yang jelas terhadap perjanjian gencatan senjata. Tindakan ini akan semakin meningkatkan tekanan kemanusiaan ketika langkah-langkah bantuan sangat diharapkan.
Mereka meminta semua badan internasional dan kemanusiaan terkait, serta pihak mediator, untuk segera campur tangan dan menekan Israel untuk membuka kembali saluran pasokan dan memastikan pasokan gas. Keberlanjutan pembatasan ini dapat menyebabkan konsekuensi parah yang akan sulit untuk dibendung. Mereka mendesak tindakan segera dan bertanggung jawab sebelum terlambat.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) telah memperingatkan bahwa eskalasi regional sejak akhir pekan lalu telah mengganggu kehidupan sipil dan operasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan Tepi Barat. OCHA menyatakan bahwa masyarakat di Gaza bergantung pada aliran barang-barang kemanusiaan dan komersial yang stabil dari luar. Ini terjadi mengingat kapasitas penyimpanan yang terbatas dan hancurnya mata pencaharian di seluruh wilayah pesisir yang terblokade tersebut.
Sumber: Middle East Monitor








