Kabar bahagia datang dari Palestina. Sebanyak 59.128 dari 82.924 siswa yang mengikuti Ujian Sekolah Menengah Akhir Tawjihi dinyatakan lulus pada Selasa (03/8). Menteri Pendidikan mengatakan tingkat keberhasilan siswa Palestina yang mengikuti ujian Tawjihi pada tahun ini mencapai 71,37 persen. Jumlah ini merupakan peningkatan dari dua tahun lalu yang hanya mencapai 70 persen atau sebanyak 52.108 siswa yang lulus dari 75.150 yang mendaftar. Jumlah ini menunjukkan bahwa persentase siswa Palestina yang lulus dan siap melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi sudah cukup baik.
Tingkat keberhasilan tertinggi pada ujian Tawjihi pada tahun ini adalah jurusan teknologi yaitu sebanyak 87,76 persen siswa yang lulus, diikuti oleh jurusan sains 85,62 persen, kewirausahaan 71,66 persen, pelatihan kejuruan 71,23 persen, Syariah Islam 67,02 persen, dan terakhir yaitu seni sebesar 65,21 persen, kata Menteri Pendidikan.

Tingkat keberhasilan yang dicapai oleh anak-anak Palestina ini merupakan suatu kebanggaan mengingat mereka menjalankan ujian sekolah dalam suasana yang tidak kondusif, yaitu dilaksanakan hanya satu bulan setelah serangan 11 hari Zionis terhadap Gaza pada bulan Mei lalu. Serangan ini memakan korban jiwa sebanyak 250 orang, termasuk 66 anak-anak dan menyebabkan bangunan-bangunan rusak, termasuk gedung sekolah.
ReliefWeb pada Mei 2021 melaporkan bahwa sebanyak 50 sekolah di Gaza rusak akibat serangan udara Zionis Israel yang mengakibatkan anak-anak sulit untuk mengakses pendidikan. Selain itu, pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan bagi anak-anak Palestina karena mereka harus menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran daring.
Baca juga:
Mematahkan Persepsi, Wafa Abu Naja Menjadi Murid Berprestasi
Perempuan Palestina yang Berprestasi
Selain di Gaza, anak-anak di Tepi Barat juga menghadapi situasi yang sulit akibat pendudukan Zionis Israel. Zionis menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina di Tepi Barat serta menangkap para penduduk yang mereka anggap melakukan perlawanan. Salah satu yang ditangkap adalah Montaser Shalabi, ayah dari Ahmad Shalabi, siswa yang meraih nilai 92 dalam ujian Tawjihi. Ayah Ahmad, Montaser, ditangkap oleh Zionis akibat diduga menembak dan membunuh seorang pemukim Zionis serta melukai dua orang lainnya saat pertempuran sengit terjadi antara Pejuang Palestina dan Zionis pada Mei lalu. Selain menangkap ayahnya, Zionis juga menghancurkan rumah keluarga Ahmad di Tepi Barat pada Juli lalu sebagai ‘hukuman’ atas tindakan yang dilakukan Montaser. Akan tetapi, situasi sulit tersebut tidak membuat Ahmad menyerah. Buktinya, Ahmad berhasil meraih nilai yang tinggi dan membanggakan orang tua dan negaranya.
Akan tetapi, di balik kabar bahagia tersebut, terselip juga kabar duka. Zionis telah membunuh empat orang siswa yang seharusnya ikut merayakan kelulusan bersama keluarga dan teman-teman mereka. Keempat siswa tersebut adalah Khaled Qanou, Tawfeef Abu al-Ouf, Muhammad Ihmeid, dan Zohdi Taweel. Kepergian mereka membuat hari kelulusan yang seharusnya bahagia menjadi berselimut duka bagi keluarga dan orang-orang terdekat mereka.
Khaled Qanou terbunuh ketika pesawat jet perang Zionis menjatuhkan bom kepada sekelompok warga yang berada di dekat menara perumahan Nada. Tawfeeq Abu al-Ouf juga terbunuh akibat serangan dari jet Zionis. Selain Tawfeeq, 15 orang anggota keluarganya juga tewas akibat serangan tersebut. Muhammad Ihmeid ditembak oleh seorang penembak jitu ketika terjadi konfrontasi di dekat permukiman ilegal Bet El. Sementara Zohdi Taweel, yang diberi julukan ‘Filsuf Fisika’ oleh teman-temannya, ditembak mati oleh pasukan Zionis di wilayah Al Quds yang diduduki.

Jason Lee, direktur Save The Children wilayah Palestina mengatakan, “Kenyataan yang brutal adalah tidak ada anak yang dibiarkan tanpa cedera, dan kita berkali-kali melihat kehidupan anak-anak adalah yang paling terpukul akibat konflik. Penghancuran sekolah adalah kekejian. Tempat belajar, bermain, dan berbahagia bagi anak-anak dengan cepat berubah menjadi tempat perlindungan dari pengeboman karena rumah-rumah telah dihancurkan dan keluarga terpisah-pisah. Dan sayangnya, jumlah sekolah yang dihancurkan menunjukkan bahwa bahkan di sini, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Satu dari 15 sekolah di Gaza kini rusak dan prospek anak-anak untuk menjalani dan membangun masa depan yang lebih baik menjadi berkurang.”
Lee juga menyerukan agar penyerangan terhadap sekolah segera diakhiri. “Semua pihak dalam konflik harus memastikan bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil dilindungi dari serangan, sesuai dengan hukum internasional. Semua pihak harus segera mengakhiri serangan terhadap sekolah.” Demikian ucapnya sebagaimana dipublikasikan ReliefWeb.
Reporter : Salsabila
Editor : LM
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








