Pagi di kamp pengungsian Palestina datang pelan-pelan. Gang-gang sempit, yang nyaris tak menyisakan ruang bagi dua orang untuk berpapasan, mulai dilalui anak-anak. Sebagian membawa mushaf kecil di dekapan. Tujuan mereka bukan sekadar sebuah ruangan, melainkan halaqah di markaz Al-Qur’an yang sudah menunggu.
Di sana, hari berjalan menurut iramanya sendiri. Ada giliran menyetorkan hafalan baru kepada guru, ada murajaah bersama teman sebaya, ada pelajaran keislaman, dan ada pula waktu bermain yang mengembalikan mereka menjadi anak-anak. Di musim panas, markaz menggelar daurah dan menutup liburan dengan acara bersama. Anak-anak juga bertemu para penghafal yang lebih dulu menuntaskan hafalan, dan menyaksikan sendiri bahwa jalan yang mereka tempuh bisa sampai ke ujungnya. Ketika serangan memaksa sebagian markaz di Lebanon Selatan tutup, hafalan tetap berjalan lewat sambungan telepon yang kerap terputus.
Pemandangan itu dijaga oleh 517 anak Palestina di Lebanon dan Suriah melalui Program Hidupkan Ahlul Qur’an (HAQ) per Agustus 2026. Lewat program ini, Adara menyalurkan bantuan tunai setiap bulan untuk setiap anak Palestina di kamp pengungsian. Bantuan ini membuat anak-anak bisa terus belajar dan menghafal di markaz, tanpa keluarga mereka harus memilih antara kebutuhan hari ini dan kelanjutan belajar anaknya.
Namun, lingkaran kemuliaan para penghafal Qur’an itu tidak berdiri di ruang hampa. Di luar pintu markaz, hidup para pengungsi sedang menjadi jauh lebih berat.
Tahun yang Berat di Tanah Pengungsian
Sejak awal Maret 2026, agresi di Lebanon mengubah hidup ribuan keluarga dalam hitungan hari. Pada 9 Maret, UNRWA memperkirakan lebih dari 500.000 orang telah mengungsi di dalam negeri. Serangan udara menghantam kamp pengungsi Palestina Ein el-Hilweh dan Beddawi. Pemerintah menghentikan layanan pendidikan di seluruh negeri, termasuk bagi 34 ribu anak di sekolah UNRWA (UNRWA, Maret 2026).
Bagi anak-anak yang mengikuti program HAQ, kabar itu sangat dekat. Sekitar 52 persen anak HAQ tinggal di Lebanon Selatan, wilayah yang paling rentan terkena serangan. Ratusan anak harus mengungsi, dan sejumlah markaz menutup pintunya demi keselamatan. Hafalan tidak berhenti. Anak-anak menyetor lewat telepon, menjaga hafalan sendiri di tempat pengungsian, atau belajar daring di markaz yang masih bisa beroperasi.
Kini, keadaan di Lebanon perlahan mereda, tetapi belum sepenuhnya aman. Di balik jeda itu, kemiskinan tidak ikut mereda. UNRWA mencatat lebih dari 80 persen pengungsi Palestina di Lebanon hidup di bawah garis kemiskinan, dan keterbatasan status hukum memperpanjang pengucilan itu dari generasi ke generasi (UNRWA, 2026).

Dampaknya paling terasa pada anak-anak. Laporan yang dikeluarkan oleh Anera yang mengutip dari UNICEF mencatat penurunan kesehatan mental, gizi, dan pendidikan anak di Lebanon akibat agresi 2026, bahkan setelah gencatan senjata. Sementara, kehadiran di sekolah menurun terutama di kalangan remaja.
Adapun di Suriah, wajah kesulitannya berbeda, tetapi tidak lebih ringan. Sebanyak 92 persen pengungsi Palestina, atau lebih dari 384.000 orang menghadapi kerawanan pangan, dan sekitar 30 persen masih mengungsi di dalam negeri. Kamp Ein el Tal, Yarmouk, dan Dera’a yang dulu menjadi rumah bagi sepertiga pengungsi Palestina di sana, rusak parah dan belum bisa dihuni kembali oleh banyak keluarga (UNRWA, 2026). Di tanah yang masih memulihkan diri inilah Program HAQ mulai menapak sejak bulan Mei 2026, diawali sebanyak 13 anak.
Ketika Harga-Harga Ikut Menekan
Keluarga-keluarga ini tidak hanya berhadapan dengan ketakutan dan kehilangan tempat tinggal. Mereka juga menghadapi harga-harga yang terus merangkak naik. Di Lebanon, Badan Statistik Lebanon mencatat inflasi tahunan 20,02 persen pada April 2026, angka tertinggi sejak September 2024. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik paling tajam, yaitu 26,3 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di Suriah, WFP menghitung bahwa pada Februari 2026 sebuah keluarga beranggotakan lima orang membutuhkan sekitar 2,43 juta pound Suriah (Old SYP) per bulan, setara kurang lebih 3 juta rupiah, hanya untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar. Upah minimum resmi hanya mampu menutup sekitar 31 persen dari jumlah itu. Kelangkaan bahan bakar pun menekan daya beli keluarga di kota-kota besar seperti Damaskus dan Aleppo (WFP, Februari 2026).

Angka-angka ini terdengar jauh dari ruang halaqah. Namun, bagi keluarga yang pendapatannya sudah tipis, setiap kenaikan harga berarti menimbang ulang; uang yang ada untuk makan hari ini, untuk obat, untuk sewa, atau untuk ongkos anak ke markaz.
Jaring Pengaman yang Menipis
Di tengah harga yang naik, tempat bersandar para pengungsi justru menyempit. UNRWA, lembaga PBB yang menjadi penopang utama pengungsi Palestina di Lebanon dan Suriah, menerima bantuan kurang dari jumlah yang mereka butuhkan. Pada 2026 pun mereka masih menghadapi defisit arus kas 100 juta dolar AS. Untuk bertahan, UNRWA telah memangkas jam layanan sebesar 20 persen, disertai pemotongan gaji bagi sebagian besar staf Palestinanya (Majelis Umum PBB, Juni 2026). Penyusutan itu tidak hanya soal jam kerja. Bantuan tunai UNRWA di Lebanon juga menurun, sementara pengungsi Palestina, yang dikecualikan dari layanan nasional, nyaris tak punya tempat bergantung lain (Anera, 2026).
Bagi keluarga di kamp, artinya jelas. Semakin sedikit ruang untuk bergantung pada layanan resmi, semakin besar arti setiap dukungan yang sampai langsung ke tangan mereka, termasuk dukungan untuk pendidikan anak.
Jauhnya Jalan Menuju Markaz
Bagi banyak anak yang merupakan bagian dari program HAQ, markaz Al-Qur’an bukan tempat yang bisa dicapai dengan berjalan beberapa menit dari pintu rumah. Kamp-kamp pengungsian berdiri untuk menampung orang, bukan untuk menyediakan banyak ruang belajar. Markaz berada di titik-titik tertentu, sementara anak-anak tinggal tersebar di berbagai kamp dan pemukiman di Lebanon dan Suriah.
Di Lebanon, diperkirakan sekitar 222.000 pengungsi Palestina masih bertahan, dan hanya sekitar 45 persen di antaranya tinggal di 12 kamp resmi. Sisanya, hidup di 154 permukiman informal yang umumnya berada di dekat kamp. Jarak antara rumah dan markaz memakan waktu, tenaga, dan ongkos yang tidak kecil.
Perjalanan itu pun tidak berhenti pada satu hari. Seorang penghafal perlu datang berulang kali dalam sepekan: menyetor hafalan baru, mengulang hafalan lama, dan mengikuti pelajaran keislaman. Setiap berangkat akan ada ongkos yang harus disiapkan, dan setiap pulang ada ongkos yang sama pula. Dalam sebulan, jumlahnya menumpuk menjadi pos pengeluaran tersendiri bagi keluarga.
Biaya perjalanan biasanya bergerak mengikuti harga bahan bakar, dan tahun ini harga itu menekan di dua negara. Di Lebanon, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar menjadi pendorong inflasi terbesar. Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Anera mencatat bahwa gangguan rantai pasokan dan pembatasan transportasi menaikkan harga pangan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lain, terutama di wilayah selatan yang lebih sulit dijangkau. Adapun di Suriah, kelangkaan bahan bakar menekan daya beli keluarga di kota-kota besar. Kenaikan seperti ini perlahan sampai ke tarif angkutan, lalu ke dompet setiap orang tua.

Keadaan di lapangan juga mengubah peta perjalanan. Kerusakan infrastruktur transportasi, termasuk jembatan yang menghubungkan Lebanon Selatan dengan wilayah lain, mengganggu perjalanan dan jalur pasokan, sehingga warga lebih sulit mencapai rumah sakit, pasar, atau bantuan. Keluarga yang berpindah tempat bisa jadi harus menempuh rute yang lebih jauh dan lebih mahal untuk sampai ke markaz.
Dampaknya terlihat di sekolah. Tercatat jumlah angka putus sekolah mengalami peningkatan akibat kewalahannya keluarga dalam menghadapi ongkos transportasi, tekanan agar anak bekerja, dan pengungsian. Ongkos untuk sampai ke ruang belajar ternyata bukan perkara sepele.
Padahal, menghafal Al-Qur’an di markaz menuntut kehadiran yang teratur. Hafalan yang diulang setiap hari tumbuh kuat, sedangkan hafalan yang ditinggalkan berhari-hari mudah saja memudar. Bagi keluarga yang sudah hidup di garis tipis antara cukup dan kurang, selisih ongkos yang kecil saja bisa menentukan apakah seorang anak duduk di halaqah hari ini atau tidak. Karena itulah biaya perjalanan ke markaz menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penyesuaian bantuan HAQ.
Kenaikan Biaya Program HAQ Hampir 30 Persen
Berangkat dari kenyataan di lapangan saat ini, Adara Relief sebagai inisiator dalam pelaksanaan program Hidupkan Ahlul Qur’an (HAQ) mencoba menyesuaikan bantuan bulanan untuk setiap peserta program, dari yang awalnya Rp350.000 menjadi Rp450.000. Kenaikan sebesar Rp100.000 ini setara 28,6 persen, hampir mencapai 30 persen. Keputusan ini bukan sekadar mengikuti angka di atas kertas, melainkan upaya agar bantuan yang sampai ke tangan keluarga tetap sebanding dengan kebutuhan yang mereka hadapi hari ini. Hal ini juga merupakan hasil dari asesmen tim Adara di lapangan yang berhubungan langsung dengan peserta program HAQ dan mengetahui bagaimana liuk terjalnya kehidupan di kamp pengungsian.
Ada beberapa pertimbangan di baliknya. Pertama, harga kebutuhan pokok dan energi terus mengalami kenaikan, sehingga bantuan yang sebelumnya terasa cukup kini hanya bisa membeli lebih sedikit. Perubahan itu berjalan pelan dan nyaris tak terasa dari bulan ke bulan, tapi lama-kelamaan menumpuk menjadi selisih yang nyata bagi keluarga.
Kedua, dan inilah yang paling terasa di lapangan, yaitu bantuan perlu mampu menopang ongkos perjalanan ke markaz. Bagi anak yang tinggal jauh, ongkos itulah yang menentukan apakah ia bisa hadir hari ini. Ketika biaya angkutan naik mengikuti harga bahan bakar dan jarak tempuh bertambah, bagian bantuan yang tersisa untuk kebutuhan lain ikut menyusut. Ketiga, keluarga pengungsi menanggung beban yang semakin banyak. UNRWA sendiri mencatat bahwa layanan kesehatan lanjutan, seperti rawat inap, makin sulit dijangkau pengungsi (UNRWA, 2026). Dengan ruang yang lebih longgar, orang tua tidak harus mengorbankan pendidikan anaknya demi kebutuhan yang lain.
Gambaran ini sejalan dengan bagaimana banyaknya keadaan keluarga yang mulai terdesak, dan akhirnya menjual barang-barang yang mereka miliki. Mereka pun mulai menarik anak dari sekolah, dan menunda berobat demi bertahan (Anera, 2026). Penyesuaian bantuan HAQ ini dimaksudkan agar anak-anak penghafal Qur’an tidak sampai ke titik itu.
Ada satu pertimbangan lain yang tidak bisa diukur dengan angka. Anak-anak dalam program HAQ ini bukan sekadar penerima bantuan. Mereka sedang menjaga Al-Qur’an di dalam dada, di tanah yang berkali-kali mencoba memutus hubungan itu. Menyetor hafalan dan mengulangnya, lalu memahami maknanya menuntut keistikamahan yang panjang, dan hal itu hanya mungkin bila langkah mereka ditopang. Program ini juga memfasilitasi anak-anak dalam menghafal Al-Qur’an, menyediakan lingkungan yang kondusif untuk mereka belajar Al-Qur’an dan ilmu agama, serta mengetahui asal-usul mereka sebagai pengungsi. Semua ini ditujukan sebagai persiapan mereka dalam mengembalikan Palestina ke tangan rakyatnya hingga mereka bisa kembali ke tanah tersebut.
Rasulullah Saw mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhari). Menopang seorang penghafal berarti ikut mengambil bagian dalam kebaikan itu. Semoga setiap ayat yang mereka hafal dan baca menjadi amal jariyah yang mengalir bagi siapa pun yang membantu menjaganya.







