Suasana di dalam sekolah swasta Palestina yang kosong menyusul aksi mogok belajar yang diserukan oleh lembaga-lembaga pendidikan di Al-Quds bagian timur (1/9). Kementerian Luar Negeri Palestina mendesak tindakan internasional atas pembatasan Israel, termasuk penolakan izin masuk bagi guru yang tinggal di Tepi Barat, yang mengganggu dimulainya tahun ajaran baru. [Mostafa Alkharouf/Anadolu/MEMO]Kain kafan yang memuat tulisan tangan nama-nama lebih dari 20.000 anak-anak Gaza yang terbunuh dibentangkan di depan City Hall Nort, Philadelphia, Amerika Serikat (2/9). Instalasi keliling yang diinisiasi untuk mengenang para korban anak di Jalur Gaza tersebut menarik perhatian publik internasional di tengah berlanjutnya krisis kemanusiaan. [Hasan Akbaş/Anadolu/TRT/MEMO]Suheila al-Hamamda (70 tahun) duduk bersama cucunya, beberapa jam setelah buldoser militer Israel merobohkan rumah mereka di Desa Al-Taban, Masafer Yatta, Tepi Barat (2/9). Penghancuran massal di Al-Taban dan Fakhit memaksa sekitar 70 warga, termasuk anak-anak dan lansia, tidur di ruang terbuka tanpa tempat berlindung. [Omri Eran Vardi/Activestills/ +972 Magazine]Otoritas Israel melanjutkan perluasan permukiman di kawasan Maale Arugot sebagai bagian dari perluasan agenda pertanahan pascakeputusan administratif di Tepi Barat (3/9). Data Palestina mencatat sekitar 750.000 pemukim kini menghuni 156 permukiman ilegal dan 360 pos terdepan di wilayah pendudukan, termasuk di Al-Quds bagian timur. [Wisam Hashlamoun/Anadolu/ MEMO]Pohon-pohon zaitun yang ditebang dan rusak berserakan di sebuah kebun pertanian usai digusur oleh buldoser militer Israel di Kota Arraba, Jenin, Tepi Barat (4/9). Penghancuran lahan pertanian ini merupakan bagian dari rangkaian operasi perusakan vegetasi dan properti warga di wilayah Tepi Barat yang diduduki dan berlangsung setiap tahun. [Faruk Hanedar/Anadolu/ TRT]Mohammed Salhab Al-Tamimi (60) memetik buah anggur di reruntuhan apartemen 10 lantai miliknya yang dihancurkan tentara Israel di Desa Qalqas, selatan Hebron, Tepi Barat (5/9/2026). Setelah tenda darurat tempat tinggal mereka disita militer hingga empat kali, keluarga yang terdiri dari sekitar 50 jiwa ini kini harus hidup di alam terbuka. [Mosab Shawer/ ActiveStills]Warga berkumpul di sekitar jenazah warga Palestina yang baru dievakuasi dari reruntuhan bangunan akibat serangan Israel di Zeitoun, Gaza utara, setelah hampir tiga tahun (6/9). Sekitar 100 jenazah, termasuk 60 anak-anak, dimakamkan secara massal di Pemakaman Al-Ma’madani, Kota Gaza. [Jehad Alshrafi/AP/ Al Jazeera/ MEE]Pemuda Palestina di Nuseirat, Jalur Gaza tengah, memanfaatkan lumpur, tanah liat, kayu bekas, serta lembaran kain dan plastik untuk membangun kembali rumah dan toko mereka yang hancur akibat agresi (7/9). Di tengah blokade dan kelangkaan material bangunan, warga menyusun bata buatan tangan di atas reruntuhan beton untuk mendirikan hunian darurat sebagai alternatif pengganti tenda yang sesak. [Abdel Kareem Hana/AP Photo/ Al Jazeera]Serangan udara Israel menghujani sebuah bangunan tempat tinggal di dekat Kompleks Medis Al-Shifa, Kota Gaza barat, dengan tiga buah rudal (8/9). Gempuran tersebut memicu kebakaran hebat pada bangunan target, merusak struktur di sekitarnya, serta membakar sejumlah tenda pengungsi Palestina yang berdiri di area sekitar. [Yousef Zaanoun/Activestills]Seorang pria Palestina duduk di samping sisa-sisa rumahnya yang hancur, setelah pasukan Israel merobohkan bangunan di kawasan Fakhit, Masafer Yatta, Tepi Barat selatan (8/9). Penghancuran ini merupakan bagian dari rangkaian pembongkaran yang terus mengancam keberlangsungan komunitas badui dan peternak di wilayah tersebut. [Wahaj Bani Moufleh/ Activestills]Ribuan warga Slovenia menggelar aksi unjuk rasa di bawah penjagaan ketat kepolisian untuk memprotes pembukaan kedutaan besar Israel di pusat kota Ljubljana (9/9). Para demonstran membentangkan spanduk penolakan genosida di tengah hasil jajak pendapat harian Delo yang menunjukkan bahwa 56 persen warga Slovenia menolak hubungan yang lebih erat dengan Israel. [AFP/ MEE/ The New Arab]Warga Palestina terlihat duduk di samping jenazah anggota keluarga Ahmed yang terbunuh akibat serangan militer Israel (10/9). Jenazah keempat korban, yakni ayah, ibu, serta anak-anak berusia 12 dan 8 tahun, dievakuasi dalam kondisi hancur akibat hantaman serangan udara ke sebuah rumah di kawasan Proyek Beit Lahia, Jalur Gaza utara. [AP/ Al Jazeera/ Euronews]Puluhan pemukim Israel di bawah pengawalan polisi menerobos Pemakaman Bab al-Rahma di dekat tembok timur kompleks Masjid Al-Aqsa, untuk menggelar ritual keagamaan (11/9). Aksi yang bertepatan dengan malam Rosh Hashanah ini merupakan kejadian ketiga berturut-turut di tengah meningkatnya desakan kelompok radikal Israel untuk menggelar ritual di dalam kompleks Al-Aqsa. [WAFA]Qassem Hussam ditembak oleh seorang tentara Israel di kota Faqqua, Tepi Barat yang diduduki (12/9). Insiden tersebut terjadi ketika warga desa berupaya mengadang sekelompok pemukim yang membawa ternak mereka untuk merumput di atas tanah milik warga Palestina, sebelum pasukan militer Israel datang dan melepaskan tembakan ke arah penduduk. [Reuters/ WAFA/ The Guardian]Pemukim Israel mendirikan pos terdepan baru di sebuah hutan milik Dana Nasional Yahudi (JNF) yang terletak persis di sebelah kota Palestina, Majd Al-Krum, di wilayah Al-Jalil (13/9). Kehadiran pos yang dilengkapi tenda, kandang domba, dan bendera Israel ini memicu kekhawatiran perambahan wilayah dekat tanah milik pribadi warga setempat karena polanya menyerupai ekspansi permukiman di Tepi Barat. [Oren Ziv/+972 Magazine]Ibrahim Abu Seraya (16), menderita cerebral palsy dan malnutrisi akut, di Kamp Pengungsi Nuseirat, Deir al-Balah, Gaza (14/9). Berat badannya merosot tajam hingga hanya 7,5 kilogram dan membutuhkan asupan makanan khusus. Di tengah keterbatasan ekstrem, sang ibu harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan nutrisi tersebut sembari memohon evakuasi medis internasional agar putranya dapat segera berobat ke luar negeri. [Hassan Jedi/Anadolu/ The Guardian]Arwa Ismail Qasim Masoud (20), mahasiswi teknik Palestina yang kehilangan kaki kanannya akibat serangan drone Israel pada Oktober 2024, berupaya melanjutkan studinya di kawasan Al-Fakhoora, Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza utara (15/9). Di tengah komplikasi medis berkelanjutan dan runtuhnya infrastruktur kesehatan lokal, ia tetap gigih mengejar pendidikannya sembari menanti izin rujukan medis ke luar negeri untuk merampungkan pengobatannya. [Ahmed Jihad Ibrahim Al-arini/Anadolu/ Reuters/ TRT]Sebuah bangunan tempat tinggal yang menampung sekitar 100 keluarga pengungsi Palestina di Kota Gaza runtuh dan membunuh sedikitnya 21 orang dalam tidur mereka, termasuk 11 anak-anak (16/9). Tim pertahanan sipil bersama warga setempat bergegas menggali reruntuhan dengan tangan kosong untuk mencari puluhan korban yang terjebak, meski terkendala minimnya peralatan berat. [Mahmoud Issa/ Reuters/ The Guardian/ Al Jazeera]Pasukan Israel berjaga dan memperketat pengamanan selama operasi militer di Kamp Pengungsi Ain, Nablus, Tepi Barat (17/9/2026). Operasi tersebut juga disertai dengan pembatasan ketat terhadap ruang gerak warga Palestina di area sekitar kamp. [Issam Rimawi/Anadolu/MEE]Warga Palestina menunggu di depan gerbang besi yang ditutup oleh militer Israel di pos pemeriksaan Beit Furik, Nablus, Tepi Barat (18/9). Penutupan pos militer tersebut dilakukan aparat menyusul aksi unjuk rasa pemukim Israel yang memblokade jalan, menyerang warga, dan melempari kendaraan Palestina hingga menyebabkan seorang anak perempuan Palestina tertembak. [Muhammad Nashir/ Nabd/ Reuters]Anak-anak Palestina pada hari pertama tahun ajaran baru di dalam kelas darurat di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan (19/9). Ratusan ribu anak kembali mengikuti pembelajaran tatap muka untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun di tengah keterbatasan fasilitas, sementara UNICEF melaporkan bahwa 98 persen sekolah di Gaza hancur atau mengalami kerusakan akibat perang. [Ramadan Abed/Reuters/ A Jazeera]Seorang warga Palestina di Desa Beit Ummar, utara Hebron, memeriksa mobilnya yang hangus dibakar oleh para pemukim Israel dari pos terdepan afiliasi permukiman Bat Ayin (20/9). Dalam aksi penyerangan tersebut, seorang perempuan Palestina mengalami luka-luka dan lima unit kendaraan milik warga hangus dibakar. [Mosab Shawer/Activestills]Tentara Israel meluncurkan operasi penggerebekan di Kota Biddu, Tepi Barat yang diduduki (21/9). Dalam rangkaian penggerebekan tersebut, pasukan Israel telah menahan sedikitnya 53 warga setempat, menyusul insiden penangkapan pria dari kota tersebut yang dituduh menembak mati seorang pemukim Israel. [Mohammed Torokman/ Reuters/ MEE/ The New Arab]Ibu Palestina, Ismet Subh, memasak menggunakan kompor darurat dengan bahan bakar kardus di dalam tenda pengungsian di Kota Gaza (22/9). Sementara itu, di tengah keterbatasan akses kebutuhan pokok, ia harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer setiap hari untuk mengambil air demi memenuhi kebutuhan keluarganya. [Hamza Z. H. Qraiqea/Anadolu/ Reuters]Penduduk Kota Tua Al-Khalil mengalami pengawasan dan pembatasan terus-menerus, sementara pemukim Israel menggelar aksi penyerbuan ke kawasan Kota Tua dengan pengawalan polisi (22/9) Selama penyerbuan tersebut, pasukan Israel menutup akses keluar-masuk menggunakan pagar besi dan secara ketat membatasi ruang gerak warga Palestina di area sekitar. [Anadolu/ TRT Habler]Duka menyelimuti keluarga saat melepas jenazah dua korban terbunuh akibat serangan udara Israel yang mengenai kendaraan mereka di Al-Mawasi, Khan Yunis, Jalur Gaza (23/9). Gempuran yang terus menyasar wilayah pengungsian ini telah membunuh lebih dari 1.300 warga Palestina—termasuk 301 anak-anak—sejak pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025. [Doaa Albaz/Activestills]Sejumlah delegasi negara meninggalkan ruang Sidang Umum PBB saat Benjamin Netanyahu naik ke podium untuk menyampaikan pidatonya (24/9). Hampir 70 delegasi—termasuk perwakilan dari Indonesia, Turki, Palestina, Arab Saudi, dan berbagai negara lainnya—melakukan aksi walk out atau mengosongkan kursi sebagai bentuk protes massal terhadap tindakan militer Israel di Gaza dan kawasan regional. [Anadolu/ MEE/ Al Jazeera/ NYT]Dua lapangan mini program FIFA Arena resmi dibuka di Tepi Barat, yakni di desa Marah Rabah dan Qusin (25/9). Mantan kapten timnas perempuan Palestina sekaligus perwakilan FIFA, Honey Thaljieh, berharap fasilitas ini dapat memberi ruang bagi anak-anak untuk melupakan kesedihan dan merajut asa melalui sepak bola. [Inside FIFA]Relawan bergotong-royong membongkar “Hakouratna”, sebuah lahan pertanian Palestina yang telah berdiri selama lebih dari 40 tahun di Tulkarem, Tepi Barat (26/9). Pembongkaran mandiri ini dilakukan karena khawatir akan dihancurkan oleh otoritas Israel dengan dalih terletak dekat tembok apartheid. Keluarga pemilik berhasil mendapatkan perintah pengadilan sementara untuk menangguhkan eksekusi hingga persidangan lanjutan. [Qais Omar Darwesh Omar/ Anadolu/ WAFA/ Palestine Chronicle]Petugas kepolisian berhadapan dengan demonstran yang tergabung dalam aksi solidaritas Palestine Action di luar lokasi konferensi tahunan Partai Buruh di Liverpool, Inggris (27/9). Kepolisian Britania Raya menangkap lebih dari 50 orang yang berdemonstrasi untuk mendukung kelompok Palestine Action guna memprotes kebijakan pemerintah terkait situasi di Gaza. [Oli Scarff/AFP/ BBC/ The Guardian]Tumpukan sampah dan aliran air limbah yang mengalir ke laut memperparah kondisi kehidupan di tenda-tengah pengungsi sebelah barat Kamp Pengungsi Nuseirat dan Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah (27/9). Runtuhnya sistem sanitasi dan pengelolaan air akibat kerusakan infrastruktur yang meluas kian meningkatkan risiko krisis kesehatan publik bagi ribuan warga yang mengungsi. [Adam Bilal/Anadolu/ Al Jazeera/ TRT]Sebanyak 1.222 pemukim Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds yang diduduki dalam aksi provokatif hari kedua berkedok “Hari Raya Sukot” (28/9). Eskalasi penyerbuan massal ini memperketat ketegangan di area situs suci di tengah serangkaian hari besar keagamaan yang memicu kekhawatiran atas perubahan status quo. [Gazi Samad/ Anadolu]Seorang anak perempuan berpose bersama anak-anak kucing di dekat tenda darurat yang didirikan di sekitar reruntuhan Universitas Islam di Kota Gaza (29/9). Di tengah blokade ketat dan krisis kemanusiaan yang menghambat akses terhadap kebutuhan dasar, para pengungsi berjuang untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sangat terbatas. [Mahmoud Abu Hamda/ Anadolu/ Reuters/ TRT Habler]Warga menghadiri salat jenazah untuk para korban genosida yang jasadnya baru dapat dievakuasi dari reruntuhan bangunan di depan Rumah Sakit Al-Awda, Kamp Pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza (29/9). Upacara pemakaman massal tersebut dilakukan di tengah proses pencarian korban yang terus berlanjut di antara puing-puing bangunan akibat serangan berkelanjutan. [Hassan Jedi/Anadolu/ Reuters]Relawan Palestina membantu petani memanen zaitun di Kota Gaza (30/9/2026). Dalam keterbatasan dan krisis akibat agresi yang berkepanjangan, upaya kolektif ini merefleksikan ketahanan warga dalam merawat tradisi pertanian lokal. [Majdi Fathi]
Adara Palestine Situation Report adalah dokumen ringkas dan faktual yang menyajikan perkembangan terbaru mengenai situasi kemanusiaan di Palestina. Laporan ini...