Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali menyerukan penguasaan penuh atas Tepi Barat. Ia menyatakan seluruh wilayah tersebut “milik Israel” dan berjanji akan membubarkan Otoritas Palestina jika menjadi menteri pertahanan pada periode mendatang.
Dalam wawancara dengan Channel 14, Ben-Gvir juga menyatakan akan mendorong warga Palestina meninggalkan Tepi Barat dan Gaza. Ia mengklaim 60 persen warga Palestina ingin “beremigrasi”, tanpa memberikan bukti atas klaim tersebut.
Ia juga menyatakan tidak akan membedakan Area A, B, dan C di Tepi Barat. Hal itu bertentangan dengan kerangka pembagian wilayah berdasarkan Kesepakatan Oslo 1995.
Dalam kesepakatan tersebut, Area A dan B berada di bawah tingkat kewenangan Palestina yang berbeda. Sementara itu, Israel mempertahankan kendali atas Area C, yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap Tepi Barat, termasuk Al-Quds bagian timur, sebagai wilayah Palestina yang diduduki. PBB juga menyatakan permukiman Israel di wilayah yang diduduki sejak 1967 tidak memiliki keabsahan hukum.
Selain itu, Ben-Gvir menyerukan pelonggaran aturan penggunaan kekuatan bagi tentara Israel di Tepi Barat dan Gaza. Ia mengatakan semakin besar keleluasaan tentara menggunakan kekuatan, semakin sedikit pasukan yang ia butuhkan.
Sikap tersebut muncul bersamaan dengan meningkatnya aktivitas Israel di sejumlah situs suci umat Islam. Pada 29 September, sekitar 966 pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa dan melakukan ritual keagamaan.
Pada hari yang sama, Ben-Gvir juga mengunjungi Masjid Ibrahimi di Al-Khalil (Hebron) bersama ratusan pemukim Israel. Otoritas Israel menutup masjid tersebut bagi umat Islam selama hari raya Sukkot.
Sumber: MEE







