Tiga nelayan Palestina terluka setelah kapal angkatan laut Israel menembaki perahu mereka di lepas pantai Kota Gaza pada Jumat (14/08). Insiden ini menjadi pelanggaran terbaru terhadap gencatan senjata di Gaza.
Zakaria Bakr, koordinator Komite Persatuan Nelayan di Gaza, mengonfirmasi serangan tersebut dan menyatakan bahwa para nelayan saat itu sedang berupaya mencari nafkah. Bakr menegaskan bahwa aksi penembakan semacam ini terus menjadi ancaman nyata bagi keselamatan jiwa serta kelangsungan mata pencaharian para nelayan lokal.
Sejak agresi genosida Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023, nelayan Gaza menghadapi pembatasan akses ke laut. Pembatasan tersebut terus berlangsung meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Laporan PBB pada 2 Juli menyebut Angkatan Laut Israel masih mencegah warga Gaza mengakses laut. Kondisi ini semakin memperburuk situasi nelayan Gaza yang bergantung pada sektor perikanan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Selain pembatasan akses, infrastruktur sektor perikanan juga mengalami kehancuran parah akibat agresi Israel. Kehancuran terjadi mulai dari kerusakan fasilitas pelabuhan, hancurnya kapal nelayan, hingga hilangnya berbagai peralatan nelayan. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menilai bahwa pemulihan sektor perikanan mustahil terjadi tanpa adanya jaminan akses laut yang aman bagi para nelayan.
Sejak gencatan senjata berlaku, berbagai pelanggaran Israel dilaporkan terus terjadi. Data Palestina mencatat pelanggaran tersebut telah membunuh 1.260 orang dan melukai 4.154 lainnya. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa agresi yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah membunuh 73.389 warga Palestina dan melukai 174.266 orang lainnya.
Serangan terhadap nelayan Gaza menunjukkan bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya menghentikan kekerasan. Bagi para nelayan, mencari nafkah di laut masih berarti menghadapi risiko keselamatan setiap hari.
Sumber: TRT World








