UNRWA kembali menghadapi tekanan setelah pasukan Israel menyerbu pusat pelatihan UNRWA di Qalandia, utara Al-Quds Timur, pada Selasa (30/6). Pada saat yang sama, UNRWA juga memperingatkan krisis pendanaan yang mengancam layanan bagi jutaan pengungsi Palestina. Tekanan terhadap UNRWA semakin meningkat di tengah serangan yang masih berlangsung.
Menurut Kegubernuran Al-Quds (Yerusalem), pasukan Israel menutup pintu masuk utama pusat pelatihan, memblokir jalan di sekitarnya, serta menembakkan gas air mata dalam jumlah besar. Pasukan juga tetap berjaga di dalam dan sekitar kompleks tersebut.
Penggerebekan ini terjadi beberapa pekan setelah otoritas Palestina memperingatkan rencana Israel menggusur pusat pelatihan kejuruan UNRWA di Qalandia. Israel disebut ingin membangun kompleks pendidikan baru di lahan yang telah digunakan lembaga tersebut selama puluhan tahun. Saat ini, pusat pelatihan itu melayani sekitar 350 siswa berusia 15–19 tahun.
Kegubernuran Al-Quds (Yerusalem) menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya melemahkan peran UNRWA di Al-Quds sekaligus memperluas permukiman Israel. Otoritas Palestina juga menyatakan bahwa Israel menggunakan proyek infrastruktur sebagai dalih untuk menyita tanah dan mengubah karakter demografis kota.
Di tengah tekanan itu, Kepala UNRWA, Christian Saunders, meminta negara-negara anggota PBB segera memberikan dukungan politik dan pendanaan. Ia memperingatkan bahwa UNRWA menghadapi defisit kas sebesar 100 juta dolar AS pada 2026.
Saunders menjelaskan bahwa UNRWA tetap menjadi organisasi kemanusiaan terbesar di Gaza. Sekitar 1,7 juta warga bergantung pada layanannya. Setiap pekan, lebih dari 1.300 tenaga kesehatan memberikan sekitar 80.000 layanan medis, sekaligus mengoperasikan sistem air bersih, sanitasi, pendidikan darurat, dan dukungan psikososial.
Namun, Saunders menegaskan bahwa pembatasan Israel terus menghambat operasi UNRWA. Ia meminta dunia membantu menjaga keberlangsungan UNRWA, karena lembaga itu tetap menjadi penopang utama kehidupan jutaan pengungsi Palestina.
Sumber: MEMO








