Ratusan pekerja Palestina menggelar aksi di Khan Yunis, Gaza selatan, menuntut hak atas pekerjaan, pangan, dan tempat tinggal yang hilang akibat perang. Aksi ini bertepatan dengan Hari Buruh Internasional (1 Mei), di tengah krisis ekonomi dan kemanusiaan yang kian memburuk.
Para demonstran mengecam kondisi hidup yang terus menurun dan mendesak intervensi pihak Palestina, Arab, dan internasional. Data menunjukkan ratusan ribu pekerja kehilangan mata pencaharian dan kini bergantung pada bantuan.
Perwakilan serikat pekerja, Issam Muammar, menyebut aksi ini sebagai pesan global tentang meningkatnya pengangguran, kelaparan, dan dampak blokade. Ia menyoroti hancurnya sektor produksi, terutama pertanian dan industri.
Baca juga : “74 Pekerja Palestina Terbunuh di Tengah Krisis Kerja”
Menurut Biro Statistik Palestina, pengangguran di Gaza mencapai 68% pada 2025, sementara partisipasi angkatan kerja turun menjadi 25% (dari 40% sebelum perang). Sekitar 74% pekerja kini berada di luar pasar kerja atau menganggur.
UNCTAD menyebut wilayah Palestina mengalami krisis ekonomi terdalam dalam sejarahnya, terutama Gaza yang menghadapi kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi ini diperparah dengan blokade sejak 2007 dan kegagalan implementasi kesepakatan gencatan senjata, termasuk pembukaan akses bantuan.
Saat ini, sekitar 1,9 juta warga Gaza hidup dalam pengungsian, di tengah kehancuran luas akibat perang sejak Oktober 2023 yang membunuh lebih dari 72.000 orang.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)