Sebanyak delapan balita Palestina dari Gaza, yang dievakuasi ke luar negeri untuk perawatan karena lahir prematur, telah kembali ke Gaza. Para balita ini kembali setelah lebih dari dua tahun setelah pengepungan Israel terhadap Rumah Sakit al-Shifa, tempat kelahiran mereka.
Mereka tiba pada Senin (30/03) melalui penyeberangan Rafah bersama tim dari Palang Merah Palestina yang ikut serta dalam misi kemanusiaan. Selain itu, ada juga tim perawat yang merawat para balita sepanjang perjalanan pengobatan mereka.
Para balita tersebut termasuk di antara lebih dari dua belas bayi yang dulunya berada di inkubator RS al-Shifa di Kota Gaza. Mereka kemudian melakukan perjalanan ke Mesir ketika pasukan Israel menyerbu kompleks tersebut pada November 2023.
Muneer Alboursh, Dirjen Kementerian Kesehatan di Gaza, mengunggah postingan di X, menyatakan bahwa proses evakuasi terjadi saat Israel sangat gencar melakukan penargetan langsung terhadap rumah sakit dan pengusiran paksa pasien dan staf.
Menurut Alboursh, delapan bayi tersebut ketika itu berada dalam kondisi sangat kritis dan menghadapi kekurangan yang parah dalam perawatan neonatal. Dia menambahkan bahwa hampir dua pekan setelah pengepungan Israel terhadap Al-Shifa, mereka dievakuasi dalam “perjalanan berbahaya di tengah tank dan tentara”.
Baca juga : “Mohammad Hanani: Tubuh Kecil yang Menghadapi Kebrutalan Tentara Israel“
“Hari ini… kehidupan kembali… Kembalinya mereka hari ini bukan sekadar peristiwa medis. Ini adalah kemenangan kehidupan atas kematian, dan kebenaran atas ketidakadilan,” ungkap pejabat kesehatan senior tersebut.
“Kami menghormati setiap tangan yang membantu menyelamatkan mereka. Kami menegaskan bahwa misi kami terus berlanjut… sampai tidak ada lagi anak di Gaza yang menghadapi kematian sendirian.”
Rekaman video daring menunjukkan adegan penuh sukacita saat keluarga-keluarga berkumpul kembali dengan anak-anak mereka. Sebagian di antaranya belum pernah bertemu dengan anak-anak mereka sejak lahir. Beberapa video dan gambar menunjukkan orang tua dan kerabat memeluk para balita tersebut dengan tersenyum dan menangis.
Pertemuan kembali ini terjadi lebih dari dua tahun setelah tentara Israel melancarkan penyerangan pertamanya di RS Al-Shifa, seiring dengan perluasan serangan daratnya pada akhir tahun 2023.
Selama genosida Israel di Gaza, tank dan pasukan infanteri mengepung beberapa rumah sakit di seluruh Jalur Gaza, khususnya di Kota Gaza dan Gaza utara. Para pasien dan ribuan orang yang berlindung di rumah sakit-rumah sakit ini akhirnya terpaksa keluar dengan todongan senjata. Rumah sakit yang menjadi target serangan di antaranya RS Al-Shifa, RS Al-Rantisi, dan RS Indonesia.
Sumber: MEE, Al Jazeera








